Syukur dalam Al-Qur’an

Syukur, lawannya kufur, merupakan tema sentral dalam Qur’an. Bahasan syukur pun tak luput dari ikatan murni dengan Allah. Ekspresi syukur pun harus selaras dengan perintah-Nya. Quraish Shihab, kosa kata “syukur” yang direkam dalam Qur’an (yang berasal dari kata “syakara”) memiliki makna pujian dan kebaikan. Kedua makna ini syarat akan ekspresi yang meluap dari dalam diri seseorang ke permukaan. Eksistensi nikmat yang datang dari-Nya, bagi orang-orang yang bersyukur akan tampak dalam laku dan perbuatannya. Sedangkan, kekufuran adalah menyembunyikan ekspresi tersebut menjadi non-eksistensial.

Dalam Bahasa Arab, syukur erat kaitannya dengan kebaikan yang diterima seseorang, kepenuhan akan kenikmatan dan (umumnya) sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon. “... Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia" (Qs. Al-Naml [27]: 40). Ayat tersebut syarat akan ke-maujud­-an syukur. Ujian dari-Nya (dalam bentuk apapun) adalah sarana pendewasaan dalam beragama. Apakah manusia konsistensi dan menjadikan syukur sebagai ritualitasnya. Pemberian dari-Nya, tidak lagi diukur dalam hitungan matematika, melainkan kemasalahatan dan kebergunaan akan pemberian dari-Nya.

Sampai-samapi, Nabi pernah bersabda: “Allah senang melihat bekas nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya.” Aktualisasi dari eksistensi syukur termanifestasikan: secara esoterik yang terasa dalam bentuk kepuasaan, terucap oleh lidah dengan bentuk memujinya dan implementasi dalam tindakan. Ketiganya tak terpisahkan, sekalipun memiliki fungsi yang berbeda. Sebab, Allah—yang dalam Al-Qur’an dinisbatkan dengan istilah “syakur”—akan membalas ketiganya, sebab menerapkannya adalah wujud ketaatan seseorang.

Manusia yang tak pandai bersyukur pada manusia lain, ia sama saja tidak pandai bersyukur kepada-Nya. Mengapa? Sesuatu yang diberikannya mensyaratkan akan eksistensi ke-Maha Baikan Allah kepada hambanya. Perbuataan kebaikan yang terbukti menghantarkan dirinya “saleh secara pribadi dan saleh secara sosial” adalah wujud keridhaan-Nya. Dunia memang tak bisa dipisahkan dari kejahatan yang bersifat non-eksistensial, tetapi kebaikan dan kejahatan bukan berasal dari dua sumber. Kebaikan, dalam konteks ini syukur, merupakan wujud kebersungguhan manusia dalam menerima konsekuensi dirinya sebagai khalifah. Tetapi kebaikan yang “maujud” itu, akan hilang manakala jiwa sedang tidak berstamina dan keimanan sedang rontok dan layu (seperti pepohonan umumnya).

Syukur, sebagai konsekuensi logis keberagaman pun, bisa tinggal catatan tak bermakna, jika manusia sudah dipenuhi oleh kerakusan dan memandang dunia adalah kebutuhan mendasar dalam hidup ini. Konsepsi “syukur itu membuat setan dan iblis tidak senang”, hanyalah obrolan kaum teologi semata.

Maknaya adalah cara mengikat syukur—sebagaimana yang tertera dalam Qur’an—mengisi wadah dengan kebajikan. Kebajikan adalah benih dan buahnya adalah syukur itu sendiri. Kebajikan yang menjadi ritualitas, dapat dipastikan akan melahirkan rasa syukur kepada yang Maha Kuasa, Allah SWT. Tak ada syukur tanpa kebaikan dan tak ada kebaikan tanpa aktualisasi dari ke-maujud-an syukur.

Doa yang kerap dipanjatkan seorang Muslim, “Allahumma a’inni ’ala dzikrika wa syukrika wa husni ’ibadatik; Ya Allah, bantulah aku untuk selalu berzikir kepada-Mu, selalu bersyukur kepada-Mu dan perbaikilah ibadahku kepadaMu” adalah bukti ketaatan (juga) kepada-Nya. Sebab, kisah-kisah syukur dalam Qur’an, tak bisa dilepaskan dari kisah-kisah para nabi, seperti Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Isa, Nabi Musa, Nabi Sulaiman, Nabi Muhammad dan lainnya.

Kisah Nabi Sulaiman, saat ditanya tentang kemulian dalam hidup di dunia, Nabi Sulaiman menjawab: “semua kemulian ini dari-Nya”. Jawaban penuh makna ini, mendedahkan kepada kita bahwa Allah sebagai tujuan akhir dari segala-galanya tak boleh bergeser oleh kepemilikan sementara yang menempel pada diri yang fana.

Janji Allah atas hamba yang bersyukur berupa penambahan nikmat, bukanlah ilusi semata, melainkan janji yang bersifat mutlak, sebagai bentuk keadilan Ilahiyah. Berbeda dengan manusia, berbeda di lisan dan berbeda di hati. Syukur bisa menjadi pegangan hidup di dunia untuk dipanen di dunia dan akhirat kelak hari. Bersyukurlah atas apa yang didapatkan dan sesuatu yang didapat (hal-hal positif) adalah pemberian dari-Nya. Pemberian itu harus dibalas, setidaknya dengan bersyukur dan mengucapkan “alhamdulillah” kepada manusia dan kepada Allah SWT.

SUDAHKAH KITA BERSYUKUR HARI INI?
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *