Pemimpin: Sang Pemberi Teladan

Suatu hari, saya meet up dengan Wakil Bupati Gorontalo Utara, Kak Oki (panggilan Bpk. Thariq Modanggudi) di Hotel Cordela, Jakarta. Topik terfokus pada istilah CERIA (Cerdas, Empati, Ramah, Inovasi, Amanah). Dalam konstelasi politik yang “panas” sekarang ini, lima aspek itu menjadi penting untuk dijadikan dasar dalam bergerak yang efektif. Pemerintah harus memastikan bahwa anak-anak yang belajar di ruang kelasnya, belajar menenun kebaikan dan tumbuh dewasa sebagai penenun bangsa yang baik. Warisan leluhur raja-raja Gorontalo tentang kearifan, kejujuran, ketakwaan, kesucian dan moralitas harus tetap ada dalam jiwa setiap masyarakat Gorontalo.

Iklim kehidupan di revolusi indutsri 4.0 sekarang ini berubah drastis. Masyarakat bertranformasi menjadi apa yang disebut teorisi teknologi komunikasi seperti Marshall McLuhan dan Regis Debray sebagai the age of media society. Media sebagai “solidaritas mekanis dan organik” harus terhubung secara efektif dengan mekanisme pendidikan. Maka pemerintah harus menyiapkan bahan ajar dan cara mengajar yang terbarukan dan tidak lagi mengikuti gaya klasik, yang di satu sisi tidak melahirkan manusia kritis dan cerdas, melainkan manusia tekstualis dan stagnan. Kekuatan daya berpikir dibutuhkan untuk menghalau efek behavioral yang negatif. Disamping itu, pemerintah dalam kaitannya mendidik masyarakat yang cerdas, media massa harus terfungsikan sebagai to inform and to educate (informasi dan mendidik).

Kekuatan dasar jiwa sebagai bahan penopang pun harus disiapkan, sebab dengan lahirnya artificial intelligent (kecerdasan buatan) dan the death of expertise (matinya kepakaran) seseorang tersandera oleh keinginan menguasai dengan instan. Negatifnya, bekal pendidikan di sekolah-sekolah dapat dipastikan belum cukup, sebab di sekolah dan kampus-kampus tidak mengajarkan tentang “tanggungjawab”, melainkan ilmunya semata. Padahal, al-Ilmu syai’un wa mas’uliyatu al-Ilmi syai’un akhara (ilmu adalah sesuatu dan pertanggungjawaban sesuatu yang lain).

Sebab itu, era ini disebut era pasca-kebenaran. Mengapa? Orang tidak lagi terfokus pada substansi informasi melainkan sifat informasinya, dan tidak berpikir tentang tanggungjawab pasca berbuat, yang diutamakan adalah happy dan enjoy. Ingat! jangan sampai sejarah di Amerika terjadi di daerah kita. Dalam literatur, Tom Nichols pernah menulis buku The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why It Matters memaparkan bahwa mereka pernah mendapat virus “merebaknya kedunguan” di ruang publik.

Magma Cinta di Serambi Madinah

Pendidikan bisa menjadi wadah menciptakan pemimpin yang cerdas. Tapi yang cocok, hemat Kak Oki, pendidikan yang berbasis sosio-filosofis. Dengan begitu, orientasi pendidikan menjadi “teori dan proses pemanusiaan manusia”. Yang dalam perspektif Qur’an, orang yang tidak memiliki orientasi memanusiakan manusia adalah orang yang berdusta atas agamanya. Sebab, ujung dari semua teologi adalah mewujudkan manusia yang adil dan beradab.

Dalam konteks pemimpin dan pejabat, cerdas menjadi penting agar mampu membuat grand idea, grand program, grand strategy dan grand control. Dari sana lahir gagasan-gagasan inspiratif dan inovatif dari kepala sang pemimpin. Kecerdasan yang disertai tanggungjawab akan melahirkan sosok pemimpin yang lahir dari area pertandingan dengan secara terhormat lagi bermartabat. Disinilah kehadiran “spiritual demokrasi” wujud. Ada pendidikan spiritual dalam tubuh demokrasi, yang dalam bahasa politiknya disebut sebagai “politik profetik” untuk menghentikan praksis politik yang kumuh. Dan tentunya, isu lama ini sangat relevan untuk dihadirkan dalam konteks saat ini.

Baca juga: Mengucapkan Kafir, Why Not?

Gagasan politik profetik yang tampak dalam ide besar CERIA sebagai bentuk perlawanan kepada para politikus dan orang-orang yang terfokus pada cita rasa humanis an sich; sebuah kerja politik dari manusia, oleh manusia dan untuk manusia. Kehadiran politik profetik mengembalikan ruang kosong dalam kerja politik selama ini. Politik tidak sekedar urusan manusia, namun perwujudkan nilai-nilai ketuhanan, yang dalam istilah lainnya menghadirkan kembali transendensi yang hilang. Pengembalian itu agar masyarakat merasakan bahwa daerahnya sebagai rahmat Tuhan yang harus dinikmati dengan penuh kebahagiaan.

Kecerdasan yang bertanggungjawab itu akan melahirkan sosok yang empati dan ramah. Cara ini ditunjukkan dengan kedekatan emosional, kelembutan dan kebersamaan antara pemipin dengan yang dipimpin. Maknya, empati lebih tinggi dari sekedar simpati. Perpaduan dengan kecerdasan yang dimilikinya, ia akan menjadi seorang solution finder untuk rakyatnya. Rumusnya dalam agama, “jika engkau ingin dihargai rakyat, maka hargailah mereka” atau lead by heart.

Sebagai seorang petarung, kiranya doktrin Presiden Amerika Serikat ke 26, Theodore Roosevelt selaras, “tidak seorang pun peduli betapa banyak pengetahuanmu, hingga mereka tahu betapa besar kepedulianmu”. Mengapa harus empati dan ramah? Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut. Dengan banyak mendengar aspirasi rakyat akan tumbuh empati dan wujud komunikasi yang ramah.

Aspirasi rakyat yang ditampung harus diselesaikan secepat mungkin. Jangan sampai, pemimpin melempar tanggungjawab. Artinya, harus amanah. Sebagai seorang khalifah pilihan, dipundaknya ada weltanschauung Gorontalo, “Adat Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah”, yang di dalamnya ada perintah amanah. Amanah itu, dalam bahasa Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan”. Maknanya, kesesuaian antara kata dan laku. Ayat ini diturunkan untuk menegur sikap bluffing. Lebih dari itu, menegur orang-orang yang suka melebihkan kapasitasnya agar terlihat hebat. Qatadah dan al-Dahhak menuturkan bahwa dulu ada orang yang berkata telah berperang, padahal belum.

Konsepsi CERIA yang ditawarkan Kak Oki, tidak saja tantangan untuknya, tapi juga pemimpin se-Gorontalo. Menghadirkan kembali suasana berpolitik dan berdemokrasi seperti dahulu kala. Di mana suasana saat itu, calon-calon tidak perlu keliling dari ujung ke ujung saat hendak mencalonkan diri. Sebab, itu pekerjaan dia sebelumnya bukan laku pencitraannya. Kemudian masyarakat berbondong-bondong memilihnya dengan ketulusan tiada banding dan memilihnya calonnya sebagai kebanggaan yang sudah bertengger di ubun-ubunnya. Mengapa? Sebab magma cinta terpancar dari kandidat dan pemimpin itu. Rakyat rela berkorban untuknya. Sekarang? Banyak yang peduli diawal dan menghilang usai terpilih.

Mengimplementasikan CERIA itu akan melahirkan mozaik kampanye yang indah dan ongkos yang murah. Betapa banyak orang yang berangan menjadi pemimpin tapi harus mengeluarkan ongkos yang mahal. Tapi, kondisi klasik itu sulit dicari saat ini, namun bukan berarti tidak ada. Kondisi di mana pemimpin kerap abai mengintip ke kedalaman jiwa dan nurani. Yang diistilahkan KH. Hasyim Muzadi (Mantan Ketua Umum PBNU 1999-2010), ada semacam “lubang yang menganga teramat dalam dengan bara yang menjilat dada”.

Akhirnya, konsep CERIA itu selaras dengan perspektif penulis terhadap indikator Serambi Madinah yang memiliki ciri watak dasar, yakni muharrik (penggerak yang inspiratif), muslih (reformis), mukmnil (penyempurna) dan muhyi (menghidupkan). Dalam hal meningkatkan kualitas dan kuantitas daerah, ketiganya berkelindan dengan keindahan, kebenaran dan kebaikan. Di saat ketiganya berjalang seiring, maka masyarakat Islami akan tercipta. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *