Puasa dan Idul Fitri

Di pagi hari ini, kita kaum Muslimin serentak mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil di masjid dan di lapangan. Tujuannnya, memuji kebesaran Allah SWT, Tuhan yang Maha Agung, tumpuan segala puji dan dambaan kita. Suara takbir, tahmid dan tahlil bergemuruh dimana-mana, sejak berjalan dari kota Gorontalo sampai di Pohuwato, bahkan di mana pun umat Muslim berada, tidak ada henti-hentinya umat Muslim membasahi bibirnya, melantunkannya dengan penuh haru, berbaur antara suka dan duka, rasa bahagia dan penyesalan.

Ketika kaki ini mulai menginjakkan di atas sajadah, tempat shalat yang telah disediakan panitia. Pikiran terbayang kelakuan masa lalu yang begitu pekat hitamnya. Di satu sisi, menatap masa depan cerah, sebuah kepastian. Seperti kisah yang dipaparkan oleh Andire Wongo tentang seekor Rusa yang sudah siap di mangsa oleh Singa [Baca: Jangan Ragukan Potensi Dalam Diri Anda].

Hari ini, kita dilimpahkan nikmat, berupa kesempatan untuk merayakan sekaligus hari syukuran, setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan. Hari kemenangan, setelah mengalahkan hawa nafsu. Hari gembira, setelah lulu penataran sebulan penuh. Hari ketentraman, karena dengan puasa yang kita lakukan disertai penuh keikhlasan, membuat kita semakin dekat dengan-Nya. Harapannya, semoga tegrolong ke dalam pribadi muttaqin. Hari maaf memaafkan, dengan harapan pula, mampu menenangkan jiwa yang sebelumnya diselimuti oleh gejolak dan birahi keduniaan.

Hari ini adalah hari Idul Fitri. Daur ulang, kembali menjadi fitrah. Kembali kepada kesucian jasmani dan rohani. Menurut Imam Ghazali, puasa adalah sarana penyucian jiwa yang telah ditopang oleh jasad. Ketika lolos, maka jasad tak berharga itu tampak menawan, ketika dipandang oleh manusia, dan Allah akan selalu menyukai pribadinya. Namun, di satu sisi, hakikat Idul Fitri hanya dapat dirasakan oleh mereka-mereka yang berpuasa Ramadhan. Sedangkan, Idul Fitri bagi orang-orang yang enggan melaksanakan, hanyalah suatu hari raya, perayaan tahunan yang dikemas dengan sejuta kearifan lokal dan dibalut oleh tradisi. Artinya, Idul Fitri hanyalah suatu pesta seremonial sekali setahun. Layaknya, sebuah peristiwa wisuda para sarjanawan setiap tahunnya.

Kini, bulan yang penuh dengan sejuta kemuliaan itu telah meninggalkan kita, ia telah tiada, dia pergi membawa sejuta kenawan dan segala catatan. Catatan baik dan buruk manusia. Pastinya, ia akan kembali, karena ia sebuah ibadah tahunan. Namun, kita–umat Muslim—belum tentu akan menjumpainya dan bertemu dengannya.

Bulan Ramadhan kemarin, kita bagaikan ‘malaikat’ yang tampil dengan pakaian kesucian. Bibir selalu basah dan lidah selalu mengeluarkan ucapan yang bermoral. Kita betul-betul ditempah secara spiritual, ada modal besar untuk menjalani 11 bulan selanjutnya. Semoga lidah suci tersebut tidak kita gunakan lagi untuk mengucap dan menyebut binatang yang tidak mempunyai dosa. Dengan lidah, tajamnya melebihi pedang, sayatannya melebihi silet, namun hujamannya tembus ke pori-pori kehidupan.

Pohuwato dan Renungan Hari Ini

Kita patut bersedih, karena kabupaten Pohuwato, sebagai salah satu kabupaten di Gorontalo, dikenal sebagai daerah potensial, SDM melimpah ruah, namun kenyataannya, masih banyak manusia hidup tak berdaya, hidup dalam kunkungan sejuta masalah, bahkan masih banyak hidup dibawah garis kemiskinan.

Renungan yang harus kita lakukan, bahwa kenyataan ini bukan semata wayang kesalahan dari pemerintah, tetapi kesalahan yang bersumber dari diri kita sendiri. Kita—masyarakat luas umumnya—masih banyak hidup konsumtif. Penghasilan hari ini, habis hari ini juga. Hidup dalam penuh kesantaian, bermalas-malasan, behura-hura, sekalipun potensi diri yang dapat berkreasi dan berinovatif dipendam dalam-dalam, malu dan terkadang enggan, karena terlanjur dibalut ego.

Pemerintah bukanlah Tuhan, tetapi penyambung lidah Tuhan. Tanpa keikutsertaan Tuhan, pemerintah tak berdaya. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” [Qs. al-Ra’d/13: 11]. Ketika masyarakat tidak merubah pikirannya, maka tidak akan menjadi masyarakat yang maju. Samuel Smiles, ketika berbiacara masalah gagasan atau pikiran manusia, ia berkata:
“Tanamlah gagasan, petiklah tindakan. Tanamlah tindakan, petiklah kebiasaan. Tanamlah kebiasaan, petiklah watak. Tanamlah watak, petiklah nasib. Dimulai dari gagasan yang diwujudkan dalam tindakan, kemudian tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan berkali-kali akan menjelma menjadi watak, dan watak inilah yang akhirnya mengantarkan kita kepada nasib. Jadi nasib kita, kita sendirilah yang menentukan. Nasib kita ada di tangan kita.”

Namun, pemerintah tetap dan terus berupaya, untuk menjadikan Pohuwato, tahun ini dan tahun berikutnya sebagai tahun pemberdayaan. Tahun dimana watak masyarakat harus dirubah, karena untuk menjadi petani yang sukses, nelayan yang berhasil, birokrat yang profesional, tidak cukup hanya disuguhkan deretan penyuluhan, namun pemerintah harus menyelipkan segala program dan gerakannya dengan penguatan akidah dan agama.

Puasa dan Idul Fitri

Di hari fitri dan suci ini, sekaligus melengkapi makna kefitrahan, sebagai manusia biasa, tentu kita pernah bahkan selalu berinteraksi dengan orang lain. Baik di sengaja atau tidak, karena sedikit banyak terlintas dan terbayang dalam setiap ingatan kita. Oleh karena itulah, saya, Anda dan kita semua harus memberanikan diri untuk meminta atas kesalahan yang kita pernah lakukan pada orang lain. Dan bagi kita yang merasa pernah disakiti, dikecewakan, disisihkan bahkan dimarjinalkan, marila kita maafkan mereka semua tanpa belas kasih. Tulus dan ikhlas dalam memaafkan orang lain.

Kewajiban hati kita kepada Allah saat puasa Ramadhan telah terpenuhi dengan baik. Baik itu dzikir, ibadah tambahan, istighfar dan segala kebaikan lainnya. Ketika Ramadhan pergi, kita tanyakan ke hati kita, bagaimana kewajiban hati kita pada orang lain. Sudahkah terpenuhi dengan baik?

Adakah di dalamnya, tersimpan catatan kebencian pada orang lain, karena tercemarnya harga diri kita? adakah perasaan dendam, karena kehormatan kita terganggu? adakah semangat dan gejolak permusuhan tersimpan rapi, karena perbedaan pandangan dan ideologi? Dan lain sebagainya. Apakah penderitaan yang dialami oleh hati terus kita biarkan begitu saja?.

Manusia di dalam al-Qur’an teridentifikasi sebagai mahluk yang kurang berterima kasih. Bahkan terkadang tidak memiliki perasaan. Kita telah melakukan kedurhakaan yang besar, tidak saja kepada orang lain yang tidak memiliki hubungan darah, tetapi kepada kedua orang tua kita, yang telah menyapih dan menolong, membesarkan bahkan mempertaruhkan nyawanya pada kita, sekalipun kita telah ingkar padanya. Semoga, sebelum kita meminta maaf pada orang lain, marilah kita meminta maaf pada orang tua kita terlebih dahulu. Sebelum pesiar ke rumah orang, marilah kita ziarah dan mendoakan ke rumah pemakaman orang tua kita—bagi yang sudah ditinggal wafat oleh ibu-bapaknya.

Semoga, amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima Allah. Dan menjadi bekal kita menjalani bulan-bulan selanjutnya. Dan hari ini, setelah menjadi fitri kembali, kita tetap menjadi manusia yang fitri, sekalipun terlibat dalam noda dan dosa, kita selalu membersihkannya dengan melakukakan kebaikan-kebaikan setiap hari.
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *