Puasa: Antara Tidur dan Menulis

"Yang penting bukan berapa lama Anda hidup, melainkan berapa amal yang Anda perbuat selama hidup"


—Cicero


Puasa, sebuah perintah yang harus dilakukan oleh setiap Muslim. Pelaksanaannya sudah ada sejak sebelum Islam datang. Kata “kutiba” dalam ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan perintah puasa, ditafsirkan para mufassir dengan “furida”, kewajiban yang harus dilakukan dan siapa yang mengingkarinya dan meninggalkannya bukan karena halangan yang urgen, ia termasuk orang yang murtad. Di akhir ayat Qs. Al-Baqarah [2]: 183, ada sebuah harapan dari Tuhan.

Apa sebabnya Tuhan mengharapkan kepada manusia, di mana sejatinya Tuhan tidak membutuhkan apa-apa dari Tuhan, bahkan manusia yang tidak melaksanakan puasa pun tak ada artinya bagi kebesaran-Nya. Namun Tuhan berharap agar manusia bertakwa. Ada beberapa hal, agar manusia mampu mencapai takwa.

Pertama, kemuliaan akan diraih olehnya, sebuah pemberian resmi dari-Nya. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Qs. Al-Hujurât [49]: 13). Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang mulia adalah orang-orang yang bertakwa. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan kecuali ketakwaan yang dimilikinya. Tua dan muda hanyalah perbedaan usia dan pengalaman, namun itu tidak bermakna jika tak memiliki takwa.

Kedua, dijanjikan Allah berupa diberikan solusi jika mendapat masalah, diluaskan rejekinya dan diberikan dari sesuatu yang tidak disangka-sangkanya. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu(Qs. Al-Thalâq [65]: 2-3).

Ayat ini ingin memberitahukan, bahwasanya rejeki yang tidak disangka-sangka bukan berarti ia diberikan tanpa ada ikhtiar yang dilakukan oleh seseorang. Dan ini bermakna umum, untuk semua manusia. Kata “makhraja” itu dituju kepada “ala Al-Nâsi”, tidak saja Muslim melainkan juga non-Muslim. Siapa-siapa yang berikhtiar (berusaha) kemudian ia pasrahkan semuanya kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberikan keluasan kepada seseorang.

Ketiga, diberikan surga. Ketika kemulian sudah diraih, kenikmatan itu ia dapatkan sejak di dunia dan kenikmatan di akhirat berupa pemberian surga bagi orang-orang yang bertakwa. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa(Qs. Ali Imrân [3]: 133). Bulan puasa adalah bulan ampunan (maghfirah), maka tepat kiranya kita meminta ampunan atas dosa-dosa yang sudah kita lakukan, kekhilafan sebagai manusia biasa. Dan ampunannya lebih luas dari marah-Nya. Surga berhak dimiliki oleh dirinya, jika permintaan ampunan sudah diterima oleh Allah SWT.

Ketiganya menjadi sesuatu yang mutlak untuk dicari oleh setiap manusia. Maka bulan puasa, bukan bulan tidur. Sebagaimana beberapa manusia kerap berlindung di bawah hadis, “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.” Seharusnya, orientasi dan niatnya sejak tekad sudah dipasang, maka beribadah sebanyak-banyaknya adalah keniscayaan.

Berbeda halnya, seseorang yang sedang mengaji dan menulis, tiba-tiba ia tertidur maka tidurnya itu termasuk ibadah. Namun, jika sedari awal meniatkan diri bahwa tidurnya agar mendapat pahala dan tidak beramal, maka tidurnya tidak berbuah apa-apa. Ibarat seseorang yang ingin menghindari keburukan dengan tidak melakukan sesuatu. Ia lebih baik diam agar terhindar dari kesalahan. Padahal kesalahan saat melakukan amal perbuatan adalah lebih baik daripada diam tak bermakna. Kesalahan itu bisa ditutupi dengan tidak melakukannya kembali.

Diam itu ibadah, bukan berarti menghilangkan kreativitas dan inovatifitas seseorang. Termasuk di dalamnya, selama berpuasa ia tumpahkan dirinya untuk menulis. Menulis bisa menjadi wadah dan sarana menjemput pahala di sisi-Nya, jika diniatkan untuk beribadah pula. Apa ibadahnya? Menyebarkan ilmu yang telah dipelajarinya dan dimilikinya untuk dikonsumsi masyarakat luas. Bukankah para ulama, banyak yang menulis saat dirinya berpuasa?

Seorang syaikh asal Sudan, Syaikh Bashir Mohammad Bashir berpuasa berbicara. Ia memutuskan tidak berbicara selama 25 tahun lamanya. Sejak saat itu ia pun dijuluki “silent syaikh”. Sebagaimana yang dilansir oleh Al-Arabiya (25/02/2015), Syaikh Bashir berkomunikasi dengan menuliskan apa yang ingin dikatakan di atas kertas putih. “Saya menggunakan pulpen saya hanya untuk menulis yang menyenangkan hati sahabat saya. Saya menemukan ketenangan pikiran dalam keheningan,” tambahnya. Ini berpuasa yang sungguh bermakna.

Kitab Syarh Al-Baiqûni fî Mustalah ‘Ilm Al-Hadîs disalin oleh Husain bin Al-Marhum Abu Bakar Al-Asyi dan kitab Bidâyat Al-Mubtadi bi-Fadhli Allah Al-Muhdi yang keduanya disalin di bulan puasa. Begitu pula kitab Qatr Al-Nidâ’ karya ulama Arab Abu Abdullah Jamaluddin Muhammad ibn Yusuf ibn Hisyam Al-Anshari, yang disalin oleh Leube Adam Amud pada hari Senin, 25 Ramadhan, masa Sultan ‘Alauddin Muhammad Syah. Dan banyak lagi kitab-kitab dan buku-buku yang ditulis selama bulan puasa.

Pesan yang ingin disampaikan pada beberapa hal di atas adalah aktivitas selama bulan puasa jangan mengendor, justru slogan puasa meningkatkan kesehatan menjadi sarana seseorang untuk lebih giat dan meningkatkan kreativitasnya. Bagi penulis buku, minimal satu buku dituliskannya selama puasa. Usai membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, pastinya ia mendapat siraman rohani dan ide-ide bagus yang patut dituliskannya. Sebagaimana pengalaman penulis saat menulis naskah The Five Principles of Life ditulis selama bulan puasa tahun 2016.

Jangan lewatkan hari-hari Anda dengan sia-sia dan tidak bermakna. Kata saja memiliki mata dan makna. Apalah artinya, jika Anda mengaku manusia namun tidak memiliki makna selama hidup di dunia. Pantas jika Tuhan menyebut manusia yang tidak menggunakan seluruh alat instrumental yang telah diberikannya lebih rendah derajatnya daripada binatang. Mengapa? Karena binatang hanya menuruti nafsunya. Sedangkan manusia dituntut untuk mengoptimalkan akal-pikiran dan nafsunya bisa dikontrol. Agar ia menjadi manusia yang bermanfaat, utamanya selama berpuasa Ramadhan. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *