Patologi Radikalisme


“Salah besar jika ada orang yang menyalahkan ajaran agama sebagai biang keladi dari segala tindak kekerasan”


---Makmun Rasyid



Cuplikan kalimat lugas di atas, menjadi jawaban atas kegelisahan dan ketakutan dunia, akibat ulah gerakan terorisme. Gerakan sistematis yang diwakili oleh ISIS (Islamic State of Iraq and Sham/Syria) atau dalam bahasa arabnya “al-Dawlah al-Islamiyah fi al-‘Iraq was-Syam (Da’isy)”, dengan membumingkan istilah “Kudeta No, Demokrasi No, Khilafah Yes”. Kejadian di Paris, sebagaimana yang dilansir oleh Koran Harian Flores Pos (16/11/2015) telah menewaskan 150 korban jiwa, bertempat di enam tempat, yaitu: Gedung Pertunjukan Bataclan; Stadion Sepakbola Stade de France, Rue de Charonne; Rue Bichat; Rue de la Fontaine au Roi dan Boulevard Voltaire.

Seorang filsuf Katolik di Amerika Serikat, John D. Caputo dalam bukunya On Religion (2001), dengan serius melucuti kelompok fundamentalis karena ketiadaan cinta dan kasih sayang dalam beragama. Caputo dalam bab empat berjudul Impossible People mengutip munajat (doa) Eckhart yang berbunyi “I Pay God to rid me of God” atau “Aku berdoa dari Tuhan supaya membersihkanku dari Tuhan”. Munajat itu dalam agama Islam bisa kita korelasikan dengan ayat Al-Qur’an, pada Qs. Al-Anbiya [21]: 107 yang berbunyi “Dan saya tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai pembawa kasih sayang bagi alam semesta”.

Seorang kolumnis Mesir, Ragab Al-Banna menyebut prilaku bengis yang terjadi di Paris itu dengan istilah Al-Ummiyyah Al-Diniyyah atau orang yang buta agama. Buku John D. Caputo itu kembali di pertegas oleh Said Ramadhan al-Buthi melalui karyanya yang berjudul Al-Hubb fi Al-Qur`an wa Daurul Hubb fi Hayati Al-Insan (2009). Buku ini ditulis salah satunya akibat dari kegelisahannya tentang sebagian penganut agama yang membawa agama dengan penuh kekerasan, jauh dari keindahan dan kedamaian.

Analisa yang tajam, sebelum karya Said Ramadhan al-Buthy muncul ke publik, terdapat karya James M. Lutz dan Brenda J Lutz dalam Global Terrorism (2008) yang mencoba membangun definisi terhadap terorisme dengan terorisme memuat unsur politik, mem-booming-kan kekerasan, ada korban dan ketakutan, teroris dilakukan oleh organisasi non-negara dan tidak kalah pentingnya membangun kekuasan.

Selain Said Ramadhan al-Buthy, di tahun 2009, AM Hendropriyono menerbitkan buku yang cukup menarik dengan judul Terorisme, Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam (2009). Buku itu merupakan hasil disertasi Hendropriyono di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Buku ini mencoba melucuti kebengsian gerakan teroris Imam Samudra dkk. Di mana empat tahun sebelumnya Imam Samudra menerbitkan buku berjudul Aku Melawan Teroris (2004).

Walaupun, pengamatan penulis atas karya Hendropriyono tersebut, yang mencoba membuat sebuah bangunan pemikiran akan pentingnya landasan ontologis dalam bertindak, tetapi ia lupa menjabarkan bagaimana ontologis itu terbentuk. Artinya, pelaku terorisme bom Bali 12 Oktober 2002—di bawah kendali Imam Samudra dkk—yang telah di eksekusi masih memiliki embrio-embrio terorisme, radikalisme agama masih masif dan belum selesai sampai sekarang ini.

Gerakan terorisme yang terjadi di Paris dan aksi pembakaran gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) di Desa Suka Makmur, Aceh Singkil, keduanya merupakan akibat lemahnya kebertauhidan dan penghayatan atas sebuah agama yang mereka anut. Puncak kebertauhidan seseorang tampil dengan wajah inklusif.

Eksklusifitas dalam beragama merupakan bias dari kekerdilan dan ketidakpahaman seseorang. Tak ada satupun agama di dunia yang mengajarkan penganutnya untuk berlaku kasar terhadap orang lain, yang tidak sepaham dan se-akidah dengannya. Musuh Tuhan di dunia hanyalah mereka-mereka yang pandai berucap dengan lantang tentang “ke-Tuhan-an” tetapi tak sampai pada tatanan aplikasi.

Lupakah kita pada kisah, ketika Nabi Muhammad SAW menyuapi makanan kepada seorang Yahudi yang buta; Ketika Paus Fransiskus merangkul manusia berpenyakit, dan menyuci kaki tahanan Muslim; ketika Gandhi berani membela sampai mati hak-hak asasi umat Muslim; ketika Bunda Theresa merawat kaum Hindu yang miskin. Begitu indah persahabatan lintas agama tersebut. Militansi ISIS yang mengungkapkan bahwa Paris merupakan tempat dan sarang musuh Tuhan, merupakan bentuk kekeliruan.

Penulis sependapat dengan pakar terorisme, Dale C Eikmeier dalam buku Qutbism: An Ideology of Islamic-Fascism (2007) yang menunjukkan bahwa mereka-mereka yang masuk ke dalam gerakan militan Islam itu selalu mengajak kepada "Islam murni", yaitu dengan melalui interpretasi Al-Qur'an dan hadis secara ketat dan tekstual.Kebanyakan pelaku terorisme dan organisasi radikal tumbuh dari kerancuan berpikir terhadap teks Al-Qur'an dan hadis tersebut. Hal ini bisa kita lihat dari salah satu pelaku terorisme yang bernama Omar Ismail Mostefai, warga negara Prancis. Omar, menurut kakak kandungnya ia kerap ke masjid dan sudah lama tidak bercakap-cakap dengan keluarga, akibat perselisihan.

Tindakan abnormal di dalam beragama itu, berdampak pada empat aspek. Pertama: aspek teologis. Meenafsirkan firman-firman Tuhan tanpa memakai kerangka metodologi yang baik, berdampak pada reduksi makna teks dan memunculkan gerakan fundamentalis. Kedua: aspek sosiologis. Firman-firman Tuhan harus selalu tampil dalam kerangka teks-konteks-kontekstualisasi. Hal ini untuk menghindari terjadinya kekerasan lintas agama.

Ketiga: aspek politis. Kejadian di Paris dan Aceh bisa mengakibatkan pada fobia-Islam. Dan keempat: aspek psikologis. Dalam ruang ini, kejadian ini merupakan bentuk pendistorsian ajaran agama nenek moyang. Karena semua agama, bermuara pada saling menghormati lintas agama; dan semua agama bermuara pada kemanusian yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan perdamaian.

Terorisme akan selalu mengancam jantung pertahanan sebuah negara, termasuk Indonesia. Walaupun, tiga komponen berupa “Agama, Pancasila dan Demokrasi” tampil dengan wajah ideal, namun embrio tumbuh kembangnya teror sudah mulai tampak. Tentunya, Indonesia mempunyai tugas yang berat untuk selalu melawan tindakan kriminal apapun, guna menghindari terorisme berkembang di Indonesia. Bawalah agama dengan penuh damai, maka nilai-nilai agama akan merasuki ke relung hati kita yang paling dalam. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *