Words Have Power


"Apa yang Anda pikirkan, itulah Anda"



Penulis--mau tidak mau--harus menyakini bahwa kata-kata yang 'diciptakan'-nya memiliki daya kekuatan luar biasa. Hilangnya keyakinan itu membuat pembaca kehilangan magnet untuk bergumul dengan tulisan kita.

Kata-kata selalu diibaratkan seperti pedang bermata dua. Ia mampu menembus sesuatu yang tidak dapat ditembua oleh jarum. Dalam menulis, perhatikan kata-kata dan diksi yang digunakan: baik dan bermanfaat tidak. Sebuah buku yang berjudul "The Devil Only Know One Word". Sosok James Skinner, Mark Victor Hansen dan Roice Kruger menekankan pentingnya memilih kata-kata. Bahkan kata "tapi" yang bersifat negasi sekalipun hanya empat huruf mampu menghilangkan kekuatan kata-kata positif sebelumnya.

Dalam menulis, ada yang disebut sebagai "the world of the text" (dunia teks), "the world of the author" (dunia penulis/pengarang) dan "the world of the reader" (dunia pembaca). Ketiganya memiliki titik pusaran tersendiri, yang saling mendukung. Ketiganya jika saling terhubung, ia disebut triadik. Pekerjaan untuk mengaktifkan ketiganya lebih sulit dibandingkan diadik, yang hanya terfokus pada "rame of reference". Diadik hanya menampilkan "sender" (pengirim pesan) dan "receiver" (penerima pesan).

Eksistensi teks dan kata-kata selalu memunculkan cara kerja dengan metode "verstehen", sebuah upaya untuk memahami. Tidak saja memahami sebab kata-kata itu muncul, tetapi menembus sisi beragam; mulai pengalaman terselip seorang "sender" dan "struktur simbolis" yang dihasilkan sang author ke dunia. Penulis yang kehilangan kepercayaan terhadap ciptaannya, maka dia sejak awal sudah menghilangkan sisi "receiver" itu sendiri.

Dalam sebuah ungkapan, "thought without langguage becomes impossible and different langguage will produces different thought". Dalam aktivitas menulis dan bermain dengan teks, berpikirnya seorang penulis tidak bisa dipisahkan dari bahasa. Dan perbedaan bahasa dapat memunculkan ragam tafsir terhadap kata-kata atau teks tersebut.

Komunikasi saya dengan penulis-penulis senior, yang selalu mereka tekankan adalah tidak saja memainkan kata-kata, melainkan mampu hidup bersama kata-kata itu. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *