Sudahkah Izin Sama (yang) Punya Al-Qur’an?

Pada tahun 2011, abah Hasyim Muzadi (HM) sebelum mendirikan kampus Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al-Hikam Depok, telah di datangi oleh seorang kiai sepuh (KS). Percakapan yang sempat meneteskan air mata para penghafal Al-Qur'an yang baru saja berdatangan. Saat itu, santri yang baru datang berjumlah 39 orang dan satunya keesokan harinya. Santri yang berjumlah 40 orang itu berasal dari seluruh penjuru Indonesia, termasuk saya yang ber-KTP Gorontalo. Di antara semua santri yang sejak kecil sampai besar mengeyam di pondok pesantren, saya lah yang SMP dan Aliyah-nya tidak total "nyantren".

Sebagai seorang perantau dan "tukang" keluyuran keliling Indonesia, tentunya membuat jiwa menjadi tahan banting, bahkan sangat jarang menangis. Namun saat abah menuturkan prosesi dan dialog antara dirinya dan gurunya, membuat meneteskan air mata saya, mungkin para hadirin semua. Sekalipun sudah menghafal Al-Qur'an sedari kecil, saya belum pernah menerima renungan dahsyat tersebut. Dalam sambutan sebagai perwakilan "sahibul bait", abah membacakan percakapan itu:
KS: “Apa benar, kau mau mengurusi Qur’an?.”

HM: “Betul, kiai.”

KS: “Mana kurungannya (pondoknya)?.”

HM: “Ini kiai (sambil menunjuk gedung Al-Hikam Depok).”

KS: “Kogh bagus sekali.”

HM: “Iya, tapi masih bagus Qur’annya, kiai.”

KS: “Sudah ada burungnya (santrinya)?.”

HM: “Sudah ada, 40 orang, kiai.”

 

Namun, ada satu pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya, yaitu:

KS: “Kau mau ngurusi Qur’an, apakah sudah permisi pada yang punya Qur’an?.”

HM: ia diam dan termenung. Seraya berucap: “Semoga Allah mengizinkan kita mengurusi Qur’an dan meridhanya. Dan kita tidak menodainya. Semoga kita lurus karenanya.”

Kisah dialog religius itu, juga menjadi sendirian keras pada kita semua. Bahwa terkadang kita, mengaku sebagai umat Muslim dan memiliki kitab suci Al-Qur’an, namun kerap menodainya, bahkan tak jarang, kita kerap memperlakukan Al-Qur’an seperti koran. Di taruh di bawah dan sejajar dengan kaki, sama seperti koran. Di pajang di atas lemari sampai berdebu dan tak pernah disentuh. Kita kerap memperlakukan Al-Qur’an tidak sebagaimana mestinya. Alih-alih untuk permisi pada zat pencipta kalam luhur itu.

Seharusnya kita merengkuh Al-Qur’an dengan erat. Kita baca Al-Qur’an dalam shalat semampu kita, sebagai sarana dialog bersama-Nya. Kita bawa nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, sebagai bentuk keimanan kita pada Al-Qur’an. Kita sampaikan isinya pada siapapun, tanpa merubah dan mempolitisasi ayat-ayatnya, sebagai bentuk upaya menjaga kesuciannya.

Syaikh Said Ramadhan Al-Buthi dalam kitabnya La Ya’thihil Bathil (2008) mengatakan: “Anda dapat mengetahui bahwa Anda melihat Al-Qur’an tak ubahnya bagaikan melihat matahari yang terang dan bercahaya. Al-Qur’an berjalan di depan mata di bawah kubah langit yang jernih, tidak diliputi awan yang menutupi, dan tidak ada badai atau kabut yang menghalangi Anda. Sehingga dapat mendistorsi sifat-sifatnya.”

Pertanyaannya: sudahkah kita mengimani Al-Qur’an? jika belum. Masih ada kesempatan untuk menggapai kemuliaan-Nya dari Al-Qur’an. Dan semoga dari percakapan tersebut membuat kita semakin mampu membawa Al-Qur'an ke dalam semua aspek kehidupan tanpa harus mempolitisasi dan merendahkan derajatnya. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *