Saat Al-Hikam Menjadi Tempat Sejukku

KH. Hasyim Muzadi, ketika saya lahir ia sudah menjadi ketua PWNU Jawa Timur, 1992. Di saat saya baru menghafal Al-Qur'an 30 di usia 8, ia sudah menjadi ketua umum PBNU pada 1999, menggantikan Gus Dur. Ketertarikan saya kepada pemikirannya dan sosoknya, saat beliau "rawuh" ke Hulondalo (Gorontalo). Memberikan tausiyah keagamaan dan juga kebangsaan. Dua tema yang hampir selalu dibarenginya, ke mana saja ia menjadi narasumber. Ia tidak saja dikenal sebagai ulama dan agamawan namun juga politikus dan negarawan. Naluri berpolitiknya sangat tajam, firasatnya terhadap sesuatu terkadang disalahpahami seseorang. Dalam mengkritik terkadang diselipkan dalam bait-bait candaannya.

Saat terdaftar menjadi mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) Jakarta tahun 2010, saya sudah mendengar akan dibuka sebuah pesantren di belakang Fakultas Tehnik, Universitas Indonesia. Ketika sudah dibuka pendaftaran baru, saya tak ragu-ragu langsung pindah dan mengulang dari semester pertama. Sewaktu mendapatkan nomor telepon panitia, yang pada saat itu bisa melalui KH. Ahmad Fathoni MA, guru Ilmu Qiraat di PTIQ dan IIQ Jakarta. Walaupun sebelumnya, KH. Fathoni mengatakan saat di rumahnya: "Kalau ada anak PTIQ yang mendaftar, saya tidak terima".

"Wah, bisa gagal jadi santri abah Hasyim Muzadi, kalau ceritanya begini," suara batinku.

Akhirnya, saya mendatangi tempat kediaman KH. Fathoni di komplek asrama IIQ, Pamulang. Setibanya di sana, saya baru tahu kalau KH. Fathoni itu seorang pakar Ilmu Qiraat. Sebelumnya, saya hanya tau beliau seorang panitia, namun beliau tidak tau maksud kedatangan saya untuk mendaftar di STKQ Al-Hikam Depok. Ia menjulurkan buku "Tajwid Praktis"-nya dan mengatakan ini akan segera diterbitkan. Saat melihat cover belakangnya, saya baru tahu kalau beliau seorang doktor dan pakar Ilmu Qiraat. Akhirnya saya mencium tangannya. Mengapa? karena saat sms-an saya memanggilnya: "mas Fathoni". Hehe

Beberapa hari kemudian, saya bergegas menuju ke Depok, dan mendaftrakan diri. Alhamdulillah, lewat beberapa tes tulisan dan lisan, saya lulus, sekalipun mendapatkan nilai rendah. Ya, begitulah keadaan saya waktu itu. Seorang yang sejak SD sudah berpisah untuk merantau ke mana saja tempat yang bisa dilabuhi. Bahkan sebelum mendaftar ke Al-Hikam, saya pernah selama 2 tahun tidak pernah mengulang hafalan AL-Qur'an saya, karena tuntutan kerja. Waktu itu saya bekerja di Balikpapan, Kalimantan Timur. Anehnya, saat di tes hafalan, saya bisa menjawab semuanya. Itulah yang saya katakan bagian dari kemukjizatan Al-Qur'an, yang dalam buku saya Kemukjizatan Menghafal Al-Qur'an seseorang tidak diperbolehkan untuk memiliki pikiran: hafalannya hilang dan sejenisnya.

Setelah pengumuman dan resmi menjadi santri abah Hasyim Muzadi. Bahagia tiada tara dan tak terhingga terus menyelimuti diriku. Bahagia karena pastinya sedikit banyak akan mampu menyerap ilmu-ilmunya yang dahsyat dan luar biasa. Tempat ini adalah tempat sejukku. Saat itu juga, abah berkata yang membuatku dan kawan-kawan merenung.

"Menghafal Al-Qur'an itu awal perjalanan kalian, bukan akhir perjalanan; Sucikan diri kalian dari hal-hal subhat karena ditempati oleh firman Allah yang suci"



Tak berselang lama, gairah menyelami Al-Qur'an dan membaca mulai tumbuh. Dan saya menjadi penulis, ketika berada di Al-Hikam Depok. Sekalipun aku merasa sebagai orang yang paling bodoh di antara teman-teman, tapi saya percaya keberkahan. Di dalam menulis pun, saya terkadang merasa heran, mengapa saya bisa menulis ribuan halaman yang tidak tau dari mana asal ilmu itu. Di dalam setiap menulis, ada saja firasat untuk merujuk ke buku A, B dan seterusnya. Wallahu a'lam. Semoga ilmu abah Hasyim Muzadi yang saya terima, ada keberkahan yang menyertainya. Dan semoga ridha-nya menyertaiku selalu.

Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *