Sebuah Rumah Tanpa Pintu


“Agama bukanlah pedang dan tembok pemisah, sebagaimana dikira banyak orang. Semua agama mengajar para pemeluknya untuk menghormati kebenaran, keadilan, damai dan lain-lain, yang ujung-ujungnya tertuju kepada kemanusiaan"


H. Mahmud EK



Islam—sesuai fitrahnya—adalah agama yang lembut, mampu melintas batas menerobos prasangka, menyukai kedamaian dan memelihara "kebaikan tertinggi" Tuhan. Manusia yang beragama, tetapi tidak sampai pada tingkat "kebaikan tertinggi", maka dia adalah pendusta agama (Qs. Al-Ma’un [107]: 1-3). Asumsi para syariah oriented dan kaum radikalis bahwa agama sebagai sekat pemisah terlumpuhkan oleh kuatnya rajutan persaudaraan yang ada di Pondok Pesantren Walisanga Ende dengan Serikat Sabda Allah (SVD) Katolik.

Ponpes Walisanga Ende, saat ini dipimpin oleh Siti Halimah Assyadiyah, S.Psi, seorang psikolog yang pernah mengeyam pendidikan di lembaga Katolik. Keunikan pesantren ini adalah melibatkan para calon pastor Katolik atau para frater dari SVD untuk mengajar (guru) di pesantren. Sesuatu yang langka dan belum saya temukan di Indonesia, pesantren se-inklusif ini. Umi—sapaan akrab saya—mencoba membangun sebuah "mercusuar" untuk mengembangkan kehidupan beragama yang rukun dan damai.

Ponpes ini dikenal dengan sebutan "rumah tanpa pintu". Rumah yang berpintu adalah hal yang lumrah, tapi rumah yang tak berpintu adalah hal yang luar biasa. Pertanyaannya adalah sungguhkah rumah yang tak berpintu itu ada?. "Membuat studi lapangan untuk menjawabi pertanyaan retoris ini sama seperti kegiatan mencari jejak di dalam air atau sebuah kesia-siaan. Sebaliknya upaya untuk menemukan pesan etis-didaktif dari ungkapan serupa merupakan sebuah kemutlakan," ujar H. Mahmud EK.

Setahun lamanya saya mengajar di pesantren ini, mengalami langsung iklim kehidupan di Walisanga. Maka, ungkapan rumah tak berpintu untuk menggambarkan keterbukaan dan keramahan keluarga besar pesantren terhadap semua tamu yang datang sangatlah relevan dan realistis. Setiap kegiatan sosial, pesantren melibatkan para Imam, Frater, Suster dan Bruder, baik dari Seminari Tinggi St Paulus Ledalero dan Biara St Yosef Ende serta institusi lainnya.

Menurut data sejarah yang terekam dalam kronik sekolah, para frater pertama kali hadir di Panti pembinaan para santri itu pada tahun 1997/1998. Sejak saat itu sampai sekarang, Serikat Sabda Allah atau SVD selalu mengirim satu atau dua frater sebagai utusan setiap tahunnya. Pada saat itu, frater yang bersama saya adalah Yosef Nenat, SVD, Vitalis Nasruddin, SVD dan Yohanes Hayon, SVD.

Alkisah, pada awal kehadiran para frater di lembaga itu, isu provokatif sengaja ditiupkan oleh mereka yang berhaluan kiri, dengan dalih katolikisasi atau mengkatolikan para santri. Dalam sebuah dokumentasi ceramah yang dibuat oleh Pater Enam Embu, SVD dkk yang berjudul Assalam Alaikum: A Story from Ende (2012) —film ini rangking 10 paling inspiratif—ada doktrin ungkapan menarik dari guru senior Walisanga, H. Nurdin Hasan.

"Menyangkut keyakinan itu sangat pribadi, tetapi dalam hal kependidikan siapa saja bisa datang ke Pondok Pesantren Ende. Sebab dalam Islam juga diajarkan tentang beda agama, beda suku dan beda bahasa tidak masalah karena yang harus diutamakan adalah silaturahmi, yakni kunjung-mengunjung atau kenal-mengenal di antara kita. Keyakinan itulah yang melanggengkan kerja sama lintas agama di PonPes Ende."

Menariknya lagi, saya menangkap mereka para pengasuh dan guru-guru tidak pernah merasakan kesalehan atau kesuciannya terusik oleh kehadiran dari para tamu yang berasal dari latarbelakang yang berbeda, baik dari segi agama, suku, ras dan adat istiadat. Justru, kehadiran mereka memberikan nuansa tersendiri bagi kehidupan beragama dan bermasyarakat di Ende. Setidaknya, mereka "membina kerukunan antar umat beragama agar lebih harmonis dan toleran."

Dalam masa pengabdian di Ende itu, para santri terlibat langsung dalam suasana perayaan kaul kekal yang berlangsung pada hari raya Maria Di angkat Ke Sorga (Sabtu, 15/8). Acara ini berlangsung dalam Misa Konselebrasi yang dipimpin oleh Provinsial SVD Ende dan Pater Lukas Diwa SVD. Para santriwati ikut mewarnai perayaan kaul kekal 23 frater Societes Verbi Divini (SVD), yang kebetulan salah satu fraternya sedang menjalani masa Tahun Orientasi Pastoralnya (TOP) di Pesantren Walisanga (baca: Dari Ledalero ke Penjuru Bumi).

Kehidupan di pesantren bersama frater (baca: Hidup Bersama Pater dan Frater) semakin membuat saya terinspirasi untuk lebih mengenalkan Islam ke mereka, menembus tembok dan gedung-gedung megah. Saya mencoba menulis tema-tema keislaman di koran Flores Pos melalui seorang frater Hans Hayon, agar masyarakat Kristen Protestan dan Katolik semakin terbuka lagi dengan Islam. Saya pun membuat diskusi Kemukjizatan Menghafal Al-Qur'an di gedung megah Universitas Flores Ende. 98 persen peserta adalah beragama Katolik.

Tema yang sering saya usung adalah “satu keluarga beda ibu" (ikhwatun li `ill?ti ummah?tuhun syatt? wa dînuhum w?hid). Gagasan ini saya ambil dari hadis Nabi Muhamamd SAW, yang jarang ditampilkan oleh umat Muslim ketika berdakwah dengan umat Kristiani dan Katolik. Padahal, Muhammad ibn Ism?il ibn Ibr?him al-Bukh?ri dalam kitabnya Shahîh Al-Bukhari (2002) menyebutkan bahwa “Islam, Yahudi dan Kristen sebagai saudara namun beda ibu.”

Bahkan, ketika Wakil Superior General SSpS, Suster Mary Jhon SSpS mengunjungi Pesantren Walisanga Ende (Sabtu, 15/9), yang di dampingi lima orang suster lainnya, saya bisa berdialog dengannya penuh antusias. Begitu pula pihak pesantren, Suster Mary Jhon disambut dengan antusias para penghuni pesantren. Keluarga besar Pesantren Walisanga Ende menerima Suster Mary dengan upacara pengalungan dan pengenaan sarung adat Ende.

Membuat satu pesantren seperti ini, membutuhkan para animator yang kreatif dan berani agar cita rasa kemanusiaan itu tertanam kuat dalam setiap kalbu. Mahmud EK tidak saja bermimpi, dia berhasil mendirikan lembaga seperti: Madrasah, Panti Asuhan, dan Wadah Kerja Sama Lintas Agama yang mendidik generasi muda umat beragama yang memiliki wawasan keagamaan yang terbuka dan menghargai kebhinekaan.

Ada satu syair yang selalu dijunjung mereka, biasanya dikenal di daerah pesisir Alor Barat Laut, tentang ide persekutuan dan persaudaraan.
"Bapang sota

Sota tobang sahi

Wani tobang sahi

Dena liwang

Liwang adang dola

Dena adang dola"

Artinya, "nenek moyang mempunyai turunan yang banyak tak terbilang, sebagian mendiami pesisir dan sebagiannya di pedalaman. Tetapi semuanya berasal dari satu pokok atau pangkal. Sebab itu, haruslah tetap bersatu-padu, selamat hayat dikandung badang."

Alangkah indahnya, kehidupan rukun dan damai di bumi Ende, NTT. Saya merasakan bagaimana konsep toleransi dalam al-Qur'an menghujam di dalam dada mereka. Tidak lagi sekedar orasi semata, mereka menyerap nilai-nilai Pancasila dengan sangat baik. Model toleransi seperti ini harus kita pelajari, agar intoleransi berkurang setiap saat.

Toleransi sebagai nilai yang luhur, belakangan ini telah luluh lantak oleh segenak kekerasan, yang pada umumnya sangat kental beraroma agama. Dimana mereka melakukan tindak kekerasan kerap membakar tempat-tempat ibadah, seperti gereja dan masjid. Hal ini bukan contoh beragama yang baik. Umat Muslim tidak saja harus menyadari perbedaan, tapi menerima perbedaan itu sebagai rahmat, bukan azab dari Tuhan Yang Maha Kuasa. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *