Tafsir "Qawwamuna 'ala al-Nisa" Perspektif KH. Hasyim Muzadi (2)

“Banyak manusia memperbincangkan tentang perempuan bahwa mencintainya adalah sumber petaka. Sebenarnya bukan pada mencintai perempuan yang menjadikannya petaka, namun mendekati seseorang yang “tidak” mencintai perempuan itu yang menjadikan turun bencana.”
---Imam Syafi'i


Pada edisi sebelumnya, penulis memaparkan tafsiran KH. Hasyim Muzadi tentang "tanggung jawab" laki-laki kepada perempuan yang basis utama pemikirannya pada ayat "Qawwamuna 'ala al-Nisa" dalam al-Qur'an. Di mana, umumnya masyarakat Indonesia melihat bahwa perempuan tunduk di bawah kepemimpinan laki-laki. Landasan umum yang digunakan adalah surah al-Nisa' [4]: 34, "Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian lainnya..."

Ayat inipun, menurut abah Hasyim, sering dilihat dalam kerangka berpikir atas-bawah. Laki-laki selalu di atas dan perempuan selalu di bawah. Namun, abah Hasyim tidak menafikan adanya pendapat yang melarang bagi perempuan untuk menduduki semua bentuk kepemimpinan yang melibatkan laki-laki di dalamnya. Bahkan abah pun tidak menihilkan, adanya streotipe yang dibentuk: kelebihan secara fisik maupun psikis sebagian besar laki-laki, cenderung disimpulkan pembenaran larangan itu. Maka pada edisi kedua ini, penulis memaparkan seputar "masalah kepemimpinan".

Adanya pergeseran makna yang jauh: dari "tanggung jawab menuju penguasa" berakibat pada dua hal, yaitu: terjadi banyak "gugatan" dan perjuangan emansipasi secara berlebihan, yang ditandai dengan pergeseran dari "keserasian" menuju "persamaan". Abah Hasyim tidak menafikan, laki-laki dan perempuan memiliki keunggulan masing-masing, tetapi menuntut "persamaan" secara berlebihan, sebagaimana istilah yang diungkapkannya pada pengarahan ketua PBNU dalam acara Silaturahmi Pengurus Ranting NU se-Malang Raya & Pasuruan, layaknya "ikan yang ingin keluar dari airnya (tempat tinggalnya, pen). Padahal air adalah kodrat ikan untuk terus hidup." Maksudnya, menuntut mempersamakan secara keseluruhan derajat laki-laki dan perempuan merupakan kesia-siaan belaka. Sebab, Allah sudah mengatur sedemikian rupa untuk dinikmati bukan disesalkan adanya.

Dalam Qur'an, di samping perempuan harus dimuliakan, laki-laki tidak boleh semena-mena "memperlakukannya". Banyak di masyarakat, pencarian legitimasi dari hadis, "lan yufliha qaumun walau amrahum imra'atan", tanpa mencermati konteks pembicaraan Rasulillah Muhammad Saw kala itu, yang sebenarnya ditujukan kepada bangsa Persia sewaktu mengangkat putri raja Kisra sebagai penguasa baru mereka. Bahkan diperparah, larangan perempuan menjabat sebuah "bangku" dengan dalil dalam yurisprudensi Islam tentang "al-Imam al-A'dham". Padahal, misalnya menjadi presiden, bahwa konsep itu tidak sepenuhnya bisa diterapkan dalam posisi presiden. Sebab dalam menjabat presiden, ia harus berbagi tugas dan fungsi dalam lembaga tinggi negara lainnya serta posisinya berada di bawah MPR.

Sebagaimana tafsiran awal, dalam kasus keluarga, tetap laki-laki adalah pemimpin untuk istri dan anak-anaknya. Tetapi perlu diingat bahwa ayat dalam surah al-Nisa' adalah bertopik "tanggung jawab" yang diawali okeh "ketaatan". Baik ketaatan kepada-Nya maupun ketaatan untuk tidak menyalahi prinsip dan akad diawal pernikahannya.

Mengapa demikian? Sebab, Islam tidak mengingkari adanya kesetaraan laki-laki dan perempuan. Namun, kesetaraan dituntut untuk memperhatikan keseimbangan secara proporsional, agar rasa keadilan lebih terjamin. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia lebih mengenal istilah "keserasian gender" ketimbang "kesetaraan gender". Dalam kasus ini, abah Hasyim mencontohkan, laki-laki dan perempuan layaknya pasangan sandal. Keduanya bisa berjalan beriringan tetapi tidak mesti sama. Itu sebabnya, Qur'an menggunakan istilah "azwajan", yakni berpasangan.

Sebagaimana pesan diawal, keserasian bisa tercipta manakala laki-laki dan perempuan sama-sama mencintai. Termasuk dalam berkeluarga. Saling menghargai dan memahami kodrat dan posisinya. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *