Profetik-Esoterik-Spiritualis Isa Al-Masih

Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan. Dia memberiku kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraanku semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali


Qs. Maryam/19: 30-33


 

Al-Qur’an diturunkan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan Tuhan. Transmisi messages dari sender (Tuhan) kepada receiver-sender (malaikat Jibril) dan ditransmisikan lagi pada receiver-sender (Nabi Muhammad SAW), kemudian Nabi Muhammad pun mentransmisikan pada manusia (reciever) sebagai objek yang membutuhkan. Al-Qur’an adalah “tali Tuhan yang terulur dari langit ke bumi”. Di dalamnya ada berita umat terdahulu dan yang akan datang. Salah satu beritanya adalah sosok Isa Al-Masih (selanjutnya disebut Nabi Isa) dalam panggilan Islam, Yesus Kristus dalam panggilan umat Kristen Protestan dan Katolik.

Profesor Abbas Mahmud Al-Aqqad—sastrawan Mesir—dalam bukunya Hayat al-Masih fi al-Tarikh wa Khusyuf al-Asr al-Hadits (edisi revisi) mengatakan bahwa “Al-Masih (Nabi Isa) adalah seorang yang berpenampilan sangat terhormat, perawakannya sedang, dari wajahnya terpancar kasih sayang bercampur wibawa, sehingga yang melihatnya simpati kepadanya sekaligus takut. Rambutnya lurus rapi, tapi di bagian telingannya keriting lagi mengkilat. Tidak terdapat di wajahnya sedikit pun keburukan, bahkan dia tampak berseri. Seluruh penampilannya adalah kebenaran dan kasih sayang. Tidak sedikit pun terlihat aib atau kekurangan pada mulut dan hidungnya. Matanya kalau mengecam, tapi menyenangkan bila mengajak dan mengajar. Tidak seorang pun pernah melihatnya tertawa, tetapi banyak yang melihatnya menangis. Orangnya tinggi, memiliki tangan yang panjang, indah dan lurus. Uraiannya seimbang, penuh hikmah, tidak berpanjang-panjang. Penampilannya mengatasi apa yang dikenal pada kebanyakan orang.”

 Rekam Jejak Nabi Isa

Periode awal Masehi, Nabi Isa datang untuk membawa berita baik untuk Bani Israil. Ajaran monoteisme-nya tidak berbeda dengan Nabi Ibrahim, Ishak, Ya’kub bahkan Daud. Karen Armstrong—seorang monoteis freelance—dalam bukunya Sejarah Tuhan: Kisah 4.000 Tahun Pencarian Tuhan dalam Agama-Agama Manusia (2011) menyetujui gagasan di atas dengan menyatakan bahwa konsep “Trinitas bukanlah formulasi yang logis, melainkan paradigma imajinatif yang mengacaukan akal sehat dan kejernihan intelektual."

Seluruh kekuatan akal, baik dari kalangan Muslim atau non-Muslim, sastrawan atau sejarawan dan mufasir atau pen-takwil terlibat dalam perdebatan akademik-ilmiah-rasional tentang sosok Nabi Isa. Perdebatan serius Kristen-Islam bermuara pada salib al-Masih atau thariq al-Alam (jalan sengsara). Berawal dari ajaran Islam yang menolak historisitas penyaliban Nabi Isa (Qs. al-Nisa’/4: 157) dan munculnya “teori penggantian” dikalangan Muslim yang diwakili oleh mufasir klasik, yang menurut Tarif Khalidi—dalam bukunya The Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic Literature (2003)---tidak memuaskan umat Muslim dengan “teori penggantian”. Sedangkan disisi lain, kelompok Ahmadiyah Qadian bersikukuh, melalui Mirza Ghulam Ahmad—dalam bukunya Jesus in India: Jesus’ Delive rance from the Cross & Journey to India (2003)—mengakui historisitas penyaliban Yesus.

Terlepas dari perdebatan yang ada, pengikut Nabi Isa yang tidak menyebut Nabi Isa sebagai Tuhan, masih ada. Abbas mengatakan bahwa “orang yang menghuni rumah peribadatan di Qumran itu adalah kelompok Esenes. Salah satu sekte konservatif dan sangat erat mempertahankan ajaran agama Yahudi.” Bagi mereka, Nabi Isa akan menjadi juru selamat, seperti pemahaman umumnya umat Muslim. “Dalam sumpah keberagamaan, mereka terbagi menjadi tiga kelas”, yaitu: “beriman pada hari kiamat”, “kebangkitan” dan “kerasulan Almasih, sang juru selamat”.

Jadi, sampai hari ini masih ada pengikut Nabi Isa yang taat pada ajarannya dan mengingkari doktrin Trinitas. Mereka menyebut dirinya dengan nama “Unitarian Christians”. Mereka menganggap bahwa Nabi Isa adalah rasul dan utusan Tuhan, bukan Tuhan yang memiliki anak dan keturunan. Perbedaan dengan kepercayaan Muslim adalah umat Muslim menganggap Nabi Isa sebagai rasul dan Nabi Muhamamd rasul terakhir. Sedangkan mereka menyakini Nabi Isa sebagai rasul, tapi tidak mengakui Nabi Muhamamd rasul terakhir. Dan setelah enam abad berlalu, periode dan masa dakwah Nabi Isa habis, agama Islam pun diturunkan oleh-Nya di Jazirah Arab, melalui Nabi Muhammad SAW.

 Profetik-Esoterik-Spiritualis Isa Al-Masih

Bangunan ilmu (sosial) profetik—mengacu pada strukturalisme Levi-Strauss—mengenal tiga komponen untuk mendeteksi profetik Nabi—dalam hal ini Isa Al-Masih—yaitu: innate structuring capacity (tauhid), deep structure (akidah, ibadah, akhlak, syariat dan muamalah) dan surface structure (keyakinan, rukun Islam, moral dan etika, prilaku normatif dan prilaku sehari-hari). Dilihat dari ketiga konsep itu, maka esensi semua tauhid yang pernah diturunkan oleh Allah sama. Melalui kitab suci, Tuhan mengabarkan kecerdasan spiritualisme sebagai problem solving untuk segala jenis medan.

Kecerdasan profetik dan kecerdasan spiritual Nabi Isa ini berbeda dengan nabi-nabi lainnya. Nabi Isa diajari “kecerdasan spiritual” untuk “kedewasaan karakter”. Setelah memahami kecerdasan spiritual beserta aplikasinya, dan dibantu dengan kekuatan dorongan kecerdasan IQ dan EQ, Nabi Isa lahir sebagai seorang yang bijaksana. Kalangan rohaniwan menganggap bahwa karena “kerelaan dan keikhlasan dalam menyerahkan nyawa demi Kehendak Tuhan” membuat dirinya berada “dipuncak derajat tertinggi”. Namun, gagasan ini bersebrangan dengan firman-Nya dalam Qs. al-Nisa’/4: 157. Dimana mereka (pengikut Nabi Isa) “tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya”.

Kecerdasan Spiritual yang bisa kita ambil dari Nabi Isa untuk zaman sekarang adalah “syariat kasih sayang”—istilah al-Qur’annya “syariat kelemah-lembutan” (Qs. al-Kahfi/18: 19)—dan “qiblah rohaniah”. Pendidikan tinggi (IQ), jiwa dan emosi yang stabil (EQ), religiusitas (SQ) belum menjadi jaminan bisa mempraktekkan “kecerdasan spiritual”. Di sini, “kecerdasan spiritual” berbeda proses prakteknya dengan “religiusitas”. Dengan memiliki “kecerdasan spiritual” ini, para nabi memiliki kekuatan lebih dibandingkan manusia umumnya. Namun, upaya untuk mendekatinya bisa dilakukan dengan keimanan dan kesabaran tinggi. Istilah Naquib Mahfud, para nabi berada pada derajat “Gabal”—merujuk istilah dalam kitab Mazmur.

Abbas mengatakan dalam bab “syariat al-Hubbi”, bahwa “dengan syariah ini—syariah kasih sayang—al-Masih membatalkan huruf-huruf syariah secara formal dan lahiriah”. Karena pada umumnya, manusia yang hanya memiliki “bayi-bayi rohani” cenderung untuk munafik dalam beragama dan bahkan mengatasnamakan Tuhan demi ambisi birahinya. Padahal, “musuh terbesar dan hawa nafsu” dan “kasih terbesar adalah kasih terhadap musuh”. Mencintai dan mengasihi sesuatu yang dibenci merupakan ajaran Nabi Isa yang sulit kita praktekkan. Sekalipun demikian, Abbas tetap menyuruh untuk mengikutinya, bahwa dengan pindah dari “qiblah jasmaniyah” pada “qiblah rohaniah”, seseorang bisa menggapai “kecerdasan spiritual”.

Harus ada upaya reformasi—dalam artian “pembentukan kembali”—secara transenden, agar manusia bisa kembali sesuai dengan citra awal dirinya. Citra awal manusia yaitu desain asli Tuhan. Dengan desain inilah, Abbas berasumsi bahwa universalitas dakwah (ajaran) Nabi Isa melampaui sekat-sekat kebangsaan dan keyakinan. Dengan demikian, tiga kesatuan—gagasan Levi-Strauss—saling terkait. Akhirnya membentuk pribadi yang di dalam beribadah dan beragama tidak karena takut pada azabnya, melainkan karena cinta. Dengan cinta dan kasih sayang pula, seseorang tidak mencederai ajaran Tuhan dan ajaran yang dibawah oleh para utusan-Nya. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *