Pahlawan NU dan Perjuangannya di Indonesia

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, menganugerahkan gelar pahlawan kepada KH. Raden As’ad Syamsul Arifin. Penganugerahan itu berdasarkan Kepres RI No 90/TK/Tahun 2016 tentang penganugerahan gelar pahlawan. Keputusan presiden menjadi jawaban para peserta yang ikut dalam Halaqah Ulama Pesantren dan Cendekiawan (Gerakan Dakwah Aswaja Bela Negara) di Pondok Pesantren Al-Hikam Depok, 19-20 Oktober 2016.

Hadir dalam acara, cucu dari KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Raden Ahmad Azaim Ibrahimy, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Jawa Timur. KH. Azaim––sapaan akrab beliau––sejak usia dirindukan oleh ulama tersohor dari Makkah, Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki. Pesan Abuya kepada KH. As’ad pada tahun 1980-an, ketika mewakili Kerajaan Makkah, Arab Saudi berkunjung ke Sukorejo, “jika anak ini kelak sudah dewasa, biarkan ia bersama saya”. Keluarga dan anak dari pasangan Nyai Hj. Zainiyah As’ad dengan KH. Dhofier Munawar pun langsung menyetujui maksud Abuya tersebut.

Bagi KH. As’ad Syamsul Arifin menganggap bahwa ditangan Abuya, cucunya itu kelak menjadi anak yang saleh, bermanfaat bagi umat dan lentera bagi kegelapan. Begitu inginnya KH. As’ad agar KH. Azaim diasuh oleh Abuya, sebelum ia wafat pada bulan Agustus di Rumah Sakit Islam Surabaya kembali mengingatkan kepada keluarganya untuk menyerahkan KH. Azaim kepada Abuya.



Dalam sesi acara di Depok, KH. Azaim memaparkan perjuangan kakeknya, KH. As’ad Syamsul Arifin, yang baru saja dianugerakan Pahlawan Nasional. Pesannya: “ketika berperang jangan hanya berniat untuk membela negara. Tetapi bagaimana, bisa menegakkan agama, seandainya mati maka tertulis sebagai mati syahid.” Pesan ini memiliki tautan dengan pesan lainnya:
“Haram hukumnya jika umat Islam di Indonesia merasa sudah final dan cukup dengan keadaan saat ini, karena perjuangan belum selesai, praktek menjalankan syariat belum usai, perjuangan harus terus dilakukan.”

KH. As’ad Syamsul Arifin adalah sosok yang tidak gila kehormatan, karena dirinya sudah selesai. Tidak ada lagi yang ingin dicarinya, kecuali mengharap ridha-Nya. Melihat sepak terjangnya, tepat apa yang dilukiskan oleh KH. Cholil Nafis––Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat:
“Seringkali, orang-orang yang menjadi pelopor di dalam ahlussunnah dan perjuangan tidak kelihatan. Sama seperti bangunan, tidak ada yang melihat indahnya fondasi, tapi pondasi yang tidak kokoh maka bangunan akan runtuh. Demikian juga dengan paku, tidak ada yang melihat indahnya paku, tapi bangunan yang pakai kayu, tidak pakai paku pasti akan roboh. Inilah kondisi di Indonesia. Melihat kondisi kiai dan santri serta ahlussunnah, tak pernah kelihatan sebelum Republik ini menjelang keruntuhannya, sebelum ini dironrong oleh sistem Khilafah. Belum pernah Republik ini seakan-akan didirikan oleh kiai dan santri, kecuali setelah Republik ini diserang oleh kelompok transnasional.”

Begitulah para pendiri NU memacu semangat generasi selanjutnya. Namun di satu sisi, perjuangan para pendiri NU belum tuntas diterima secara komprehensif oleh generasi muda saat ini. Parsialisme dalam berpikir, bermazhab dan berharakah begitu terasa saat ini. Sulitnya menemukan pejuang NU, seperti sebelum-sebelumnya. Kegelisahan KH. Hasyim Muzadi, utamanya, menjadi sindirian keras untuk generasi Nahdliyyin. KH. Hasyim Muzadi pun berencana untuk mendirikan Dirasah Nahdliyyin dengan tujuan mempersiapkan generasi NU yang memahami NU secara holistik dan komprehensif, dan bagaimana membawa NU di tengah huru-hara saat ini, baik tingkat nasional maupun internasional.

Menurutnya, “kalau ini tidak kita lakukan, saya takut, kalau ganti generasi, ini hilang. Akidah-akidah bukan tidak mungkin juga hilang. Mereka bukan tidak tahu, akhirnya tinggal nama. Yang asalnya adalah Al-Muhafadzatu ala Al-Qadimi Al-Shalih wal akhdzu bi Al-Jadid Al-Aslah. Ini Al-Qadimi Al-Shalih juga belum ketemu, sedangkan al-Jadid Al-Aslah berubah menjadi Al-Jadid Al-Atbakh.

Yang terjadi saat ini adalah hilangnya beberapa nilai, seperti: nilai ketasawufan, nilai keikhlasan, iffah yang turun dan ditinggalkan, sementara gantinya yang mereka lakukan, bertentang dengan syariat Muhammad. Satu-satunya cara, yaitu: tasfiyah dan tanmiyah. Pemurnian dan penjernihan dan pengembangan. Bagaimana membuat pengembangan yang tidak keluar dari ajaran ahlussunah, tapi juga tidak boleh jumud dan rigid. Karena yang kita hadapi adalah generasi yang sangat cerdas, dan mereka memiliki metodologi tinggi.”

Di samping itu pula, jargon-jargon “Pancasila harga mati” tidak boleh membuat jumawa mayoritas Indonesia, karena perjuangan mayoritas Muslim, belum final. Pancasila masih sebatas hafalan, belum penghayatan dan pengamalannya. Gangguan-gangguan dari kelompok transnasional, seperti: “Khilafah harga mati” akan terus ‘merecoki’ sistem yang ada. Setiap gejolak yang ada, mereka masuk dengan segudang dalih Qur’ani yang lepas konteks, dalih-dalih itu digunakan sebagai justifikasi untuk menghantam Negara Kesatuan Republik Indonesia. []


Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *