Puasa Sarana Dalam Memperlembut Hati

"KETENANGAN itu akan hadir bila diri kamu DEKAT DENGAN ALLAH. Dan KEKERASAN itu akan hadir jika diri kamu JAUH DENGAN ALLAH"


Puasa, lagi-lagi memiliki khasiat luar biasa. Ia sarana mempercantik jiwa bahkan bagi perempuan, puasa sebagai ladang memperlangsing dirinya. Manfaat puasa tak terelakkan. Jika ada seseorang berpuasa, namun dirinya tidak sehat dan menjadi sakit, itu disebabkan pola makan-minum dan tidurnya yang tidak teratur, bukan puasanya yang tidak baik. Hasil penelitian Dr. Ebrahim Kazim dengan menggunakan EEG (perekam gelombang otak) menunjukkan puasa membuat tidur lebih berkualitas atau Deep sleep, sehingga berpengaruh pada perbaikan tubuh dan otak.


Salah satu rahasia puasa adalah mampu membuat hati orang menjadi lembut. Kelembutan hati seseorang bukan ditandai karena ia mudah menangis, TIDAK. Tetapi bukti pertama yang diajukan Al-Qur'an, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal” (Qs. Al-Anfal [8]: 2).


Di bulan puasa ini, masyarakat Indonesia banyak yang tiba-tiba menghabiskan waktunya untuk membaca Qur'an dan memperbanyak berdzikir. Namun setelah puasa ramadhan menghilang, ia pun tidak konsisten lagi mengerjakan amal kebajikan yang rutin ia lakukan di dalam bulan puasa ramadhan. Seharusnya, sebelum dan sesudah ia tetap melaksanakannya. Agar hati tetap stabil dan steril. Iman pun tetap mantab dan tidak turun drastis ke jurang.


Mengapa diperlukan hati yang lembut? Ada beberapa fenomena di dalam sejarah yang menyebabkan permusuhan tak ada hentinya bahkan ada saja orang yang memancing orang lain marah. Membangunkan singa yang sedang tertidur lelap.


Pertama, iri hati. Sejarah mencatat kisah Qabil yang iri hati kepada Habil karena kurban Habil diterima, sedangkan kurban Qabil ditolak oleh Allah SWT. "Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa" (Qs. Al-Maidah [5]: 27).


Namun niat buruk Qabil, sudah diberitahukan oleh Habil, bahwa ia tidak akan membalasnya. "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam" (Qs. Al-Maidah [5]: 28). Mengapa Qabil memiliki dorongan untuk membunuh? Al-Qur'an sudah menjawabnya, "Maka hawa nafsu Kabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi" (Qs. Al-Maidah [5]: 30). Semua karena berawal dari iri hati dan hawa nafsu.


Kedua, permusuhan bisa disebabkan karena di seberang sana ada yang merasa kedudukannya terancam dan kepentingannya terusik. Kasus terakhir di Indonesia yang lagi hot adalah terkait keinginan pemerintah membubarkan kelompok HTI dan HTI tidak menerima.


Di dalam sejarah, orang kafir Quraisy Makkah kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka memusuhi Rasul seperti yang terbaca dalam ayat Al-Qur'an. "Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka" (Qs. Muhammad [47]: 32).


Kedua poin yang disajikan Al-Qur'an di atas, seharusnya menjadi renungan kita sehari-hari. Bahwasanya melembutkan hati itu tidak mudah, ia membutuhkan proses yang cukup lama. Tetapi hati yang lembut bukan berarti seseorang tidak bisa bangkit ketika dirinya diusik dan disenggolnya. Di sini, korelasi antara sabar dan ridha sangat penting. Semoga hati kita semua bisa selembut hati para ulama-ulama kita.

Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *