Religiusitas Dalam Islam

Manusia diciptakan oleh Allah---selain beribadah dalam bentuk vertikal---untuk berbuat baik kepada siapapun, tanpa melihat etnis, suku, ras dan agamanya. Dalam ranah agama diberikan batas-batas tertentu untuk tidak berlebihan, disertai tingkat kewaspadaan. Kebaikan yang dilakukan seseorang disebut dengan keshalihan atau religiusitas. Religiusitas berasal dari kata religiosity yang bermakna kesalihan dan pengabdian penuh kepada agama yang dianutnya. Di sini agama* adalah unsur terpenting dalam diri seseorang. Keyakinan yang kokoh akan menjadi bagian integral dalam kepribadian seseorang, ia akan menjadi roda pengatur segala tindakan, ucapan serta mampu merasakan segala sesuatu yang menyeleweng dari akidahnya.

Dalam hubungan dengan religiusitas dalam Islam, Rodney Stark dan Charles Y. Glock dalam tulisannya American Piety: The Nature of Religious Commitment (University of California Press, 1968) membagi religiusitas dalam lima dimensi, yaitu: belief, practice, knowledge, experience dan consequences. Sedangkan dalam agama Islam dikenal sebutan iman atau akidah dan syariah, ibadah atau ritual, ilmu pengetahuan (termasuk teologi, filsafat dan hukum), ihs?n, dan amal atau ta`?wunu `ala al-Birri wa al-Taqw? (kemanusiaan/tolong menolong).

Pertama, keimanan dan kepercayaan (the ideological dimension) seseorang terbagi menjadi dua bagian, yaitu: agama nenek moyang, seseorang menganut agama Islam, Yahudi dan Nasrani (agama monoteis) karena “orang tuanya”** dan bergama setelah menemukan mukjizat Allah dalam aktifitas kehidupannya atau meneliti alam semesta, kemudian dia menganut agama tertentu dan mengimaninya dengan penuh kesadaran. Seseorang yang bergama Islam disamping meng-Esa-kan Tuhan, harus mengimani “rukun Islam” dan “rukun Iman” serta syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Doktrin utama umat Islam ada pada dua aspek tersebut. Pilihan iman (kepercayaan) yang bersifat dogmatisme itu harus wujud dalam bentuk yang inklusif, tidak boleh menyalahkan pilihan agama dan keimanan orang lain.



Umat muslim percaya bahwa Islam adalah agama yang komprehensif dan bahkan sebagian penganutnya tidak mengakui kebenaran diluar Islam (Qs. Ali Imr?n/3: 19).*** Dalam ranah teologi salvation, seseorang yang memeluk agama tertentu dituntut untuk beragama secara k?ffah (totalitas dan keseluruhan), karena bentuk kesempurnaan keimanan adalah beragama yang tulus, sungguh-sungguh dan berkomitmen untuk tidak mendualisasikannya. Namun, hal ini tidak boleh menafikan eksistensi agama diluar keyakinannya. Komposisi truth claim seyogyanya tidak meniscayakan untuk menolak kehadiran agama-agama diluar kebenaran dan keimanan yang kita pilih.**** Keimanan umat muslim harus kokok dan teguh pada pendiriannya. Allah Satu, Nabi Muhammad Saw adalah nabi terakhir dan al-Qur`?n sebagai barometer kehidupan umat Islam harus dijaga dengan baik dan benar, kita harus totalitas dan menjalankannya secara autentik, ketidakseimbangan akan mengakibatkan pada tindakan tercela dalam beragama.

Kedua, memahami Islam secara komprehensif dan holistik (aspek kognitif), meyakini Islam sebagai problem solving dan solusi kehidupan (aspek afektif) dan melaksanakan dan menjalankan dengan penuh kesadaran segala perintah-perintahnya Allah dan syariat Nabi Muhammad Saw (aspek psikomotorik) akan melahirkan praktek (practice) dan ritual (the ritualistic dimension) beragama yang “Islam Rahmatan lil-`?lamîn”. Dimensi ritual atau praktek ini memuat prilaku pemujaan dan ketaatan seseorang pada agama pilihannya. Aspek ritual melingkupi seperangkat ritus dan tindakan keberagamaan formal, seperti pernikahan, khitanan dan lain sebagainya. Sedangkan aspek ketaatan seseorang di dalam Islam mengacu kepada “rukun Islam” berupa shalat, puasa, zakat dan haji.

Fungsi shalat sebagai sarana ‘bercengkrama’ dengan Allah harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Shalat tidak saja menjalankan formalitas belaka, melainkan wujud komitmen kita dalam beragama. Puasa yang berfungsi melengkapi segala kekurangan ritual umat muslim di bulan lainnya, dalam bulan ini segala ibadah dilipatgandakan dan yang mengetahui hanya manusia dengan Tuhannya. Zakat sebagai wadah pembersih harta dan pendapatan umat Islam yang dikumpulkan selama satu tahun. Dan haji merupakan impian setiap umat Islam, namun Allah hanya menyuruh kepada hambanya yang mampu.

Ketiga, dimensi ilmu pengetahuan (the intellectual dimension) sangat berpengaruh pada diri seseorang, tingkat keimanan dan praktek beragama. Seseorang yang memahami agama secara tektual, rigid dan kaku akan melahirkan tindakan yang bias negatif. Inilah yang banyak terjadi di abad modern. Dibutuhkan pemahaman yang mendalam, penghayatan yang dilandasi pada cinta kasih akan melahirkan kelemahlembutan (jantung al-Qur`?n) dalam berdakwah. Universalisme ajaran agama dapat dilihat dari kemampuan umatnya dalam menjawab masalah-masalah yang mengitarinya. Dan wahyu pertama Allah dalam al-Qur`?n berkenaan dengan dimensi “ilmu pengetahuan”. Membaca alam semesta dan segala mahluk ciptaan-Nya, yang diiringi dengan ucapan “atas nama Tuhanmu”. Ini untuk menggantungkan segala tindakan kita kepada Allah Swt.

Keempat, dimensi pengalaman keagamaan (the experiental dimension atau religious felling) ini di dalam Islam bisa disebut dengan “ihsan”. Perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman seseorang selama menghayati ajaran agama. Misalnya, seseorang yang tingkatan ihsan-nya baik, maka akan berpengaruh kepada pembawaan dirinya dalam komoditas masyarakat. Ihsan dalam konteks ini tidak saja berbuat baik kepada orang lain. Dalam subjektfitas agama Islam, seseorang yang berlaku baik kepada siapapun namun dimensi ketiga diatas tidak dijalani dengan baik, maka dia hanya mendapat “rahman-nya” Tuhan di dunia. Ihsan yang terlepas dari ikatan “Allah” akan meniadakan “rahim-nya” Allah.*****

Kelima, dimensi konsekuensi (The consequential dimension atau religius effect) ini akan baik tatkala keempat dimensi diatas berjalan dengan baik pula. Dimensi ini erat kaitannya dengan dimensi keempat. Tindakan dan prilaku beragama seseorang, baik hablun minall?h (vertikal) dan hablun minann?s (horizontal) akan wujud dengan seimbang, tentunya sangat dipengaruhi kedalaman memahami agama pilihannya. Di sini berlaku kaidah “ilmu adalah sesuatu dan pertanggungjawaban ilmu sesuatu yang lain”.****** Ilmu agama yang tinggi tidak bisa menjadi acuan dalam dimensi ini. Misalnya, ia ahli dibidang agama tetapi ia korupsi. Antara dimensi ilmu pengetahuan dengan aspek konsekuensi dari ilmu itu harus dihubungkan dengan dimensi keimanan/kepercayaan.

Lima dimensi di atas merupakan aspek-aspek yang tidak boleh ditingalkan salah satunya. Kelimanya sangat berkaitan erat bagi kehidupan bergama seseorang selama di dunia. Agama dan pembawa agama ibarat dua keping mata uang, saling mendukung satu sama lain. Eksistensi “pembawa agama” merupakan konsekuensi logis dalam beragama, ketika agama dipisahkan dengan pembawa agama maka satu titik unsur “moralitas agama” akan hilang. Bawalah agama dan seperangkat praktek lainnya dengan baik, agar Islam tampil layaknya payung yang menerangi segala sesuatu yang berada dibawahnya. Itulah visi dan misi Nabi Muhammad diperintah Allah ke muka bumi (Qs. al-Anbiy?`/21: 107). Akhirnya, di saat kesejukan sudah bersemai di jiwa kita, maka Islam adalah jalan hidupku, pilihan hidupku, agama pertama dan terakhirku.*******

Agama itu mudah dan jangan dipersulit. Totalitas dalam al-Qur'an memaksudkan akan kemaksimalan dalam menjalankan agama yang dianutnya. Ukuran satu orang lain dengan lainnya memiliki perbedaan, maka bersikap dewasalah dalam beragama. Sebab agama, tidak saja mengenalkan ajaran hitam-putih atau salah-benar, melainkan membuat kebahagiaan sejati dalam memeluk agama. Jangan sampai, apa yang kita sampaikan kepada orang lain dalam mendakwahkan agama membuat dia takut. Di mana akhir-akhir ini, banyak pendakwah yang menyampaikan ajaran agama tapi berwajah garang, tampilannya pun menyeramkan, tak ada kasih sayang dan toleransi dalam hubungan sosial yang dibangunnya. Bukankah dalam hidup ini, seharusnya kita menciptakan kemudahan. We Make It Easy! Wallâhu a`lam bi al-Shawâb []

Footnote

*Agama dalam istilah Bahasa Arab disebut al-Dîn atau al-Millah (al-Syarî`atu fi al-Dîn). Kata al-Dîn memiliki beragama arti, seperti al-Tauhîd (tauhid), al-Wara` wa al-Taqw? (kesalihan dan ketakwaan), al-Ib?dah (ibadah), al-Ikr?h (paksaan), al-Ihs?n (kebajikan/kebaikan), al-?dat (kebiasaan), al-Sulth?n wa al-Hukm (kekuasaan), al-Tadbîr (pengaturan), al-Th?`at (taat), al-Sîrah (prilaku) dan lain sebagainya. Lihat Muhammad Ibn Man?ûr, Lis?n al-`Arab, (Beirut: D?r al-??dir, 2003); Dan dalam al-Qur`?n kata dîn disebut sebanyak 101 kali.  Lihat Muhammad Fu`ad Abd Baqi`, Mu`jam al-Mufahras Il Alf?z al-Qur`?n al-Karîm, (Kairo: D?r al-Hadîs, 2007).

**Hadisnya yaitu: ????? ?????????? ???????? ????? ???????????? ??????????? ?????????????? ???????????????? ???????????????? (sahîh).

*** Kalangan mufasir al-Qur`?n sendiri telah terjadi perdebatan sengit di dalam mengartikan kata “al-Isl?m” pada Qs. Ali Imr?n/3: 19 tersebut. Lihat lebih lanjut tulisan “Satu Keluarga, Beda Ibu” oleh Makmun Rasyid (Flores Pos, 14 Januari 2016).

**** Umat muslim harus percaya bahwa Allah itu Esa, Nabi Muhammad Saw nabi akhir zaman dan al-Qur`?n pegangan hidup kita. Namun berkenaan dengan eksistensi agama dan iman orang lain, biar Tuhan yang memutuskannya pada hari kiamat. Kita dalam hal ini harus mengacu pada Qs. al-M?idah/5: 69 dan Qs. al-Hajj/22: 17.

***** Dialog Nabi Muhammad bersama malaikat Jibril seputar Ihsan yaitu???? ???????? ????? ????????? ???????? ??????? ???? ?????? ??????? ????????? ??????? atau engkau beribadah seakan-akan melihat-Nya, apabila engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu (hadis).

****** ?????????? ?????? ????????????????? ????????? ?????? ?????

******* ?????? ????????????? ?????? ???????? ??????????????? [Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam].
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *