Menyoal Gairah Menulis Dosen

Kita, Anda dan saya tentunya (akan) selalu terngiang-ngiang akan pernyataan sastrawan Pramoedya Ananta Toer:
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Ini merupakan salah satu doktrin abadi yang pantas disematkan dan ditanamkan kepada seseorang, saat meleburkan jiwa dan raganya dalam dunia literasi.

Menulis merupakan sebuah konsekuensi kehidupan, baik menulis yang menghasilkan artikel, majalah, buku dan kitab, maupun dalam pengertian luas yakni mengorbankan hidup untuk kepentingan masyarakat dan negara, yang kemudian akan dikenang oleh masyarakat dan bangsa. Keduanya, mau tidak mau harus mengasah “keberanian” dirinya, baik menulis buku atau menulis dalam pengertian kedua.

Doktrin Pram di atas–sapaan akrab dirinya–tentunya dilanjutkan dengan doktrin:
“Menulis adalah sebuah keberanian.”

Dalam mengasah keberanian dibutuhkan tiga sifat yang wajib dimiliki penulis yakni kemampuan, kemauan dan konsistensi (istiqamah). Ketiganya pula yang dapat membentuk kesetian menjadi penulis, menulis adalah pilihan hidup, pilihan rasional seseorang dan dunia yang memiliki petualangan hebat.

Pada beberapa bulan kemarin, seorang dosen “mengeluh” karena tak kuasa menulis tugas akhir akademiknya di sebuah kampus. Curhatan bertubi-tubi membuat telingaku memuat beban berat, karena curhatan ini tak seharusnya dilontarkan oleh seorang dosen. Dosen adalah sebuah profesi kehidupan dan menulis ada implikasi dari profesi tersebut.

Kisah dosen di atas perlu kita resapi dan akui bahwa itu adalah sebuah pengingkaran. Inkar terhadap realita pilihan hidupnya sebagai dosen. Dosen tidak saja dituntut mengajar, tetapi eksistensinya dituntut menelurkan karya, baik ilmiah maupun non-ilmiah, yang menjadi asupan mahasiswa-mahasiswinya di kampus. Disinilah integritas seorang dosen perlu dipertanyakan, apakah menjadi dosen sebuah mata pencarian untuk kehidupan sehari-hari ataukah menjadi dosen yang memiliki kualitas dan kuantitas yang perlu diberikan penghargaan.

Tak bisa dipungkiri pula, kampus-kampus yang begitu banyak di Indonesia tidak mampu menyuplai dan memberikan kepuasan dan hausnya mahasiswa-mahasiswa terhadap ilmu pengetahuan. Perpustakaan hanya menyediakan buku-buku lama, diperparah dengan sebuah dalih oleh pemegang otoritas kampus bahwa buku-buku lama belum terjapai seluruhnya oleh mahasiswa. Padahal, pengelola perpustakaan dituntut menyuplai buku-buku yang up to date, agar kebaruan dan kesegaran pemikiran mahasiswa terus terjaga. Ini salah satu faktor penyebab mahasiswa ketularan “virus ingkar” dari dosen di atas.

Dunia literasi khususnya mengenal empat keterampilan, yakni listening, speaking, reading dan writing. Posisi menulis berada diposisi terakhir, banyak orang menganggap karena memang menulis adalah hal yang sulit. Tiga kondisi yang menjadi hambatan yaitu “apa yang akan ditulis”, “untuk siapa tulisan ditujukan” dan “bagaimana menuliskannya”. Kondisi inilah yang sering kita jumpai dan menjadi alasan pragmatis bagi mereka-mereka yang enggan menulis. Obat untuk menulis adalah menulis bukan membaca, membaca hanyalah sarana penguat argumentasi dan pijakan berpikir kita, tapi membaca bukan obat menulis. Walaupun, disatu sisi, menulis dan membaca dua aktifitas yang tidak bisa dipisahkan.
"Siapa yang berani menulis berarti dia berani untuk tidak berhenti membaca," Makmun Rasyid

Faktanya, dalam catatan sejarah manusia, ia dilahirkan ke muka bumi tidak dinobatkan sebagai penulis, karena penulis hebat dibentuk oleh lingkungan dan asupan otak. Ibarat sebuah pisau, semakin diasah akan terus tajam, karena menulis adalah sebuah proses menuju keabadian hidup. Eksistensi kehidupan seseorang dibalut oleh hukum kausalitas dan proses. Tiada proses yang simpel, yang dialami penulis-penulis hebat di dunia. Ia akan melewati masa-masa suram dan uji nyali yang bersifat terus menerus.

Tokoh Islam terkemuka, Imam Syafi`i jauh-jauh hari mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan itu bagaikan buruan yang harus diikat erat-erat, layaknya hafalan yang perlu diikat, ia akan lepas manakala tidak diikatkan dengan tali yang kokoh. Sebagaimana pepatah mengatakan:
“Man hafadza farra wa man kataba qarra” atau hafalan (ingatan dan omongan) akan lari tetapi tulisan tetap berdiri.

Menuliskan ilmu pengetahuan adalah cara ampuh menjaga keabadian pemikiran, mengalahkan retorika lisan di mimbar-mimbar dan podium. Alasan logis, jika menulis membuat umur panjang, fisiknya berada di alam kuburan namun jiwanya terus merasuki tubuh-tubuh yang haus ilmu pengetahuan.

Pecinta ilmu pengetahuan tidak akan pernah puas dengan satu hidangan dan sajian, selalu menginginkan sesuatu yang lebih, yang mampu menghilangkan haus dan dahaga ilmu pengetahuan itu. Aidh bin Abdullah Al-Qarni dalam kitabnya ‘Ala Bawwabat al-Wahyi, pada bagian mukadimah (pembukaan) mengatakan:
“Seandainya apa yang saya lakukan ini tidak bermanfaat buat orang lain, maka saya hanya dapat men-tadabburi­ (menghayati) makna-makna dalam al-Qur`an; merenungi hikmah-hikmahnya, mengambil pelajaran dari nasihat, kisah-kisanya, serta berita yang terdapat di dalamnya, serta memahami hukum-hukumnya.”

Jadi tak perlu ada ketakutan untuk memilih bahwa menulis adalah pilihan hidup. Menulis mampu menghilangkan sekat-sekat alam pikiran dan menerobos batas alam semesta kehidupan.

Pada suatu ketika, muncullah kitab Qîmatu al-Zaman ‘Inda al-‘Ulamâ` karya Abd Al-Fattâh Abu Ghuddah. Subhanallah, memotret kisah kehidupan penulis yang begitu lancar dan bersahabatnya ia dengan pulpen, yakni Ibnu Jarir Al-Thabari. Diceritakan oleh seorang muridnya Abdullah ibn Ahmad Al-Farghani dalam kitabnya "Al-Shilat" bahwa Ibnu Jarir lahir pada tahun 224 H dan meninggal 310 H, berarti umurnya 86 tahun. Jika masa akil balighnya tidak dihitung, karena produktifitas menulis pada seumuran tersebut tidak memungkinkan, maka umurnya menjadi 72 tahun. Dalam sehari beliau menulis sebanyak 14 lembar. Jika 72 dikalikan dengan 14 maka hasil tulisan yang beliau torehkan diatas kertas sebanyak 358.000 lembar. Begitu juga sosok al-Baqillani tidak akan atau tidak tidur sehingga dia menulis 35 lembar/halaman yang ada di otaknya.

Dalam menulis, idealisme sangatlah penting, tetapi di satu sisi–sesuai pengalaman–menuntut karya yang kita tulis sempurna, kemudian baru kita terbitkan, hanya akan menjadi kendala besar tidak bisanya karya kita diterbitkan. Tak ada gading yang tak retak dan tak ada karya yang sempurna. Menulislah, menulislah dan menulislah, kemudian terbitkan. Kesalahan dalam karya kita akan tampak setelah menulis bukan sebelum menulis. Keberanian sungguh diperlukan sebagai bekal utama seorang penulis, tak gentar oleh kritikan, tak ciut oleh hujatan dan tak pesimis dalam kekurangan yang dimiliki.

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si mengatakan bahwa "Dosen memang bukan sekedar pengajar biasa, akan tetapi pengajar yang memiliki komitmen sebagai pengembang ilmu pengetahuan... Kita sungguh akan melihat ke depan bahwa para dosen menjadi sangat sibuk untuk memenuhi standart kualifikasi minimal sebagai dosen dengan terus menulis baik di jurnal, majalah atau menghasilkan karya berupa buku. Jika ini bisa dilakukan maka akan kita jumpai dinamika pengembangan ilmu pengetahuan yang luar biasa."

Dengan demikian, tidak ada alasan lagi dari para dosen untuk tidak menulis, baik di jurnal nasional maupun internasional, juga buku. Saya memiliki harapan, semoga suatu saat kelak, syarat menjadi dosen adalah memiliki 5 jurnal nasional, 2 jurnal internasional dan 5 buah buku. Syarat itu pun diterapkan ke semua kampus-kampus di seluruh bumi pertiwi. Bagaimana mungkin, dosennya saja malas menulis, apa yang akan ditiru oleh mahasiswanya?.
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *