Menyoal Keber-Islam-an Yang Semu

Sejak mencuatnya organisasi Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) ke publik, saat itu pikiran saya hanya melihat fenomena beragama ini layaknya Indonesia Tanpa JIL (ITJ). Kelompok ITJ ini muncul akibat gerakan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang digagas oleh Ulil Abshar Abdalla dik, juga Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Perang ideologis terus berlanjut sampai saat ini. Kenyataannya, Gafatar hadir bukanlah sebagai reaksi atas kehadiran Komunitas Islam Nusantara (KIN). Gafatar menancapkan kakinya jauh sebelum kehadiran Komunitas Islam Nusantara. Namun baru terungkap tahun 2016. Ajaran yang didakwahkan sangat meresahkan masyarakat dan menyimpang dari ajaran Islam.

Gafatar bermula dari Al-Qiyadah Al-Islamiyah, yang merupakan kelanjutan dari gerakan Komunitas Millah Abraham (KMA). Agama yang dibungkus oleh kedok sosial ini menyakini bahwa Abdus Salam Messi (Ahmad Musadeq) sebagai mesias (juru selamat) bagi umat manusia. Paham yang menggabungkan antara teologi Al-Qur`?n, Al-Kitab Injil dan Yahudi. Tidak menyakini bahwa shalat lima waktu adalah rukun Islam yang wajib dijalankan sebagai ritual kebersamaan orang Islam pada umumnya. Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang bermetamorfosis dan berubah wujud ini dilihat sosio-historisnya sudah dilarang oleh beraktivitas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui fatwanya Nomor 04 tahun 2007.

Pada bulan Februari ini membuat Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa terbarunya Nomor 06 Tahun 2016 tentang “Aliran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dan dinyatakan tidak sejalan dengan hakikat keberislaman pada umumnya. Dalam hal ini kita sepakat bahwasanya Al-Qur’an sudah menjelaskan umat muslim harus mengikuti Al-Qur’an secara kaff?h (totalitas dan ittiba`) (Qs. Al-An’am [6]: 153, Al-Nisa` [4]: 115, Qs. Ali Imran [3]: 32), Nabi Muhammad SAW adalah nabi akhir zaman dan tidak ada nabi setelahnya (Qs. Al-Ahzab [33]: 40) dan ajaran tidak boleh mencampuradukkan ajaran Islam dengan apapun (Qs. Al-Baqarah [2]: 217).

Ajaran dan paham Gafatar merupakan bagian terkecil dari paham radikalisme yang berkembang di Indonesia. Gafatar menempuh jalur dakwahnya secara legal dan ilegal, serta memainkan peran media sosial sebagai basis utama dakwahnya. Paham radikal ini bagaikan dunia fashion. Ia akan terus mengalami evolusi dan perubahan wujud dengan tujuan agar masyarakat terpana, keterpanaan merupakan pintu masuk untuk menyusupi ajaran gerakan mereka.

Namun di satu sisi, walaupun Gafatar secara akidah bersebrangan dan menyimpang, mereka harus tetap dilindungi sebagai warga Indonesia. Masyarakat tidak boleh mengambil tindakan negatif di luar kewenangannya, apalagi aksi bakar-bakaran sampai terjadi di mana-mana, dipukulin bahkan digebukin. Tindakan ini tidaklah bijaksana. Ber-amar makruf dalam teologi Islam tidak boleh dengan cara yang mungkar melainkan dengan cara yang makruf pula. Berislamlah dengan cara kelembutan dan jangan menodai dakwah dan tindakan yang membuat kita beragama secara semu dan tidak bermakna.

Dakwah Dengan Cinta

Cinta adalah sebuah kenikmatan, dengan cinta kasih kehidupan seseorang akan terasa indah, jika sebaliknya maka ia akan mengalami kegelisahan. Tetapi di dunia ini, tidak ada cinta yang gratis, baik sesama makhluk maupun Tuhan. Tuhan memancarkan cinta kasih-Nya kepada seluruh mahluknya pun tidak gratis. Mengapa? walaupun Tuhan mampu memberikan sebuah cinta tetapi manusia diberikan seperangkat instrumen untuk digunakan terlebih dahulu, dibutuhkan pengorbanan untuk membuktikan bahwa kita siap menerima konsekuensi dari hidup di dunia, sebab-akibat akan terus berlaku sampai hari kiamat nanti.

Said Ramadhan Al-Buthi menulis sebuah kitab berjudul Al-Hubb fî Al-Qur’an wa Daurul Hubb fî Hayati Al-Insan (2009), buku ini ditulis salah satunya akibat dari kegelisahannya tentang sebagian penganut agama yang membawa agama dengan penuh kekerasan, jauh dari keindahan dan kedamaian. Suasana sejuk, indah dan damai akan melahirkan benih cinta dan simpati dari orang-orang yang beragama di luar agama yang kita anut. Tanpa dengannya, maka kehadiran agama akan diasumsikan membuat bencana dan pemecah belah umat.

Cinta-Nya dan penghormatan-Nya kepada manusia merupakan dua hal yang berbeda. Penghormatan yang diberikan Allah kepada manusia (Qs. Al-Isra’ [17]: 70), baik secara individu ataupun kolektif diberikan kepada hamba-hambanya, disebabkan oleh kebaikan-Nya, tetapi tidak semua mampu mendapatkan cinta-Nya secara utuh, dibutuhkan sebuah komitmen kehidupan yang berupa ketaatan kepada baginda Nabi Muhammad Saw (Qs. Ali Imran [3]: 31). Jadi, kualitas cinta-Nya ditentukan dengan seberapa taatnya manusia menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Begini ungkap Syaikh Said Ramadhan al-Buthy: “yang membuat seorang hamba yang patuh itu kian bahagian adalah bahwa anugerah cinta dari Allah itu tidak hanya diterima oleh mereka yang ‘terjaga’ dari dosa-dosa, tetapi setiap pelaku maksiat yang bertaubat dan kembali kepada-Nya juga akan menerima cinta-Nya”. Sedangkan Syaikh Muhammad Syaltut - guru besar di Mesir - mengatakan bahwa agama merupakan ketentuan ilahiah, yang mengatur dan menata agar semua urusan manusia berjalan dengan baik, mendapatkan kesejateraan hidup baik di dunia dan akhirat, kebenaran dan keindahan, kedamaian dan kesejukan bagi orang-orang yang berada di sekitarnya.

Dengan demikian, maka sebagai penganut ajaran agama Islam, kita dituntut untuk membawa agama Islam Rahmatan lil Alamin. Islam yang bermakna damai, dan Rahmatan Lil ‘Alamin berarti kasih sayang bagi alam semesta. Jadi arti IslamRahmatan Lil ‘Alamin ajaran yang tampil ditengah-tengah masyarakat dan mampu mewujudkan perdamaian serta kasih sayang kepada seluruh manusia. Dalam Al-Qur’an ayat yang membahas konsep demikian mengindikasikan bahwa jika Islam dipraktekkan dan dipahami secara benar ia akan mendapatkan rahmat (Rahman dan Rohim).

Mahatma Gandhi di dalam buku Gandhi The Man: The Story of His Transformation (2011) karya Eknath Easwaran berujar bahwa eksploitasi bisa ditanggulangi hanya dengan membalas sebuah kebencian dengan kasih sayang dan rasa jijik dengan rasa hormat. Lebih lanjut Gandhi berujar jika kita ingin melihat jiwa kepahlawanan maka lihatlah mereka yang bisa membalas sebuah kebencian dengan kasih sayang.

Seorang muslim harus membuktikan kepada seluruh agama dan aliran yang ada bahwa Islam itu cinta damai. Salah satu caranya adalah mengakui dan menyakini bahwa perbedaan (teologi pluralisme) itu keniscayaan. Agama itu adalah objek dan subjeknya adalah manusia, bagaimana agama itu akan menjunjung nilai-nilai perdamaian tergantung kepada subjek yang memakainya, ketika kepentingan nisbi dimasukkan kedalam agama, maka agama akan rusak. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *