Pemuda di Era Generasi Milenial


“Sesungguhnya di tanganmulah, wahai pemuda, persoalan suatu bangsa dan di dalam kesungguhanmu terletak hidup-matinya”
—Mustafa Al-Galayain



Generasi muda adalah aset bangsa. Di tangan pemudalah, kejayaan bangsa akan tegak. Namun, kehancuran bangsa pun bisa disebabkan oleh hilangnya optimisme dalam diri seorang pemuda. Nabi Muhammad SAW memberikan pesan, “Tuhanmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shobwah (kecondongan untuk menyimpang)” (Hadis). Maka gunakan waktu muda sebelum tiba waktu tua dan masa muda adalah masa-masa dimana progresivitas sedang memuncak. Progresivitas dipergunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, tidak untuk kemungkaran, seperti menjadi pemuda pemberontak.

Pemuda memang adalah harapan bangsa, namun bangsa jangan dikasih harap semata, melainkan pemuda harus bertindak memajukan bangsa dari keterpurukan. Semangat yang dimiliki harus disalurkan pada hal-hal yang bermanfaat dan positif. Tidak menghabiskan waktu muda untuk huru-hara, bermaksiat dan bersenda gurau semata. Suatu hari kelak, akan ditanyakan oleh-Nya, “untuk apa masa mudamu?”.

Islam mengajarkan, bahkan Nabi memberikan isyarat melalui prilakunya, untuk selalu menjadi pribadi yang berguna untuk bangsa dan negara. Menjaga kelestarian budaya (selama tidak bertentangan dengan syariat), meneruskan perjuangan para leluhur (yang baik-baik), menanamkan benih-benih persatuan dan kesatuan, memelihara toleransi antar mazhab dan antar agama, bersosial dan bermuamalah dengan cara yang baik, bahkan berusaha menjadi hamba yang baik kepada Allah SWT.
**

Indonesia sebagai negara yang memiliki keragaman dan keunikan, berjuta penduduknya, etnisnya dan sukunya bermacam-macam, maka pemuda harus memahami dan menyakini bahwa keragaman itu adalah anugerah terindah dari-Nya. Pemuda sudah dicap sebagai gold age (generasi emas), maka salah satu tugas pemuda adalah menjaga NKRI agar tetap utuh.

Pemuda-pemudi yang bobrok, maka bukan mustahil negara ini akan bobrok. Pepatah Arab populer terpampang di mata, "syubbânu Al-Yaûm rijâlu Al-Ghadi" (pemuda hari ini adalah pemimpin masa datang). Dalam Al-Qur’an sejarah para pemuda dikisahkan begitu apik. Kasus pemuda Ashabul Kahfi adalah kelompok yang berani memberikan koreksi kepada para penguasa otoriter dengan bahasa yang santun dan memikat; Nabi Musa, di samping seorang Nabi, ia sosok pemuda yang memiliki sifat tanggung jawab dan penuh optimisme; Nabi Muhammad, nabi terakhir ini, masa mudanya dikenal sosok pemberani tetapi berkepribadian santun dan tutur katanya luhur.

Sebagai pemuda, tentunya harus terus instrospeksi diri, apakah keberadaan kita menjadi seorang yang berguna atau menjadi malapetaka. Jika masih menjadi tempat dan sumber masalah, marilah sama-sama kita menatap masa depan dengan tetap kerja keras untuk andil memperbaiki ekonomi dan sistem berpolitik di Negara Indonesia ini. Sebuah upaya untuk menciptakan suasana politik yang beradab. Tidak menjadi generasi muda yang setiap harinya menyebarkan berita-berita kebohongan dan dusta.

Penulis, sebagai pemuda, tentunya memiliki harapan besar, di samping terus menulis untuk mencerdaskan generasi milenial, tentunya memiliki peran dan andil dalam membesarkan bangsa ini. Nabi Yusuf, saat masa mudanya telah memperlihatkan akhlaknya yang mulia dengan sosok pemaaf, sekalipun datang dari saudara-saudaranya perbuatan yang tidak baik. “Mukmin-mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya”, tutur Nabi Muhammad SAW.

Semoga saya, kita semua, menjadi pemuda-pemudi yang taat beragama tetapi tidak melupakan dan menafikan budaya setempat; mewariskan cita-cita pendiri bangsa dalam merapikan dan memperbaiki bangsa dan negara pertiwi ini. Terus memberikan sumbangsih kepada siapa saja yang memerlukan uluran tangan kita, tak ada sekat di antara kita dalam berbuat kebajikan. Semoga Indonesia tetap utuh dan melahirkan pemuda-pemudi yang genius dan cerdas, tapi berperangai baik. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *