Menyoal Superioritas Laki-Laki Atas Perempuan


“Ingatlah, aku berpesan: Agar kalian berbuat baik terhadap perempuan. Karena mereka sering menjadi sasaran pelecehan di antara kalian. Padahal sedikitpun kalian tidak berhak memperlakukan mereka. Kecuali untuk kebaikan itu (sendiri)”


—HR. Tirmidzi



Hadis di atas cukup menarik bagi saya. Ada dua hal yang menjadi sorotan Nabi Muhammad SAW. Pertama, pelecehan terhadap perempuan. Di mana umumnya, perempuan mendapat pelecehan dari laki-laki berkisar pada hal: melecehkan derajatnya, status dan eksistensinya serta pelecehan dalam bentuk peremehan kinerja dan pemikiran perempuan. Kedua, melecehkan dalam ranah negatif, seperti: menganggapnya hanya pemuas birahi dan pelara nafsu, yang kerjaannya hanya di kasur dan di dapur. Perempuan dalam konsep ini, tidak memiliki hak untuk beraktifitas di luar rumah dan selalu dilandasi oleh doktrin kodrati perempuan adalah “pembantu” suami di rumah.

Dalam tulisan ini, saya akan menyoal hal tersebut, setelah beberapa bulan saya tinggal di Ende, banyak Muslim dari kalangan Jamaah Tabligh (JT) yang menyoal kepemimpinan Walisanga di bawah kendali perempuan, bernama Siti Halimah Assyadiyah, S.Psi. Apa yang saya tafsirkan tentang “pelecehan pada perempuan” di atas adalah asumsi kebanyakan Muslim bahwa perempuan tidak bisa memimpin. Namun, para laki-laki yang mengajukan gugatan, ketika diserahkan jabatan itu, tidak menyanggupinya.

Ada semacam ‘kekeliruan’ warisan yang terdapat dalam internal Islam. Melepaskan konteks dan kontekstualisasi dalam setiap pengambilan (dan penerapan) kesimpulan dari Al-Qur’an dan hadis, kerap mengilhami bias penafsiran. Seakan-akan dalam Al-Qur’an, pembicaraan “otoritas” laki-laki atas perempuan dan hak-hak laki-laki lebih banyak dari perempuan hanya memiliki tafsir tunggal. Faktanya tidaklah demikian.

Perbedaan antara mufasir klasik dan kontemporer dalam persoalan di atas cukup jauh, dan ada mufasir yang mencoba menengahi dan menggabungkan penafsiran klasik dan kontemporer. Oleh karena itu pulalah, setiap penafsiran dan objek yang ditafsirkan, tidak boleh kehilangan substansi, tujuan dari firman Tuhan, dan lebih penting saat mengkontekstualisasikan kesimpulan itu. Karena, di dalam menafsirkan, seorang mufasir lebih berupaya untuk keluar dari hitam-putih. Tidak seperti seorang fukaha (ahli Fikih) yang hitam-putih, halal-haram, boleh-tidak dan sejenisnya.

 

Masih jamak kita ketahui, para mengkaji Al-Qur’an, di dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an cenderung bersifat singlet tradition atau Al-Qur’an hanya berdiri sendiri dan problematika itu berdiri sendiri, dan belum menghubungkannya langsung dengan realitas sosial-budaya serta problem-problem kemanusiaan yang ada. Akhirnya mengantarkan kesimpulan, bahwa yang berkuasa menyelesaikan problematika kehidupan di masyarakat adalah teks kitab suci.

Dan sejak inilah, tafsir cenderung bersifat teosentris-ideologis. Bahkan lebih jauh lagi, manusia lebih membela Tuhan dibandingkan membela manusia, kawan karib dan teman dekatnya. Lebih mementingkan dirinya, dan acuh tak acuh terhadap problematika yang menimpa manusia di sekelilingnya.

Isu kesetaraan gender menjadi isu terpanas, baik oleh para pengkaji ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Tafsir maupun para pegiat Hak Asasi Manusia (HAM). Pemahaman tekstual yang kerap dipengaruhi oleh beberapa mufasir tekstualis—dalam memahami ayat-ayat gender—menjadi problem tersendiri. Pemahaman parsial mengenai kemitraan laki-laki dan perempuan atau gender patnership menjadikan zaman yang sudah maju, ditarik kembali ke zaman yang berbudaya patriarki.

***


Peradaban jahiliah kian sirna tatkala Islam dan Al-Qur’an turun ke muka bumi. Pelecehan (dalam makna luas) terhadap perempuan terberangus secara perlahan-lahan. Kasus populer yang ada pada sosok Umar bin Khattab, dimana ia pernah mengubur gadis kecilnya dalam keadaan hidup-hidup. Penguburan-penguburan yang terjadi pada masa lalu, didorong oleh beberapa faktor, yaitu: pertama, produktivitas perempuan tidak sebanding dengan produktivitas laki-laki, sedangkan kemiskinan semakin meningkat. Oleh karena itu, maka perempuan harus dibunuh.

Kedua, anak perempuan beraliansi negatif dan ketiga, perempuan tidak ada hak untuk menyamainya (laki-laki), apalagi menggantikan posisi kekuasaannya. Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu”(Qs. Al-Nahl [16]: 58-59).

Dan saat ini, larangan perempuan memimpin sebuah institusi pun kerap dijustifikasi oleh hadis yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari (1997) karya Imam Bukhari: lan yufliha qoumun wa-lau amruhun imra’atun (tidak akan “sukses” suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan). Secara tekstual, tentunya pemahaman perempuan tidak dibolehkan menjadi pemimpin adalah benar. Tapi, jika ditelaah kembali asbabul wurud-nya dan sebab-akibat Nabi Muhammad SAW mengatakan perkara itu, dapat ditemukan bahwa hal itu terkait tradisi di negeri Persia. Tradisi yang dianut saat itu, perempuan tidak boleh memimpin. Dan sebelum hadis itu turun, Buwaran binatu Syairawaihi bin Kisra bin Barwaiz diangkat menjadi ratu Persia.

Konsepsi Muslim yang tekstualis, secara tidak langsung mendegdradasikan konsepsi egalitarian yang sudah di bangun secara kokoh dan konsisten sejak awal Islam. Bukankah egalitarianisme memiliki basis kokoh dalam Al-Qur’an?. Pertama, laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba Tuhan. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Qs. Al-Dzariyat [51]: 56).

Kedua, laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai khalifah. Sama-sama berhak mengambil peranan dalam mengelola dan memperbaiki bumi. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"(Qs. Al-Baqarah [2]: 30).

Ketiga, laki-laki dan perempuan, sama-sama menerima perjanjian primordial. Ini lebih jelas lagi, karena ia menafikan adanya subordinasi. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"(Qs. Al-A’raf [7]: 172).

Keempat, laki-laki (Adam) dan perempuan (Hawa) sama-sama terlibat aktif dalam drama kosmis. “Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim” (Qs. Al-Baqarah [2]: 35.

Kelima, laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki potensi untuk berprestasi, baik potensi untuk meraih prestasi di dunia maupun menggapai ridha-Nya. “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (Qs. Al-Nahl [16]: 97).

Keenam, laki-laki dan perempuan sama-sama sejajar dalam jaminan sosial. “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (Qs. Al-Baqarah [2]: 177).

Dan ketujuh, laki-laki dan perempuan sama-sama mendapat hak berpendidikan. “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs. Al-Mujadilah [58]: 11). Setelah berpendidikan mereka berdua, sama-sama berpeluang untuk menduduki sebuah kedudukan, tidak saja kedudukan sebagai istri, tetapi kedudukan dalam sebuah institusi.

Tujuh poin di atas adalah pokok-pokok kesamaan dan kesejajaran laki-laki dan perempuan, sedangkan lainnya masih bertebaran dalam Al-Qur’an. Tiba-tiba seseorang disodorkan oleh satu ayat Al-Qur’an, yang berbunyi: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” (Qs. Al-Nisa’ [4]: 34).

Ibnu Jarir Thabari, Ibnu Katsir, Suyuthi dan Al-Razi, Al-Qurtubi semuanya memiliki inti pemikiran yang sama, dimana para suami memiliki hak memikul tanggung jawabn atas pelbagai urusan kamu perempuan, termasuk hak mendidik dan memerintahnya. Bahkan, satu sama lain saling menguatkan pendapatnya, misalnya Al-Razi mengatakan sifat yang hakiki, yang membuat laki-laki menjadi superior (baik secara kualitas pengetahuan dan kekuasaan). Dalam ungkapan Abdullah Saeed “pendekatan Ibnu Katsir (misalnya) adalah sebuah usaha, dalam bentuk yang ringkas, untuk kembali kepada pendekatan text-centric (berpusat pada teks) Thabari.

Jika saja kita mau terbuka, bahwa konteks ayat ini turun berkenaan dengan sebuah problem internal dalam sebuah rumah tangga atau semestinya dipahami dalam konteks keluarga bukan politik dan negara. Sebagaimana gagasan populer dari Haifaa Jawad, seorang akademisi Muslim Inggris, di dalam bukunya The Rights of Women in Islam: An Aunthentic Approach (1998) bahwa gagasan ideal Al-Qur’an yakni “sebuah hubungan yang setara”, yang sudah berubah di dalam internal Islam oleh “suatu otoritarianisme dan kediktatoran”.

Seharusnya, para mufasir setelah pra-modern membuat pengertian yang lebih ideal terhadap kata qawwamun. Karena makna superior laki-laki itu akan sangat mereduksi nilai-nilai ideal yang ada pada tujuh poin di atas. Karena itulah, para pemikir kontemporer memberikan makna pada kata itu lebih kepada hal-hal fungsional. Meminjam gagasan Nasr Hamid Abu Zaid, bahwa sebenarnya Al-Qur’an mendorong kesetaraan spiritual bagi semua jenis kelamin, maka begitu pula dengan hal lainnya, dimana Al-Qur’an tidak bisa membiarkan setiap ketidaksetaraan pada aspek masyarakat. Dan dalam konteks perempuan modern, perempuan bisa menjadi qawwamun di dalam sebuah ruang, termasuk di dalam rumah.

Akhirnya, dalam menyoal jabatan tertinggi yang dipegang oleh seorang perempuan, kita tidak bisa memahami ayat itu secara parsial. Melepaskan konteks kekinian dengan memegang teguh penafsiran pra-modern, yang sejatinya ruang dan konteks zamannya berbeda. Di samping spirit dan substansi Al-Qur’annya tidak dihilangkan, juga menghidupkan kembali inklusivitas ayat tersebut. Ketika digabungkan, maka perempuan boleh memimpin sebuah jabatan dalam sebuah institusi, namun tidak mengabaikan perannya sebagai pengasuh rumah tangga, pendidik anak-anaknya dan penjaga harta suaminya. []

 
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *