Sebuah Rumah Tanpa Pintu

Di penghujung safara-ku sebagai seorang musafir, kutemukan beraneka nama untuk sebuah bangunan yang bernama rumah (bait, dar, sa’o, tongkonan); ada bait Allah; ada Dar Al-Salam; ada Dar Al-Islam; ada rumah adat atau rumah budaya. Ada rumah yang memiliki pintu namun sulit dibuka; ada yang  pintunya selalu terbuka. Tapi ada banyak rumah yang tak memiliki pintu. Metafor Rumah Tanpa Pintu, baik sebagai karya tulis maupun sebagai pola pikir/pemahaman iman dari seorang cendekiawan muda sekaliber sahabatku Muhammad Makmun Rasyid, sungguh memberi inspirasi.

Pertama, karena dia merujuk pada pengalaman Soekarno selama masa pembuangan di Ende, yang menulis Surat-Surat Islam dari Ende (1934), dengan nuansa utama toleransi antarumat beragama dan penolakan atas bentuk pemerintahan Khalifah diterapkan di Indonesia. Kedua, karena dia merujuk pada KH Mahmud Eka, fundator Pesantren Walisanga, yang  terbuka dan inklusif sebagaimana dilambangkan oleh sebuah musola di jantung pondok yang tanpa dinding, tanpa jendela dan tanpa pintu. Musola Tanpa Pintu itu melambangkan keterbukaan dan kerukunan para warga Pesantren dengan umat beragama lain, khususnya dengan Kongregasi Societas Verbi Divini (SVD) yang sejak 1998 setiap tahun mengutus frater (calon imam) untuk ikut mendidik para santri. Ketiga, karena dia juga merujuk pada realitas dan pengalaman hidup umat beragama (Kristen dan Muslim) di Ende, Flores, dan NTT sebagaimana terekam sekilas dalam beberapa publikasi kami.

Tapi diatas segalanya, buku ini patut dibaca karena merupakan buah ijtihad seorang muhafiz muda dan penulis “Kemukjizatan Menghafal Al-Quran” (2015) yang memiliki pengalaman spiritual, sosial, pendidikan formal dan non-formal yang unik serta berwawasan terbuka. Dengan membaca buku ini, saya sendiri pun menyadari bahwa safara-ku semakin didekatkan pada Bait Allah atau Dar Al-Salam yang pintunya senantiasa terbuka  menyambut insan yang beraneka imannya. “Allah telah menciptakan kita sebagai umat yang beraneka ragam, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan; hanya kepada-Nyalah kembalinya kita semua” (bdk. Q. 5, 48).

 

Dr. Philipus Tule, SVD

Penulis buku Mengenal dan Mencintai Muslim & Muslimat - Penuntun Bagi Para Pembaca non-Muslim
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *