Menyikapi Agama Non-Muslim


“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” —Qs. Al-Maidah [5]: 48



Ayat di atas memiliki empat poin pembahasan penting, yaitu: Al-Qur’an dan kebenaran, perbedaan dan banyaknya agama-agama yang diciptakan oleh-Nya, kebajikan dan kebaikan, serta kembalinya manusia paada Allah SWT. Keempat-empatnya saling berkelindan satu sama lain.


Pertama, Al-Qur’an diturunkan untuk dan boleh dipelajari dan diamalkan oleh siapa saja, khusus untuk umat Muslim wajib beriman padanya dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Namun, untuk umat non-Muslim, ia tidak memiliki kewajiban yang sama dengan umat Muslim, sekalipun seruan Al-Qur’an tertuju pada non-Muslim juga. Al-Qur’an mengajukan argumentasi bahwa dirinya tidak memiliki satu kesalahan pun. Allah berfirman, “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (Qs. Al-Baqarah [2]: 2).

Umat Muslim tidak boleh ragu atas isi dan format penyajian Al-Qur’an, karena keraguan akan menjerumuskan kepada kesesatan. Artinya, umat Muslim mutlak beriman pada Al-Qur’an, karena ia kompas kehidupan. Tapi, di akhir ayat, Al-Qur’an akan menjadi petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Takwa adalah seseorang yang seimbang dalam mengamalkan ajaran Islam secara individu dengan membawa ajaran itu kepada umat non-Muslim. Ini indikasi kuat, antara Muslim dan Al-Qur’an ada jarak, pemisah yang kerap membuat manusia dekat tapi tak memiliki efek untuk alam sekitarnya.

Adapun non-Muslim, ada yang percaya bahwa Al-Qur’an itu sumber kebenaran, dan lebih banyak yang tidak percaya. Mengapa? Karena mereka lebih mempercayai kitab suci mereka sendiri. Muslim dan non-Muslim sama-sama memiliki subjektifitas atas kitab sucinya. Sebagai Muslim, saya tidak menyalahkan subjektifitas itu, sekalipun apa yang diyakini mereka tidak sesuai dengan kebenaran perspektif Islam.

Lebih-lebih para orientalis, mereka mutlak tidak percaya pada Al-Qur’an. Alih-alih percaya, justru mereka mengatakan—sebagaimana pernnyataan Abraham Geiger, Theodor Noldeke, Hartwig Hirschfeld, Arthur Jeffery, Friedrich Schwally dan lain sebagainya—bahwa Nabi telah dipengaruhi oleh ajaran Yahudi. Memang, sesuatu yang tak bisa dipungkiri bahwa terdapat kesamaan antara ajaran Islam dengan sebagian ajaran Nabi Musa dan Nabi Isa. Kesamaan itu disebabkan wahyu yang dibawa berasal dari satu sumber.

Namun, terdapat perbedaan mendasar antara ajaran Islam dengan mereka. Al-Qur’an dalam perspektif Islam murni, merekonstruksi apa-apa yang telah disalahpahami oleh selain umat Muslim. Tapi, bagi mereka tidak. Dalam doktrin mereka, “Janganlah kamu menyangka Aku datang untuk membatalkan (meniadakan) hukum Taurat atau Kitab Para Nabi. Aku datang bukan untuk membatalkannya (meniadakannya) melainkan untuk menggenapinya” (Injil Matius, 5:17). Jelas, bahwa perspektif yang mereka bangun adalah Al-Qur’an adalah pelengkap dan sama sekali tidak meng-abrogasi dan me-nasakh agama-agama lainnya, terlebih kitab suci mereka.

Perbedaan persepsi dalam memandang Al-Qur’an, apakah ia benar atau salah, menyebabkan kebenaran itu sendiri tidak mutlak. Kemutlakan hanya akan berlaku dalam masing-masing penganut dan pengiman, namun ketika dilemparkan ke luar, kebenaran itu bercabang dua atau berwajah ganda. Maka, pemaksaan terhadap non-Muslim untuk mengamalkan Al-Qur’an adalah sebuah pola dakwah yang tidak dibenarkan dalam Islam. Lebih-lebih, ketika non-Muslim melihat penyampai Al-Qur’an di dalam kehidupan sehari-harinya tidak sesuai dengan norma dan etika dunia, maka ia tidak akan mengikutinya.

Oleh sebab itu, di tengah-tengah Al-Qur’an dan Muslim harus ada akhlak. Akhlak akan membimbing seseorang dalam membawa isi dan menyampaikannya. Menyampaikan kebenaran perspektif Islam, tanpa harus melukai diri mereka. Karena kesalahan dalam menyampaikanakan membuat mereka terpukul, dan kesalahan itu suatu saat dilemparkan kepada kita. Akhirnya, kita melakukan gol bunuh diri.

Dalam interaksi sosial, pembawa Al-Qur’an tidak boleh sembarangan atau memakai segala cara untuk kepentingan Islam semata. Akhirnya, bisa menyebabkan dimana seseorang berdalih di bawah panji Al-Qur’an dan Islam namun caranya tidak sesuai aturan Islam. Karena cara tidak kalah pentingnya dari isi. Sekalipun substansi lebih penting, tapi cara terkadang menentukan kesuksesan sesuatu.

Kedua, Allah bisa saja membuat mahluknya dalam satu warna, tapi tentunya tidak ada neraka dan konsep kebaikan. Islam sebagai agama samawi yang datang belakangan, sudah jelas mengajukan dua konsep yang lugas untuk meniscayakan keragaman dan warna-warni itu, yaitu:
“Fastabiqul khairat” (berlomba-lomba dalam kebaikan) dan “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” —Qs. Al-Hujurat [49]: 13)

Seseorang dinamakan manusia disebabkan perbedaan itu. Warna-warni itu adalah rahmat, jangan jadikan perbedaan itu adalah azab, yang menyebabkan pertikaian. Perbedaan keyakinan dan agama, bukan penghalang seseorang untuk mewujudkan kemaslahatan bersama. Hakikatnya, semua agama mengajarkan kebenaran yang hakiki, di mana manusia diciptakan oleh Allah SWT menurut rupa yang diinginkan oleh-Nya. Tapi, esensi dari semua agama adalah mengajarkan ‘kebenaran’, kelemah-lembutan, keadilan, perdamaian, dan kasih sayang. Jika Al-Qur’an mengajukan argumentasi bahwa Al-Qur’an kitab cinta, maka Al-Kitab mengajukan bahwa dirinya kitab kasih sayang.

Indonesia, sebenarnya sudah menampilkan sebuah mozaik yang indah dalam persoalan kerukunan dan masyarakat dalam menyikapi perbedaan itu. Hal ini diakui oleh Hildred Geertz, seorang sosiolog dari Amerika Serikat tentang indahnya rajutan kemajemukan yang telah menghiasi taman pertiwi.

Dalam konteks daerah NTT, rajutan ini terus dipelihara. Menyikapi ajaran yang berbeda dengan mengedepankan akhlak. Hal ini bisa tampak dari ungkapan yang ada di daerah Dawan: “Nekafmese ansao mese, bae feto bae mone.” Ungkapan itu telah menembus batas sekat suku, agama, ras dan golongan. Maka pertanyaannya kemudian adalah apakah dari setiap jenis warna-warna itu bisa beradaptasi dengan budaya, tempat agama itu bersemanyam dan berinteraksi dengan budaya lokal, yang lebih dulu ada daripada agama itu sendiri. Jika Islam tidak mampu berinteraksi dan menyikapi agama non-Muslim dengan bijaksana, maka masa depan umat Islam tidak akan punah.

Ketiga, semua manusia akan kembali pada-Nya dan sebaik-baik orang adalah yang bertakwa. Pada poin nomor dua, warna-warni adalah keniscayaan, tapi hanya satu yang pilih Allah SWT kelak hari. Semua manusia menuju Allah, Allah adalah ujung terakhir pencarian dan penghabisan, dan semua urusan akan dikembalikan pada-Nya.

Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah Al-Hatimi Al-Tha’i al-Mursi al-Andalusi atau Ibnu ‘Arabi dalam kitabnya Al-Futuhat Al-Makkiyyah (1972) mengingatkan bahwa tidak semua manusia kembali pada-Nya dalam keadaan bahagia. Manusia memang akan kembali kepada-Nya, tapi hanya orang-orang yang menjalankan “syariat-Nya” secara totalitas, maka dia akan mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan. Dan mereka yang menyanggah “syariat-Nya” akan mengalami kesengsaraan.

Dalam Islam saja, diakui ataupun tidak, telah terjadi perbedaan terhadap Islam itu sendiri, sesuai prediksi Nabi, umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan, hanya satu yang selamat. Masing-masing kelompok saling mengklaim diri paling benar dan memegang ‘kunci surga’, tapi toh semua itu belum mendapat kepastian dari-Nya.

Artinya, keragaman dalam Islam saja adalah kepastian, lalu mengapa kita menafikan keragaman di luar agama kita. Bukankah Al-Qur’an dengan gamblang memberitahukan banyaknya wajah, baik dalam Islam itu sendiri maupun di luar Islam, dan itu adalah perbuatan kesengajaan Tuhan. “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya” (Qs. Hud [11]: 118-119). Ayat ini tegas menolak sistem ketunggalan dalam membuat wajah dunia.

Maka, sebagai umat Muslim yang beriman dan bertakwa, tak pantas kiranya menafikan cetak biru dari Tuhan itu dan berkoar-koar mengkafirkan orang-orang diluar keyakinannya. Penolakan keragaman adalah penolakan terhadap sunah yang telah digariskan Allah dalam Al-Qur’an. Sikapilah agama Ahlul Kitab dan non-Muslim dengan akhlak Qur’ani. Bawalah agama dengan penuh kelembutan dan penuh cinta-kasih. []

*Makmun Rasyid, Ende, 2016
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *