Pengetahuan dan Pengamalan

Anak desa, yang ber-KTP di pelosok Gorontalo itu terkesan oleh setiap pembukaan pembicaraannya. Itulah saya yang terpana oleh pembukaan kajian dan ceramah abah Hasyim Muzadi. Pembacaan itu kadang "jahr" dan kadang "sirr", tapi lebih sering "jahr"-nya, kemudian diikuti oleh beberapa penggalan doa khasnya yang sampai saat ini sangat berbekas dalam ingatan saya.
"Mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar"

Penggalan akhir dari sebuah ayat dalam surah Al-Naba' itu memberikan "warning" kepada siapa saja untuk tidak berbicara sesuka hatinya dan atas perintah nafsunya. Tidak suka mendengar hal sia-sia dan berdusta. Umumnya, semakin banyak berbicara semakin berpotensi melakukan kesalahan. Hal ini tampak pada ayat sebelumnya yang berbunyi:
"Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta"

Sebuah anugerah dari Tuhan kepada orang-orang bertakwa, yang dalam perspektif abah Hasyim Muzadi bahwa takwa tidak saja berada dalam tatanan "the concept" melainkan "the real". Tidak efektifnya "kesalehan sosial" seseorang bisa disebabkan oleh faktor (salah satunya): "belum"----untuk tidak mengatakan "tidak"---baiknya hubungan vertikalnya.

Abah Hasyim menekankan agar kekuatan tauhid dan iman itu bisa diimplementasikan dalam muamalah. Fungsinya agar setiap laku tindak disetir oleh hidayah bukan nafsu birahi. Rusaknya hubungan horizontal bisa disebabkan buruknya hubungan vertikal.

Agar di dalam setiap ucapan dan laku tindak seseorang dibimbing oleh Allah maka awalilah segalanya, tidak saja mengucapkan "pujian dan sanjungan", namun juga "permohonan bimbingan". Abah pernah berpesan kepada santri-santrinya yang diselip dalam kajiannya:
Berkata baik atau diam. Jangan berkata kecuali sesudah mendapat izin dari-Nya. Banyak yang berbicara justru menyandung dan memukul dirinya

Diam seribu kata saat mendengar ucapan itu. Bagaimana caranya kita mengetahui sudah mendapat restu dan tidak dari Allah. Mungkin itulah sebabnya, para santri-santri abah Hasyim di Depok disuruh puasa 40 hari sebanyak 5 kali, yang lebih sedikit jumlahnya dari puasa abah sebelum mendirikan pesantren dan kampus STKQ Al-Hikam Depok.

Di situ saya baru sadar, bahwa pengetahuan tentang itu bisa kita ketahui tatkala hati kita bersih, semuanya dicantolkan kepada penguasa langit dan bumi, Allah SWT. Hati yang tidak bersih akan melahirkan tindakan "abu-abu" dan penuh kepalsuan. Raut wajah yang selalu ditambal oleh plastik, kerap membuat seseorang tidak memiliki rasa malu. Pejabat saling tengkar di depan layar dan ditonton jutaan masyarakat Indonesia pun tidak merasa malu.

Hati yang bersih, masih menurut abah Hasyim Muzadi, akan mampu mempertanggung jawabkan ucapan dan tindakannya. Ia berucap sesuai ilmu pengetahuan yang dimilikinya dan bertindak sesuai syariat Rasulillah SAW. Dengan demikian akan melahirkan apa yang sering disebutnya:
Ilmiah yang amaliyah dan amaliyah yang ilmiah. Keduanya melahirkan "ulul albab"

Dalam konteks itulah, abah sangat terinspirasi dari KH. Achmad Siddiq dan KH. Abdul Mucith Muzadi. Ucapan itu diulang-ulang abah Hasyim, dikarenakan saat ini banyak yang berbicara di luar pengetahuan dan keahliannya. Di samping pembicaraan tersebut di kalangan santri-santrinya yang fokus pada Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, maka bisa diambil kesimpulan, "banyak yang berbicara Qur'an dan tafsir, yang sejatinya bukan keahlian mereka. Tidak memiliki pengetahuan itu melahirkan tindakan politisasi teks-teks Al-Qur'an".

Semoga hati kita selalu dijaga oleh Allah SWT dan berucap sesuatu yang baik-baik dan tidak menebarkan hoak dan fitnah. Semoga laku tindak kita selalu dibimbing oleh Allah SWT. Amin []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *