Satu Keluarga Beda Ibu

Sore hari, tanggal 08 Januari 2016, undangan Pater Philipus Tule, SVD untuk menjadi pemateri di Biara Suster CIY Ende, NTT membuat saya sangat berbahagia. Alangkah baiknya, jika pembaca budiman juga bisa menikmatinya. Tema yang saya usung adalah “Satu Keluarga Beda Ibu” (ikhwatun li `illati ummahatuhun syatta wa dînuhum wahid). Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim al-Bukhari dalam kitabnya Shahih Al-Bukhari (2002) menyebutkan bahwa Islam, Yahudi dan Kristen sebagai saudara namun beda ibu.

Ketiganya memiliki titik kesamaan, yang bermuara pada sikap kepasrahan dan ketundukan kepada Tuhan. Islam dan Kristen masih satu trah dengan Nabi Ibrahim. Kristen lahir dari Nabi Isa dan Islam lahir dari Nabi Muhammad Saw. Keduanya bertemu pada Nabi Ibrahim. Nabi Isa berasal dari keturunan Ishak (putra Nabi Ibrahim) yang kemudian menurunkan Bani Israil. Sementara Nabi Muhammad SAW keturunan Nabi Ismail, saudara seayah dengan Nabi Ishak, yang juga menurunkan bangsa Arab.

Al-Qur’an diwahyukan oleh Allah SWT untuk seluruh manusia (Qs. Al-Baqarah [2]: 185). Al-Qur’an juga menghormati dan mengakui kitab suci agama-agama sebelumnya (Qs. Al-A`la [87]: 18-19). Nabi Muhammad SAW ditugaskan oleh Allah untuk membenarkan para rasul sebelumnya (Qs. Al-Saffat [37]: 37), ternyata tidak sampai di situ, keimanan kepada para rasul Allah menjadi “rukun iman” (bersifat wajib) untuk umat muslim (Qs. Al-Baqarah [2]: 285). Islam diibaratkan seperti sebuah bangunan yang kekurangan satu batu bata, dan Islam menyempurnakannya, bukan me-nasakh-nya (menghapus status quo agama sebelumnya).

Pakar Al-Qur’an yang pertama kali menolak adanya abrogasi dalam Al-Qur’an adalah Abu Muslim Al-Isfahani, kemudian diikuti oleh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad Abu Zahrah, Muhammad Al-Ghazali, Muhammad Husein Al-Dzahabi. Disinilah titik awal perdebatan akademik di kalangan internal Islam terkait abrogasi dalam kitab suci Al-Qur’an. Disatu sisi, kitab tasfir Al-Qur’an (upaya memahami kitab suci), menurut Jalaluddin `Abdurrahman Al-Suyuti dalam kitab Syarh `Uqud Al-Juman fî `Ilm Al-Ma’ani wa Al-Bayan (2011) merupakan di siplin ilmu yang belum final (`ilm la nadhaj wa la ihtaraq). Dari sini jugalah, pemikiran orang Islam akan mengakui atau tidaknya eksistensi agama-agama yang ada di dunia. Dan akan berujung pada sebuah pertanyaan, apakah hanya Islam yang paling benar di sisi Allah? (Qs. Ali Imran [3]: 19).

Secara tektualis dalam ayat Al-Qur’an akan diartikan “sesungguhnya agama yang paling benar di sisi Allah adalah Islam.” Namun jika kita menggali makna tersirat dalam kata Al-Islam maka akan melahirkan makna kepatuhan (Al-Inqiy?d) kepada syari`ah (aturan/ajaran) secara lahiriah dan batiniah kepada Allah SWT. Keselamatan akan didapatkan oleh seseorang yang berpegang teguh pada keimanannya. Secara luas, arti kata Al-Islam bermakna semua agama. Jika hanya mutlak untuk orang Muslim, untuk apa Allah menciptakan pelbagai agama?. Kenapa Allah tidak menciptakan satu agama saja?. Al-Qur’an sendiri menjawab pertanyaan itu, bahwa tiap-tiap umat Allah berikan aturan yang terang (syir`atan wa minhajan) (Qs. Al-Ma`idah [5]: 48).

Dari ayat di atas, hipotesa bahwa pluralisme itu mutlak adanya. Pluralisme sama sekali bukan diartikan semua agama itu sama, karena perbedaan adalah sunnatullah (keniscayaan). Adanya perbedaan (Qs. Al-Hujurat [14]: 13) agar saling mengenal di antara laki-laki dan perempuan. Semua agama-agama yang berbeda, meliputi Islam, Hindu, Budha, Nasrani dan Yahudi kembali kepada-Nya. Tidak ada hakim tunggal di muka bumi ini untuk memutuskan, agama yang paling benar yang mana. Di sinilah kritikan keras dari Charles Kimball dalam When Religion Become Evil (2002) bahwa salah satu ciri agama jahat adalah agama yang memiliki klaim kebenaran mutlak atau absolute truth claim atas agamanya.

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) hampir sering mengatakan “bahasa kita begitu beragam, tetapi Engkaulah satu-satunya yang indah. Dan kita masing-masing menuju kepada Keindahan Yang Satu itu”. Karena itu juga, kebhinekaan sebuah realitas alam semesta, yang tidak menghalangi setiap insan untuk berbeda. Karena para sufi (pakar esoterisme) selalu memandang bahwa alam semesta yang beragam itu bukti keindahan tajalli Tuhan. Keberanekaan berasal dari Tuhan. Tepatlah sebuah pernyataan: “Deep down, all religions are the same – different paths leading to the goal” sangatlah benar. Hal ini dipertegas ungkapan dari Jalaluddin Rumi “the light is not different (though), the lamps has become different (cahaya tidaklah berbeda, meskipun lampunya berbeda). Serta kutipan out of context dari John Hick “the lamps are different, but the light is the same” (lampu adalah berbeda-beda, tetapi cahaya tetap sama/satu). Yang kemudian adagium itu dijadikan slogan dalam bukunya An Interpretation of Religion (1989).

Dengan demikian, subjektifitas seseorang di dalam memandang agamanya tidak boleh menghalangi dan menjadikan kendala dirinya untuk tidak ‘bermesraan’ dengan agama lain. Teologi pluralisme adalah perintah Al-Qur’an. Frans Magnis Suseno dalam bukunya Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk (2004) mengatakan bahwa seluruh para pendiri agama seperti Budha, Yesus dan Muhammad layaknya orang yang menemukan air di tanah, berakar dalam sungai ke-Ilahi-an mendalam yang mengalir di bawah permukaan dan darinya segala ungkapan religiositas manusia hidup.

Akhirnya, bagimu agamamu dan bagiku agamaku (Qs. Al-Kafirun [109]: 6) harus menjadi argumentasi toleransi antar-umat beragama. Meminjam istilah KH. Hasyim Muzadi yang berbeda tidak boleh disamakan dan yang sama tidak boleh dibedakan. Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sudah harmonis, keakraban dan kekerabatan sudah terjalin dengan baik, harus terus dipupuk dan dijaga dari kelompok sempalan agama, gerakan transnasional yang membawa budaya luar negeri (yang tidak cocok di Indonesia) untuk diterapkan di Indonesia.

Pancasila menjadi ideologi negara Indonesia yang tidak bisa dan dapat diubah-ubah. Pancasila sudah mengakar dalam jiwa raga masyarakat Indonesia. Dan umat Islam harus menjiwai Mîtsaqul Madinah atau Piagam Madinah yang telah dibuat oleh Nabi Muhammad bersama kaum Yahudi dan Nasrani di Madinah (Yatsrib). Teologi pluralisme bersemanyam dalam undang-undang (Piagam Madinah) terbaik umat Islam tersebut. Kubur dalam-dalam eksklusifitas agama dan bawa ke permukaan pola inklusif beragama, sebagaimana jantung Al-Qur’an yakni kelembutan (walyatalattof). []

*Makmun Rasyid, Ende, 2016
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *