Puasa Sebagai Pengingat Tugas Utama Manusia

Puasa ramadhan, tidak dapat dipahami sebagai kewajiban tanpa makna atau rutinitas tahunan, tetapi puasa sebulan ini adalah proses pengembalian jati diri seseorang sebagaimana yang diharapkan oleh pencipta itu sendiri. Al-Qur’an memberitahukan kepada manusia dua hal: sebagai “hamba Allah” dan “penguasa di muka bumi”.

Al-Qur’an, saat menyebut dan memanggil manusia menggunakan pelbagai bahasa, ada “basyar” yang diulang sebanyak 36 kali dan tersebar di 26 surah. Dawam Raharjo dalam Pandangan al-Qur’an Tentang Manusia Dalam Pendidikan Dan Perspektif Al-Qur’an ( Yogyakata: LPPI, 1999, h. 18) menyebut bahwa rentetan istilah untuk manusia memiliki kandungan sebagai manusia dalam hakikatnya dan manusia dalam wujud kongkritnya. Istilah “basyar” ini (dalam perspektif Qur’ani) untuk semua manusia, tak terkecuali nabi dan rasul (Qs. Al-Kahfi [18]: 110).

Ada juga istilah yang melekat pada manusia yaitu “Al-Insan”. Terulang 73 kali dan tersebar di 43 surah. Jika pada kata “basyar” manusia hanya dideteksi dalam perbedaan antara dirinya dengan binatang, maka pada term “Al-Insan” manusia mulai ditempeli beragam sifat, mulai lemah lembut sampai pelupa. Muhammad bin Ali al-Syaukani dalam Fath Al-Qadir (Kairo: Mushtafa Al-Babiy Al-Halabiy, 1964, h. 465) menggaris bawahi bahwa pada term ini manusia dinyatakan sebagai mahluk berbudaya yang mampu bercakap-cakap dan mengetahui baik dan buruk.



Dalam pengungkapan dan penyimpanan informasi, manusia bisa mengingatnya dengan baik dan terkadang salah. Kesalahan inilah penyebab awal dari kerusakan yang terjadi di muka bumi. Ada pula kerusakan bukan disebabkan karena status dirinya lupa, melainkan menjadi pekerjaan utama dirinya. Misalnya di hutan, yang merusak hutan bukan orang utan, melainkan orang betulan yang pintar dan cerdas. Mengapa bisa demikian? Karena apa yang diketahuinya tidak ditumpangi oleh hidayah dan ilmunya yang menempel di akal (Sebagai wadah ilmu) disetir oleh nafsu.

Lebih jauh pembahasan dari dua term di atas, terulang 240 kali dan terebar di 53 surah, manusia di sini dinyatakan sebagai mahluk sosial melalui term “Al-Nas”. Ia mulai berkolaborasi dengan manusia lainnya dan saling melengkapi satu sama lain. Saling berbagi dan menerima. Kata ini lebih global dibandingkan sebelumnya dan efek dari perbuatannya lebih luas. Interkasi antar manusia tidak selamanya harmonis dan baik. Karena teks dan ucapan terkadang dipersepsikan berbeda oleh penerima. Karenanya, kemafsadatanya berpotensi lebih banyak dibandingkan term sebelumnya.

Al-Qur’an pun memberitahukan, ada sebahagian bahan bakar di Neraka kelak dari manusia dan batu. “Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir” (Qs. Al-Baqarah [2]: 24).

Term lainnya masih banyak, tetapi ketiga term di atas cukup mengingatkan kita sebagai manusia yang dilengkapi alat tercanggih. Alat itu ibarat pisau, tergantung ke mana kita memakainya dan menggunakannya. Manusia dalam pengertian positif pada ketiga term di atas bisa mengangkat derajatnya, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (Qs. Al-Isra [17]: 70), tetapi jika dia lalai maka akan terperosok ke tempat yang lebih hina, bahkan lebih hina daripada binatang.

Maka sebagai “hamba Allah” di muka bumi ini, manusia harus selalu mengingat tugas utamanya, yakni beribadah kepada Allah SWT. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku(Qs. Al-Dzariyat [51]: 56). Beribadah tidak saja terpaku pada ritual shalat dan zakat. Dalam perspektif Sunni, segala sesuatu yang awalnya dilandaskan karena Allah, ia bisa menjadi ibadah. Penambal ban, yang di dalamnya bekerjanya, jika diniatkan untuk ibadah dan mencari rejeki yang halal, maka aktivitasnya dinilai ibadah. Islam tidak pernah memandang rendah seseorang karena statsu pekerjaannya, melainkan ketakwaannya. Saat Al-Qur’an menjelaskan makna ibadah pada ayat tersebut, ia bermakna luas maka pengertiannya jangan dipersempit, terlebih jika ibadah hanya dimaknai dengan seperangkat simbol-simbol agama.

Status hamba Allah itu dilengkapi dengan penyerahan tugas oleh Allah berupa menjadi penguasa di muka bumi ini, bukan tanpa konsekuensi, manusia memiliki tanggung jawab, baik pribadinya sampai skala luas. Di dalam rumah, tanggung jawab seorang laki-laki (misalnya) menjaga sanak keluarga masuk ke dalam Neraka. Bagaimana agar tidak masuk Neraka? Ajaklah seluruh isi rumah Anda untuk beribadah sebagaimana perintah pertama Allah di muka bumi ini.

Di dalam mengemban tanggung jawab tersebut, manusia disuruh berlaku adil dan memperlakukan seseorang dengan ihsan. Ihsan dengan pengertian luas dan konteks pembahasan di sini yakni memberitahukan dengan penuh kesopanan. Jangan dianggap bahwa informasi atau kritikan yang diberikan oleh seseorang merupakan bentuk ketidaksopanan. Di masyarakat kerap pengertian ihsan dalam konteks saling memberitahukan dimaknai secara sempit.

Puasa Ramadhan, di mana masyarakat menjadikannya sebagai bulan muhasabah dan introspeksi diri, sejatinya sebagai alarm untuk mengingat kembali tugas utama kita di muka bumi. Di muka bumi ini, bukan sekedar huru hara dan bermain-main, melainkan menanam amal kebajikan sebanyak mungkin, guna dapat diraih di akhirat kelak.

Penting pula dijadikan alarm, terkadang kita lebih asyik bernostalgia dengan Tuhan hanya pada bulan puasa Ramadhan, namun saat puasa Ramadhan meninggalkan kita, kita kembali mendominasikan kehidupan kita kepada aktivitas duniawi. Sekalipun aktivitas dunia bisa bermakna ibadah, namun lebih baik jika keseimbangan mampu kita ciptakan sejak dini. Karena perkara yang sangat dicintai oleh-Nya adalah tengah-tengah dan seimbang, seimbang antara dunia dan akhirat. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *