Moralitas, Pangkal Hidayah

Moralitas dalam Islam memiliki kedudukan tinggi, sampai-sampai digambarkan siapa-siapa yang tidak memiliki moral, laksana pohon yang tak memberikan keteduhan pada sekitarnya. Komunitas Sahabat Pena Nusantara, memiliki doktrin di dalam “kontak” (ittishal) antar penulis:
 

“Mengedepankan moral dan akhlak daripada ketinggian ilmu”

Maksudnya, ketidaksependapatan dan ketidaksepahaman di antara penulis merupakan warna-warni alam semesta yang harus dipelihara, pemeliharaan itu akan melahirkan kerahmatan dan keberkahan satu sama lain. Sebaliknya, tanpa menyakini eksistensi itu maka perbedaan melahirkan azab. Keyakinan itu tidak menafikan eksistensi kebebasan, namun kebebasanya pun terikat oleh moralitas (Al-Hurriyyah bi Al-Akhlâqi Al-Karîmati).

Sahabat Pena Nusantara, komunitas penulis yang membesarkan saya, pernah ‘digaduhkan’ eksistensinya oleh seseorang, yang (dalam asumsi saya) sedang mencari eksistensi dirinya. Seseorang di dalam mencari eksistensi dirinya akan mudah terombang ambing oleh alam sekitarnya, terlebih jika ia tidak memiliki kompas yang menjadi haluan hidupnya, maka asupan yang cukup mendukung eksistensinya, semuanya terasa manis nan berharga. Sejatinya, haluan hidup sangat berarti untuk menghindarkan seseorang masuk ke dalam lubang buaya.

Haluan itu pun diikat oleh beberapa hal, pertama, komunitas Sahabat Pena Nusantara merupakan komunitas penulis lintas sekat dan bukan milik organisasi manapun. SPN yang didirikan Husnaini dan Haidar Musyafa memiliki cita-cita besar, tidak saja menebarkan virus menulis dan membaca di seluruh penjuru Indonesia, melainkan seseorang bisa “hidup” dengan menulis.

Kedua, seorang penulis tidak saja dituntut untuk meningkatkan kualitas ilmu pengetahuannya, tapi iringilah ilmu itu dengan hidayah. Hidayah akan datang manakala wadahnya bersih, bersih dari merendahkan orang lain, bebas dari ‘mencela’ bahkan memiliki niat untuk menjatuhkannya. Menulislah sebisanya, selama tidak merendahkan orang lain.

Ketiga, salah satu aplikasi dari kepemilikan moral dibuktikan saat penulis A tidak setuju dengan penulis B. Reaksi positif dan negatif akan keluar ditentukan oleh citra dalam dirinya. Ibaratnya, jika gelas yang kosong diisi oleh air bersih sampai berkali-kali, maka yang tumpah adalah air bersih bukan air kotoran. Begitulah seseuatu yang keluar dari diri seseorang, apa yang sering diasupnya itulah yang akan keluar. Jika dominan hal-hal positif maka reaksi seketika pun akan positif.

Keempat, SPN tidak mengeluarkan anggotanya (hanya) disebabkan karena tidak menulis atau berbeda pendapat, sekalipun banyak anggota penulis yang dikeluarkan karena tidak memiliki komitmen kuat menulis, tapi lebih dari itu, SPN melihat akhlak seorang penulis. Pada tahap inilah, SPN ingin mendidik anggotanya agar menjadikan akhlak sebagai baju dirinya.

Ilmu adalah sesuatu dan pertanggung jawaban ilmu sesuatu yang lain. Gapailah dan ikatlah hidayah, niscaya penulis itu akan dijaga oleh-Nya. Apa-apa yang keluar dari mulutnya adalah pancaran dan sinar yang mampu menenteramkan orang lain, bukan menjadikan orang sekitarnya gusar. Semoga keluarga besar SPN selalu dalam lindungan-Nya. Amin []

Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *