Serambi Madinah: Antara “Kembali Pada” dan “Berangkat Dari” Qur’an

Gorontalo, saya ibaratkan seperti berandanya Madinah, kota sucinya umat Islam, sekaligus kota penerang dan pencerah bagi masyarakat yang membutuhkannya. Sebagai berandanya Madinah, maka Gorontalo harus memiliki konsep “reformasi bumi”, sebagaimana yang tertuang dalam Qur’an. “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (Qs. Al-A’râf [7]: 56).

Dalam sebuah perbaikan menuju masyarakat yang religius, dibutuhkan semangat beragama yang baik. Dalam pemikiran sederhana itu, Serambi Madinah sebagai produk yang lahir dari rahim filosofi Gorontalo, “Filosofi Adati Hula-Hulaa to Syara’a, Syara’a Hula-Hulaa to Qur’ani—yang merupakan konsensus terakhir leluhur Gorontalo dan dipakai hingga kini—mengajak masyarakat bukan dalam konteks “Back To Qur’an”, melainkan “Berangkat Dari Qur’an dan Sunnah” menuju masyarakat yang berdialektika, berkeadaban, berkeluhuran dan berkeprimanusiaan.

Dari “berangkat” dan bukan “kembali” itu merupakan sebuah keniscayaan. Dimana filosofi yang merupakan hasil dialektika seorang raja dengan ragam teks agama dan konteks yang melingkupinya kala itu (interpretation as a product) masih membutuhkan sesuatu yang bersifat keberlanjutan. Diperlukan upaya interpretation as a process (tafsir yang terus berporses), agar terjadi aktivitas berpikir yang terus berlanjut untuk mendialogkan filosofi itu agar tetap kontekstual di segala zaman. Sebagaimana kaidah agama agar tetap shâlihun li kulli zamân wa makân (kontekstual di segala waktu dan tempat).

Agar tetap kontekstual itulah, kehadiran wujud Serambi Madinah di Gorontalo yang di dalam dirinya menganut empat sistem kerja dalam mengejawantahkan sebuah konsep, berupa fiqhu al-Ahkam (fikih hukum), fiqhu al-Da’wah (fikih berdakwah), fiqhu al-Tasawuf (fikih tasawuf) dan fiqhu al-Siyasah (fikih politik), membutuhkan dialektika inter-tekstualitas dan inter-kontekstualitas guna membuka peluang kepada masyarakat Gorontalo dalam merengkuh pemahamannya terkait hal-hal yang tersirat. Yang itu bisa dilakukan bisa dengan pembacaan yang reflektif maupun inensional.

Baca Juga: Evolusi Penafsiran Al-Qur’an

Gerakan “Kembali Pada Qur’an”, dalam sepanjang sejarah, kerap melahirkan wajah-wajah yang berbeda dengan tradisi keilmuwan Islam klasik yang terkristal pada konsep gradual dalam pengambilan hukum yang “muttafaq alaihi” (yang telah disepakati ulama-ulama Fikih), seperti Qur’an, Sunnah, Ijma’ (konsensus) dan Qiyash (analogi).

Slogan “Kembali Pada Qur’an” ini juga tidak memiliki semangat yang sama dengan ruh Serambi Madinah dan filosofi Gorontalo. Sebagai sebuah slogan yang lahir dari kelompok ultra konservatif dkk itu, kerap pula membid’ahkan tradisi dan praktik keagamaan status quo. Sebuah sikap yang dalam praktiknya selalu memberikan solusi dengan slogan “Back To Qur’an”, tentunya menurut interpretasinya bukan intrerpretasi mayoritas kaum Muslimin. Lebih-lebih jika slogan “Back To Qur’an” itu masih dipengaruhi oleh emosi perlawanan kepada negara-negara yang secara keilmuwan dan penelitian berada di posisi atas dari Saudi Arabia. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Syaikh Wahhab dalam melawan otoritas politik Khilafah Turki Utsmani. Di mana Najd saat itu tidak pernah menjadi sumber utama dalam hal-hal keilmuwan dan lain sebagainya.

Kritikan kepada slogan di atas cukup menjamur, salah satu kitab mutakhir yang populer adalah Min Islâmi al-Qur’ân ilâ Islâmi al-Hadîs (Dari Islam Model Qur’an Menuju Islam Model Hadis) karya George Tharabisi. Mengapa? Secara sederhana, slogan itu yang disambut meriah oleh generasi milenial yang menyukai sesuatu serba instan, tentunya tidak membutuhkan pembacaan mendalam dari ragam teks-teks klasik dan perangkat keilmuwan lainnya, melainkan hanya membuka terjemahan Qur’an dan terjemahan hadis-hadis.

[caption id="attachment_1220" align="aligncenter" width="205"]                  ???? ???????[/caption]

Ini menjadi problem mendasar belakangan ini dari fenomena hijrah di kalangan milenial. Mengapa? Qur’an sebagaimana kita ketahui bahwa ayat-ayat Qur’an tidak semuanya memiliki asbâbu al-Nuzûl (latar belakangan sebuah teks diturunkan). Sebagaimana hadis menuntut seorang pembaca untuk memahami asbâbu al-Wurûd (latar belakang konteksnya). Dan referensi intelektual-historis yang cukup sulit itu dan terbatas itu menyulitkan generasi milenial yang memiliki semangat beragama tapi malas dalam menggali keilmuwan-keilmuwan klasik, apalagi membandingkannya dengan keilmuwan-keilmuwan modern.

Baca Juga: Memikirkan Kembali Porsi Keagamaan di Gorontalo

Wajar kiranya, Ibnu ‘Uyainah menyatakan “hadis menyesatkan kecuali bagi fuqaha”. Dalam hal ini, Ibnu ‘Uyainah memaksudkan bahwa segala sesuatu dan meninterpretasikannya membutuhkan perangkat lainnya. Dalam hadis, hal-hal yang berkenaan dengan hukum, membutuhkan perangkat ilmu Ushul Fikih dan Fikih itu sendiri, dan lain sebagainya. Dalam al-Qur’an, misalnya, banyak problem-problem penafsiran yang membutuhkan perangkat lainnya. Misalnya, ayat Qur’an yang terdapat dalam surah al-Mu’minun [23]: 99, (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Kata “kembalikanlah” jika ditafsirkan secara normal, seseorang akan menganggap bahwa yang dimaksud adalah lebih dari seorang diri. Tapi ternyata tidak, perangkat berupa Ilmu Balaghah mengatakan bahwa penggunaan kata banyak pada ayat itu bermakna seorang walaupun menggunakan redaksi lebih dari satu orang.

Oleh karena itulah, Syaikh Said Ramadan al-Buthi—angumentator handal dari Sunni—menulis buku dalam menelanjangi paradigma “Back To Qur’an”, dengan judul al-Lâmadzhabiyyah; Akhtaru Bid’ah Tuhaddidu al-Syarî’ah al-Islâmiyyah atau belakangan saya melihatnya dengan versi terjemahan dengan judul Menampar Propaganda ‘Kembali kepada al-Quran’: Keruntuhan Argumentasi Paham Anti Mazhab dan Anti Taqlid. Dalam buku ini mengisyaratkan bahwa dalam beragama, terbagi menjadi dua bagian: orang yang mengerti dalil dan menguasai istinbhâtu al-Ahkâm (mengeluarkan sebuah hukum), yang dengannya ia bisa mengeluarkan sebuah keputusan berdasarkan al-Qur’an dan sunnah serta perangkat ilmu lainnya; dan ada yang tidak mengerti cara menggali dalil-dalil agama, dan karena itulah dia bertaklid atau mengikuti seorang mujtahid.

[caption id="attachment_1221" align="aligncenter" width="222"]            ???? ???? ????? ??????[/caption]

Maka semangat “Back To Qur’an” bisa menjadi ‘blunder’ untuk masyarakat Gorontalo, khususnya yang berkenaan dengan hal-hal agama. Seseorang untuk mendapatkan hakikat tersurat dan tersirat dalam sebuah teks, setidaknya dia harus memahami dan menguasai lafaz yang sudah jelas maknanya—seperti lafaz al-Zahir, al-Nash, al-Mufasar dan al-Muhkam, dan ada yang lafaz yang tidak jelas maknanya—meliputi al-Khafi, al-Musykil, al-Mujmal dan al-Mutasyabih. Belum lagi seorang yang langsung menyentuh teks-teks Qur’an dan hadis dituntut untuk: memahami artinya, orientasi teks, kandungannya dan gaya bahasanya.

.Baca Juga: Membangun Spirit Beragama

Diakhir coretan sederhana ini, saya mengingatkan kembali bahwa Serambi Madinah sejak semula tidak menggunakan redaksi “kembali”, melainkan redaksi “bersendikan”, “berpegang” dan “berlandaskan”. Maksudnya, semangat masyarakat Gorontalo dalam segala aktivitas harus dimulai dengan bimsillâh dan semangat dari nilai-nilai Qur’an melalui penjabaran-penjabaran ulama, sebagaimana yang telah dituangkan oleh para imam mazhab dan ulama-ulama lainnya.

Seseorang tidak mungkin menyentuh al-Qur’an tanpa perangkat lainnya. Karena teks-teksnya yang begitu dalam dan tinggi tidak mungkin disentuh oleh orang-orang yang tidak memiliki kapasitas keilmuwan yang mumpuni, kecuali sekedar membaca sebagai bagian kewajiban seorang Muslim. Semangat “berangkat dari” Qur’an dan sunnah—sebagaimana yang saya maksud—agar pola beragama kita lebih kontekstual, tidak jumud, tekstual dan rigid. Bersambung...!
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *