Teguhkan Jalanmu: Seni Bertasawuf dalam Meniti Jalan Kebenaran

Kehidupan di dunia ini, permainan yang sudah diatur oleh Sang Pencipta. Semua yang tampak di muka bumi ini adalah bukti ke-Maha Kuasaan-Nya. Sebelum manusia diciptakan oleh-Nya, ruh setiap manusia dipanggil oleh-Nya dan dimintai pertanggung jawaban. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Qs. al-A’râf [7]: 172).

Panggilan pertama kali dari Allah dalam proses kehidupan manusia, mengisyaratkan bahwa hidup ini bukan sekedar permainan biasa. Semuanya diikat oleh pertanggung jawaban; gerak gerik, ucapan, tindakan, keputusan dan seluruhnya diikat oleh tanggung jawab, yang semuanya akan diadili oleh Sang Maha Adil di akhirat kelak. Tiada satu pun yang terlewati. Apa-apa yang bisa bicara di dunia, akan ditutup rapat. Apa-apa yang tida bisa akan diberikan kemampuan untuk berbicara, sebagai saksi nyata. Dan istiqamah menjadi bekal manusia agar selalu dijalan-Nya yang benar. Setidaknya, meminimalisir kesalahan-kesalahan di dunia untuk meraup ragam pahala.

Mengolah hati sebagai tempat makrifat. Yang kecerdasannya lebih tajam dan dalam dari kecerdasan abstrak (otak). Dengan bekal istiqamah beribadah, hati akan menjadi lembut, tampil jiwa penuh kasih sayang. Dalam diri seorang salik, kebersihan hati dari prasangka buruk, menjadi pintu masuk ketersingkapan isi alam semesta. Kewajiban seorang salik, mempersiapkan diri dari pengolahan diri dari pengosongan terhadap sifat-sifat tercela (takhalli), menimbun sifat tercela itu dengan sifat terpuji (tahlli) dan konsistensi pada tahap kedua, membawa salik pada tahapan tajalli (tersingkpnya tabir).

Jadi, buku ini bernuansakan tasawuf, yang menekankan pentingnya meneguhkan hati dan beristikamah dalam beribadah agar menggapai ketakwaan hakiki dan sejati. Di samping menjelaskan pentingnya istikamah dan mengolah hati, buku ini juga memberikan panduan keteguhan diri serta tahapannya dalam beristikamah. Di dalamnya juga diuraikan contoh para salafus saleh terdahulu dalam meneguhkan jalan yang ditempuhnya, disertai dalil dari Al-Quran dan hadis.

Pemesanan Klik: Nama_Alamat Lengkap_No Tlp
 

“Menapaki jalan para bijak itu mensyaratkan istiqamah sebagai kendaraannya. Tuhan telah memandu para pecinta untuk kokoh di garis yang lurus dan menapakinya sampai tuntas. Buku “Teguhkan Jalanmu” ini mengupas tuntas titian para penapak jalan dalam menggapai Ilahi Rabi. Selamat Membaca!. ”

Nadirsyah Hosen (Rais Syuriah PCI NU Australia, New Zealand & Dosen Senior Monash Law School)


 

Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *