Rasulullah, Kursus Bibel?


"Ketika kita membaca kitab-kitab tentang sejarah Rasulullah SAW, pada saat itu tidak ada kitab-kitab agama yang berbahasa Arab"


Muhammad Ridha



Judul Rasulullah, Kursus Bibel? adalah salah satu persoalan serius dalam diskursus pemikiran Islam, utamanya kajian Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Sampai detik ini, ide-ide orientalisme sangat berpengaruh di dunia, bahkan menerpa cendekiawan Muslim.

Akhir-akhir ini, kisaran 2015-2016, buku-buku yang ditulis oleh para intelektual Muslim yang sedang mengajar di kampus-kampus Barat, semakin meningkat. Terakhir, saya mendapat kiriman dua buku ber-cover kuning, yang satu menyoal abrogasi dalam Al-Qur'an dan satunya membahas nasy'at al-Islam wa tathawwuruhatau sejarah kelahiran Islam, yang di dalamnya juga ada pembahasan "kanonisasi" Al-Qur'an. Buku ini, diakui oleh penulisnya, memiliki kesan nomotetik. Dominasi sajian paham Barat banyak bersebrangan dengan Al-Mikhyal Al-Jama'i atau "imaji sosial" masyarakat Muslim. Namun, pengkaji Quranic, wajib baca buku, sebagai kelanjutan atas gugatan pada buku Al-Itqan fi Ulum Al-Qur'an karya Jalaluddin Al-Suyuti (1935).

Orientalis—lawannya oksidentalis—artwig Hirschfeld, seorang Yahudi Jerman kelahiran Prussia, pernah mengatakan bahwa sebelum jadi Nabi, Rasulullah menjalani kursus bibel beberapa waktu, sekalipun tidak secara teratur. Jika dikalkulasikan waktunya, Rasulullah lebih banyak otodidak.

Gagasan ini merupakan sebuah kelanjutan dari tokoh utamanya, yaitu: Abraham Gegiger, seorang intelektual yang juga rabi, bahkan founder Yahudi Liberal di Jerman. Kalau di Indonesia, Islam Liberal digagas oleh Ulil Absar Abdalla.

Geiger ingin membuat kesimpulan bahwa ajaran Islam, khususnya Al-Qur'an di dominasi oleh ajaran Yahudi (baca: teori berpengaruh). Ini terbukti dari tuduhan, saat Rasulullah ingin mengarang Al-Qur'an ia meminjam kosa kata Ibrani seperti: tabut, taurat, jannatu 'adn, jahannam, ahbar, darasa, rabbani, furqan, malakut dan lain sebagainya.

Kawannya, Theodor Noldeke misalnya menjelaskan bahwa furqon itu bermakna redemption (penebusan), bukan revelation (wahyu, pembeda yang hak dan batil). Jadi, kosa kata Ibrani, Aramaik dan Ethiopia sangat berpengaruh dalam pembuatan Al-Qur'an.

Gagasan ini semakin diperluas tatkala hadirnya Richard Bell yang dalam bukunya dia menyimpulkan bahwa pengaruh Kristen datang dari Syiria, Mesopotamia dan Ethiopia. Lebih diperjelas lagi ketika pendeta Kristen, Alphonso Mingana membagi persen-persenan pengaruh luar pada Al-Qur'an. Begini, Ethiopia: 5 persen, Ibrani: 10 persen, Yunani-Romawi: 10 persen, Persia: 5 persen, dan Syiriak: 70 persen. Anda bisa baca juga pemikiran Arthur Jeffery, penulis buku The Foreign Vocabulary of the Qur'an atau Kosa Kata Asing Al-Qur'an (1938).

Hampir semua gagasan itu ingin menghantarkan kita pada sebuah ruang dan gagasan bahwa Rasulullah tidak ummiy. Namun, para pakar Bahasa Arab seperti Al-Zajjaj dan Ibnu Manzur mengartikan ummiy dengan tidak bisa menulis. Dan, jika kita kalkulasikan seluruh pendapat mufassir Al-Qur'an, pendapat mayoritas akan mengatakan kata ummiy (definitifnya) dengan tidak pandai menulis dan membaca, sedangkan makna majaz-nya adalah orang-orang Arab musyrik.

Saya menolak penafsiran kata ummiy sebagaimana yang dikoar-koarkan oleh para orientalis terdapat dalam buku Kemukjizatan Menghafal Al-Qur'an (2015). Sekalipun para mufasir Al-Qur'an berbeda pendapat, namun dapat diketahui, pemikiran itu ada sangkut pautnya dengan pemikiran orientalis. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *