Puasa Ramadhan dan Sistem Nafsani

“Di dunia, orang dikenal dari keluarganya. Tetapi di akhirat, hanya perbuatan baik yang diakui”


—Ja’far Shadiq


Al-Qur’an Al-Karim, tepatnya pada Qs. Al-Syams mengsinyalir bahwasanya manusia di ciptakan oleh Allah dengan kejiwaan yang sempurna. Ia diberikan potensi untuk mengetahui yang baik dan buruk. Ia pun mengerti cara meningkatkan kualitas ketakwaannya dan juga memahami tindakan yang dapat memerosotkan dirinya ke jurang kehinaan.

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (Qs. Al-Syams [91]: 7-10).

Beberapa ayat Al-Qur’an yang didahului kata “wa” memiliki makna dahsyat. Misalnya, kata “wa” pada “wa nafsin” adalah bentuk qasam (sumpah). Artinya, kata “nafs” pada Qs. Al-Syams [91]: 7 memiliki makna luar biasa dan sempurna, terlebih ditutup dengan kalimat “wamâ sawwâha” yang mengandung makna kesempurnaan sejati.

Lebih jauh lagi, dalam ayat tersebut, kata “fujûrahâ” (keburukan) didahulukan daripada kata “taqwâhâ”. Manusia yang dijustis sebagai mahluk sempurna dan memiliki kelebihan dibandingkan ciptaan Tuhan lainnya, lebih mudah mendeteksi sebuah keburukan dibandingkan kebaikan. Bukan dikarenakan manusia secara fitri menyukai keburukan, melainkan sensitifitas terhadap keburukan lebih dominan dibandingkan kebaikan.

Perbuatan buruk yang dilakukannya akan berkelahi terlebih dahulu dengan nuraninya. Adapun berbuat baik, ia akan mudah tanpa ada hambatan sedikitpun, karena itu desain fitrahnya (lahâ mâ kasabat). Bagaimana manusia yang susah melakukan kebaikan dan berat melaksanakannya? Itu menandakan dirinya dan jiwanya sedang tidak stabil dan memerlukan pembersihan diri (tazkiyatu Al-Nafs) kembali.

Mengapa manusia suka melakukan perbuatan baik?. Pertama, Al-Qur’an menyebut manusia memiliki “konstruksi terbaik”, yang dalam istilah Qur’aninya dikenal “ahsani taqwîm”. Kata yang digunakan pada surah Al-Tîn [95]: 4 adalah “insan” bukan “basyar”, maka tafsiran yang paling cocok untuk konteks ayat tersebut adalah “konstruksi atau struktur psikologis yang paling prima. Ini diperlukan sebagai upaya pengkerdilan kepada beberapa manusia yang terlahir dalam keadaan cacat dan menghilangkan stigma bahwa Tuhan tidak adil.

Kedua, fitrah keberagamaan yang hanîf. Fitrah sejati manusia adalah patuh kepada perintah Allah SWT dan enggan mengingkarinya. Potensi keberagamaan yang hanif ini bisa di dalam perjalannnya bisa dipengaruhi oleh hal-hal eksternal, manakala seseorang terkena virus kemunafikan dan kemusyrikan. Bukti kongkrit bahwasanya manusia merindukan Tuhan selalu dalam kehidupannya, bisa dilihat tatkala seseorang terjepit dan tidak ada lagi tempat mengadu, maka kerap terlontar dari lidahnya yang tak bertulang itu sebuah ucapan, “Allah, Allah, Allah”. Ia membutuhkan perlindungan sejati dan karunia murni. Yang tak lain, ia membutuhkan kehadiran Sang Maha Kuat.

Ketiga, fitrah bertauhid. Manusia diciptakan oleh Tuhan dan tidak ada seorang pun yang mampu mengingkarinya secara hakiki. Anda boleh mengatakan bahwa Anda tidak percaya pada Tuhan, namun jika Anda jujur, maka Anda menginginkan sesuatu yang mampu membantu Anda. Mengapa? Kata “hanif” dalam Qur’an memiliki arti “condong” yang dalam Bahasa Arab bersifat positif. Condong berbuat baik, condong berserah diri kepada Yang Maha Kuasa dan sejenisnya.

Ketiganya merupakan bagian dari sistem nafsani. Di dalam konstruk manusia memiliki dimensi ruhani yang terdiri dari nafs, aql, qalb, ruh dan basyirah. Kata nafs dalam ayat-ayat Al-Qur’an digambarkan sebagai sebuah ruangan yang sangat luas dalam alam ruhani manusia. Cara kerja nafs dilakukan melalui komunikasi dan jaringan qalb, aql dan basyirah.

Fungsi qalb adalah sebagai filter dan pengelola hal-hal yang ditangkap oleh nafs. Ia bisa dinamis dan terkadang tempramental. Ia bisa naik dan turun, layaknya angin. Terkadang pelan dan bisa juga kencang. Qalb tidak bisa bekerja sendiri, ia membutuhkan aql untuk memecahkan masalah yang sedang ia hadapi. Namun, aql dan qalb harus dipasangkan dengan basyirah yang mengoreksi penyimpangan-penyimpangan yang ada.

Bulan puasa ramadhan, tidak lain adalah peningkatan kualitas dan kuantitas diri seseorang. Ia mengaktifkan instrumen-instrumen yang telah lama tidak aktif dan berfungsi. Hati yang sebelumnya beku dan kaku, tersirami oleh siraman Ilahiyah, baik melalui dzikir dan membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Akal yang dulunya berada nomor satu, namun ketika disandingkan dengan dzikir, akal tidak lagi sendirian. Tindakannya pun semakin membaik dan tidak semberono. Tidak mementingkan diri sendiri dan haus dahaga pribadinya.

Semuanya jika berjalan seimbang maka akan melahirkan: ilmiah, amaliah dan ilahiyah. Ilmiah yang berporos pada akal, amaliyah yang dilakukan karena dorongan dari hati dan Ilahiyah karena aktifnya basyirah seseorang. Keaktifan semua instrumen mampu membawa seseorang kepada jiwa yang tenang. Jiwa yang tenang dalam Al-Qur’an itu ditandai dengan beberapa hal, yaitu: memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan, merasa aman karena yakin akan kehadiran-Nya dan hatinya tentram tidak gundah gulana. Berbuat baiklah sebanyak-banyaknya sehingga bisa menjadi bekal di akhirat kelak nanti. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *