Tafsir "Qawwamuna 'ala al-Nisa" Perspektif KH. Hasyim Muzadi (1)

Laki-laki harus bertanggung jawab, hubungannya dalam seksual, keluarga dan laki-perempuan. Posisi laki-laki adalah "qawwamuna 'ala al-Nisa" (menegakkan hak-hak wanita). Laki-laki (dalam ayat itu) bukan penguasa. Sebab lain hal, banyak laki-laki yang "nakal" (menyelewengkan makna sejatinya, menggeser dari "qawwamuna" menjadi "qoimuna"; dari "qawwamuna' ala al-Nisa" menjadi "maliku al-Nisa"; dari "tanggung jawab" menjadi "penguasa").

?????????? ??????????? ????? ??????????? ????? ??????? ??????? ?????????? ?????? ?????? ???????? ?????????? ???? ?????????????? ??????????????? ?????????? ?????????? ??????????? ????? ?????? ???????? ?????????? ?????????? ???????????? ???????????? ??????????????? ??? ???????????? ???????????????? ?????? ???????????? ????? ????????? ??????????? ????????? ????? ??????? ????? ???????? ????????


Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar

Akhirnya, yang dituntut laki-laki adalah KETAATAN. Padahal TANGGUNG JAWAB harus lebih dulu ada dari KETAATAN dan KETAATAN berjalan seiring dengan tingkat TANGGUNG JAWAB. Ketika tanggung jawab penuh maka ketaatan perempuan pun penuh. Sebaliknya, jika tanggung jawab laki-laki menurun, maka hak perempuan mempertanyakannya. Jika sampai berkali-kali, tanggung jawab terus menurun dan pada posisi "drop" maka perempuan dibolehkan mengambil haknya kembali dari laki-laki yang mengikatnya.

Mengapa demikian? Sebab Islam memuliakan perempuan. "Ma akrama al-Nisa' illa karimun wa ma ahanahunna illa la'imun" (Tidaklah yang menghormati perempuan-perempuan kecuali orang mulia. Dan tidaklah yang menghinakan perempuan kecuali orang yang hina pula).

Laki-laki dan perempuan bukan persoalan tinggi-rendah, melainkan sama-sama diberikan kelebihan dan penonjolannya masing-masing. Misalnya, laki-laki lebih cepat mengambil keputusan sedangkan perempuan lebih teliti mengambil keputusan.

Yuk, muliakan perempuan sebagaimana laki-laki ingin dimuliakan. Sebab disitulah keimanan teruji, ketakwaan berbicara dan kesalehan terfaktakan. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *