Tertawalah Walau Engkau Dikhianati


“Walaupun kau sakit dikhianati, tertawalah... Tertawakanlah dia yang sudah mengkhianatimu”



Elnino Mohi


Hidup setiap insan akan mengalami drama yang berbeda satu degan lainnya. Tidak ada sama, tapi bisa meniru dan meminjam spirit serta menjadikan seseorang sebagai inspirasi hidup. Dalam proses itu, setiap insan diperintahkan untuk hidup selama di dunia agar menebar perdamaian, keteduhan, kasih sayang dan selalu menebar senyum, sembari sesekali menertawakan orang-orang yang telah dibantu dan ditolong namun mengkhianati.

Tak ada satu pun manusia di dunia yang tidak pernah dikhianati, termasuk Nabi Muhammad SAW. Nabi sebagai utusan Allah, yang gerak-geriknya dalam bimbingan-Nya pun pernah dikhianati. Kisah orang-orang yang berasal dari Urainah menjadi salah satu pelajaran kita semua bahwa penkhianatan akan menimpa siapa saja.

Dalam proses penyebaran ajaran Islam, Nabi kedatangan tamu-tamu yang hendak masuk Islam. Mereka menyakini bahwa bersyahadat di depan Nabi lebih mulia. Dipandulah oleh Nabi dengan penuh kegembiraan.

Waktu terus berputar dan hari silih berganti. Mereka-mereka yang baru saja masuk Islam, mulai berbaur dengan penduduk Yastrib. Mereka mendapat bimbingan tentang keislaman dari para sahabat-sahabat Nabi. Mulai pelajaran Fikih (walau belum terbukukan tatkala itu) sampai membaca al-Qur’an. Hal-hal dasar harus dikuasai terlebih dahulu sebelum mendapatkan ilmu yang lebih tinggi.

Seiring waktu dan pembelajaran yang diterima. Tibalah waktu pengkhiatan dimulai dengan menghadapnya seorang mualaf untuk mengadukan kondisi saudaranya yang terkena penyakit cacar dan bintik-bintik di tubuhnya.

Nabi yang berjiwa besar dan selalu berprasangka baik kepada semua orang pun memanggil seorang pengembala untuk membawanya ke luar kota Madinah. Dibawalah mereka dengan sebuah Unta-Unta pilihan dan terbaik. Tanpa didampingi Nabi, mereka pun pergi bersama utusan Nabi. Dan Nabi hanya berpesan bahwa setelah semuanya sembuh, pulih dan hilang, maka kembali ke Kota Madinah. Namun ajakan utusan Nabi ditolak mentah-mentah dengan dalih takut kembali terkena cacar dan penyakit menjijikkan itu.

Keesokan harinya, tanpa disangka sama sekali, seseorang dari rombongan itu membunuh salah seorang utusan Nabi. Mayatnya pun dibuang untuk menghilangkan jejak dan Unta pilihan itu dibawa kabur.

Berita buruk ini pun sampai terdengar oleh Nabi. Nabi pun menyuruh sahabat-sahabatnya untuk melihat ke lapangan. Mereka telah mengkhianati Nabi, dan para sahabat pun akhirnya mendapatkan mereka.

Nabi yang selalu ramah pada orang lain, tersenyum kepada siapa saja, belas kasih ia terbarkan pada siapa saja dan kehangatan ia ciptakan setiap berjumpa orang lain, bahkan fasilitas terbaik ia berikan untuk kepentingan umat dan masyarakatnya. Namun perangai tanpa cacat itu masih dikhianati oleh orang lain.

Penulis pun teringat akan “dawuh” Abah Hasyim Muzadi, “Jika kamu membantu seseorang, janganlah berharap balasan darinya. Jika kamu masih berharap, maka 99 persen pasti akan kecewa. Tapi yakinlah, Allah sendiri yang akan membalas setiap kebaikan yang kamu lakukan dengan cara terbaik-Nya.”

Sebuah “dawuh” yang berasal dari pengalaman ini sama seperti pengalaman yang dialami oleh Elnino. Tapi jurus ampuh berupa “tertawalah” atau “tersenyumlah” merupakan bukti kelapangan dada dan kedewasaan dalam menyikapi dinamika kehidupan ini. Dimana umumnya manusia akan langsung memiliki siasat membalas dendam. Tapi itu bukan sesuatu yang dianjurkan oleh agama.

Al-Raghib al-Asfahani dalam Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an mengartikan khianat dengan “satu pengertian dengan nifaq, namun kata khianat memiliki konotasi curang terhadap janji dan amanat, sementara nifak berkonotasi curang terhadap ajaran agama, jadi (antara khianat dan nifak) saling melengkapi makna. Dengan demikian, khianat adalah perbuatan yang menyalahi kebenaran dengan merusak ikatan perjanjian dalam keadaan tersembunyi.”

Khianat, sebagai salah sifat yang kerap timbul dari dalam diri manusia, telah menjadi topik serius dalam Qur’an. Karena sifat itu merupakan kebalikan dari kefitrian manusia sebagai mahluk sosial dan saling tolong menolong. Sifat itu sangat keras dilarang oleh Allah SWT karena dari sifat itulah potensi disharmonisasi dalam kehidupan bermasyarakat akan tercipta dan mampu merenggangkan tali rajutan persahabatan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (Qs. al-Anfal [8]: 27).

Ayat tentang khianat itu berhubungan secara vertikal dan horizontal. Tiga aspek khianat yang paling sering dilakukan oleh manusia. Dalam konteks kepada Allah dan Rasul-Nya, seseorang kerap berkhianat dalam konteks pengabaian perintah dan larangan yang mesti dijauhi seseorang. Adapun kepada manusia, sesuatu yang diberikan, baik secara material atau imaterial dan dipercayakan kepadanya namun diperuntukkan untuk maksud dan tujuan yang berbeda.

Menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya, berpotensi seseorang masuk ke dalam ruang kemunafikan. Sebagaimana sindiran hadis Nabi. “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yakni apabila ia berbicara, berdusta. Apabila berjanji, menyalahi. Apabila diberi amanat, berkhianat” (HR. Bukhari).

Hadis tersebut secara eksistensial sebagai afirmasi dari sebuah ayat, “Dan jika engkau (Muhammad) khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlahperjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat” (Qs. al-Anfal [8]: 58).

Jika pada ayat sebelumnya berbicara tentang pelarangan sifat khianat, maka seseorang yang ingin bekerjasama dengan orang lain, maka pada ayat berikutnya dianjurkan untuk menaruh kewaspadaan. Sebagaimana yang pernah dilakukan Nabi saat membuat Piagam Madinah di Yatsrib. Perjanjian demi perjanjian ia lakukan dengan menaruh satu sikap: kewaspadaan. Kewaspadaan bukan berarti tidak menaruh kepercayaan, melainkan sebuah sikap yang lebih berhati-hati dalam membangun kerjasama.

Artinya, Nabi telah memberikan panduan bahwa perbuatan ini telah terjadi sejak era kenabian. Misalnya, pengkhiatan yang dilakukan oleh kafir Quraisy. Dan dampak dari perbuatan ini, tidak saja berpengaruh pada aspek teologis, historis dan sosiologis, namun aspek psikologis seseorang yang sering berbuat khianat akan sangat berbahaya.

Dari sinilah kita bisa mengambil pelajaran bahwa kedewasaan dan kebijaksanaan dalam menahkodai kehidupan ini diperlukan saat menghadapi situasi-situasi yang menyalahi kefitrian dan keinginan kita. Karena tidak mungkin hidup ini akan berjalan mulus. Kedewasaan seseorang akan tampak saat mengalami sebuah masalah dan cara mengatasinya. Misalnya, dikhianati. Ia akan membalas dendam atau menertawakan dan tersenyum padanya. Semoga kita semua terhindar dari sifat tercela, yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *