Quantum Ramadhan

Ramadhan dalam agama Islam disebut dengan ibadah rahasia. Mengapa rahasia? Karena seseorang berpuasa atau tidak sungguh tidak ada yang tahu kecuali dirinya dan Allah Swt. Orang-orang beriman selalu menyempatkan dirinya mendekatkan diri kepada-Nya, disaat sepi dan tertidur lelap orang-orang asyik menikmati indahnya dunia.
Ibarat alam semesta, bulan Ramadhan seperti langit yang terdapat bintang-bintang. Bintang-bintang di langit memancarkan pesona cahaya dan menerangi bumi dan alam semesta. Begitu pula dengan orang-orang beriman, kedatangan bulan Ramdhan sebuah kerinduan dan menangis tatkala Ramadhan meninggalkannya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak beriman ingin Ramadhan cepat berlalu dan menginginkan lebaran yang penuh pesta dan menonjolnya prilaku komsumtif.
Dalam tradisi ke-pesantrenan, ada tradisi dalam bulan Ramadhan yang terus berjalan tiada hentinya, yakni sorogan atau bandongan kitab-kitab ulama klasik dan kontemporer, latihan ceramah bagi santri-santri setiap habis magrib dan shubuh, khataman al-Qur`ân 30 juz dan menjadi imam tarawih. Sejak menghafal al-Qur`ân pada umur 9 tahun, penulis menjalankan ritual khatmu al-Qur`ân, baik dalam keadaan sendiri-–murajaah hafalan-–ataukah menjadi imam tarawih.
Tradisi menjadi imam tarawih bagi para penghafal al-Qur`ân, merupakan sebuah kegembiraan tersendiri. Karena sarana menjadi imam tarawih dan menjadi imam shalat merupakan sebuah keyakinan bagi penghafal al-Qur`ân, dalam rangka meningkatkan kualitas hafalan. Ada dua landasan filosofis yang menjadi sandaran bagi penghafal al-Qur`ân.
Pertama: pendapat Imam Shuyuti di dalam kitabnya Jami’ al-Ahâdits li al-Jami’ al-Shaghîr wa Zawâiduhu wa al-Jami’ al-Kabîr dengan mengutip sebuah hadis yang berbunyi: “Membaca Al-Qur’an di dalam shalat lebih utama daripada membaca Al-Qur`ân diluar salat neraka. Membaca Al-Qur`ân diluar shalat itu lebih utama daripada membaca tasbih. Membaca tasbih itu lebih utama daripada sedekah. Sedekah itu lebih utama daripada puasa. Puasa itu perisai dari api neraka” (Imam Shuyuti, Vol 4, 1984: 742).
Kedua: membaca al-Qur`ân dalam shalat mampu meningkatkan kelancaran hafalan. Namun satu prinsip yang perlu dipegang yakni tidak tergesa-gesa sampai menghilangkan kekhusyu`an shalat. Dalam hal ini berpegang pada kaidah sahabat Ali bin Abi Thalib yaitu “membaguskan bacaan huruf-huruf Al-Qur`ân dan mengetahui tanda-tanda waqaf”.
Dua prinsip itu harus betul-betul dipahami oleh para penghafal al-Qur`ân yang mengimami shalat tarawih. Mulai dari yang semalam membaca seperampat juz, setengah juz, satu juz sampai ada yang meminta menjadi imam sebanyak lima juz pada saat shalat tarawih maupun tahajjud. Hal ini bagi masyarakat yang belum akrab, akan mengalami rasa capek dan ngantuk.
Tetapi, kalau kita menikmati keindahan bercengkrama dengan-Nya melalui membaca al-Qur`ân akan terasa nikmat, semakin banyak yang dibaca semakin meningkatkan frekuensi kita dengan Allah Swt. Ada hadis Nabi Muhammad Saw yang perlu direnungkan, yaitu:
“Tidak boleh hasad kecuali dalam dua hal yaitu pertama: seseorang yang telah diberi (pemahaman) al-Qur`ân oleh Allah, kemudian ia membaca ketika shalat disepanjang malam dan siang hari. Kedua: seseorang yang diberi harta oleh Allah, dan ia menginfakkannya disepanjang malam dan siang hari”.
Hadis ini menjadi sebuah inspirasi bagi para penghafal al-Qur`ân untuk menjadikannya sebuah ritual. Mengapa? Karena al-Qur`ân yang kita telah hafal merupakan bagian dari pemberian-Nya yang harus kita dalam shalat. Ia laksana sebuah harta yang diberikan-Nya tetapi manusia tidak menginfakkannya ke jalan yang diridhai-Nya.
Kewajiban diatas menurut Khalid Abdul Karîm al-Lâhim dalam kitabnya Mafâtih al-Tadabbur al-Qur`ân wa al-Najâh fi al-Hayât bahwa orang yang telah diberikan al-Qur`ân namun ia tidur tanpa menggunakannya (membacanya) dalam shalat, ia bagaikan orang yang membeli minyak wangi kemudian membiarkannya tertutup dan tidak ia gunakan atau pakai (Abdul Karîm al-Lâhim, Cet. II, 2007: 61). Al-Qur`ân dan shalat ibarat oksigen dan hidrogen yang akan menghasilkan ‘air’ yang dapat menjadi kebutuhan konsumsi jiwa dan hati.
Membaca al-Qur`ân ditengah malam diibaratkan seperti seseorang yang menyiram tanaman di terik matahari atau di siang hari. Produktivitas tumbuh-tumbuhan tidak akan baik. Begitu pula seseorang yang membaca al-Qur`ân di iang hari, sangat berbeda dengan di malam hari. Pada siang hari kesibukan dan hiruk pikuk keadaan, terkadnag membuat seseorang kurang meresapi saat membaca al-Qur`ân. Sedangkan di malam hari ia akan mendapatkan kesejukan dan kebahagian, akibat dari banyak membaca al-Qur`ân. Karenanya, dalam sejarah dan kisah-kisah para penghafal al-Qur`ân, banyak kita temukan mereka-mereka menyukai membaca al-Qur`ân di malam hari.
Ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan yaitu mengapa tradisi ini belum dilakukan dan dipraktekkan ke seluruh masjid-masjid di Indonesia? karena dalam kenyataannya, banyak penghafal al-Qur`ân yang tidak diberdayakan oleh pemerintah. Dampaknya, banyak masjid ketika bulan Ramadhan tiba, mencari imam masjid. Seharusnya, sudah saatnya seorang imam yang ahli di dalam membaca al-Qur`ân, tidak saja pada saat Ramadhan tiba, tetapi setiap hari diluar bulan Ramadhan.
Ketika seseorang membaca al-Qur’an ia akan menemukan makna tersirat dalam setiap ayat-ayat al-Qur`ân. Namun, jika sekali lagi ia membacanya, ia akan mendapatkan makna dan pelajaran baru dari ayat yang sama tersebut, dan begitu seterusnya. Itulah kemukjizatan al-Qur`ân, setiap ayat-ayatnya mampu memancarkan permata, walaupun dibaca oleh orang yang berbeda. Semakin direnungi semakin menemukan makna baru.Keindahan bulan Ramadhan semakin terasa tatkala pergumulan kita lebih intensif dengan al-Qur`ân.
Pahala bagi seseorang yang membaca al-Qur’an akan terasa begitu dahsyat tatkala seseorang terus istiqamah, minimal sekali dalam sehari. Al-Qur`ân akan selalu memberikan solusi dan memberi jalan kelaur buat seseorang yang selalu mencintai al-Qur`ân. Ia tidak saja menjadi perisai kelak di kemudian hari, tetapi menjadi pembela dan penolong dalam kesulitan-kesulitan yang dilalui oleh seseorang semasa di dunia.
Dalam bulan Ramadhan, menyibukkan diri dengan membaca al-Qur`ân sebuah keharusan bagi orang Muslim. Karena sebaik-baik kesibukan adalah membaca al-Qur`ân. Sebaik-baik teman duduk adalah buku. Sebaik-baik tempat hiburan adalah perpustakaan. Sebaik-baik majelis adalah majelis dzikir dan ilmu. Sebaik-baik pengawal adalah amal. Sebaik-baik sahabat adalah yang mengingatkanmu untuk taat kepada Allah, bahkan dengan melihatnya akan ingat kepada Allah.
Pada bulan Ramadhan terdapat ibadah puasa. Puasa merupakan ibadah yang kuno, karena termasuk ibadah yang disyari'atkan jauh sebelum Nabi Muhammad SAW. Ada yang mengatakan mulai dari Nabi Ibrahim AS, dan ada yang berpendapat mulai dari Nabi Adam AS, sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam Surah al-Baqarah/2: 183.
Puasa merupakan junnah (benteng/tameng). Jadi obat stress atau ketegangan pikiran adalah puasa. Pikiran manusia memerlukan puasa untuk beberapa hal yaitu: untuk istirahat, untuk mengendorkan ketegangan dan untuk mengontrol kemauan pikiran. Disinilah letak nilai filosofis ibadah puasa Ramadhan.
Keagungan ibadah Ramadhan disamping sebagai syahru al-`Adzim (bulan agung), syahrul mubârak (bulan penuh berkah), syahru al-Musawwah (bulan santun), syahru al-Sabr (bulan sabar) dan syahru al-Shiyâm (bulan puasa), juga sebagai syahru nuzûli al-Qur`ân (bulan diturunkannya al-Qur`ân). Dengan diturunkannya al-Qur`ân pada bulan Ramadhan, maka aspek membaca al-Qur`ân tidak saja tertuju kepada para penghafal al-Qur`ân, melainkan kepada semua orang-orang muslim.
Tradisi santri penghafal al-Qur`ân ini hakikatnya, tidak saja dinikmati oleh seorang imam, namun juga makmumnya. Muhammad Shâlih al-Munajjid di dalam kitabnya yang berjudul Zhâhiratu Dhu‘ful Îmân menganjurkan dan menawarkan sebuah solusi, jika seseorang sedang mengalami lemahnya iman, maka perbanyak menyimak al-Qur`ân. Dengan mengutip Qs. al-Isrâ/17: 282 yang di dalamnya terdapat perkataan bahwa al-Qur`ân merupakan obat bagi jiwa-jiwa seseorang dan dapat menyembuhkan (Shalih al-Munajjid, 1607: 35).
Konsep membaca al-Qur`ân untuk masyarakat tatkala bulan Ramadhan, untuk mengkhatamkan al-Qur`ân sangat mudah sekali. Biasakanlah setiap habis shalat membaca minimal setengah atau satu juz, jika keberatan dan banyak kesibukan, maka membaca seperampat juz yakni lima halaman. Maka setiap hari bisa membaca satu juz, dan selama sebulan bisa mengkhatamkan al-Qur`ân. Dengan demikian, tidak ada alasan tidak bisa mengkhatamkan al-Qur`ân bagi umat Islam.
Semakin banyak membaca al-Qur`ân di dalam shalat ataupun di luar shalat mampu meningkatkan keimanan seseorang. Modal dari akhlaq adalah iman. Karena posisi iman itu tidak stabil, terkadang ingat Allah SWT, terkadang tidak, maka iman itu harus dirawat dengan ibadah. Ibadah adalah perawatan iman. Dan salah satu cara merawat iman yaitu memperbanyak membaca al-Qur`ân. Al-Qur`ân merupakan sebuah kebutuhan, tidak saja bagi para penjaga al-Qur`ân atau huffâz al-Qur`ân, melainkan kebutuhan bagi semua muslim. Selamat membaca

Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *