Menulis Itu Semudah Membaca

Dunia literasi sungguh membingungkan, namun di satu sisi sungguh mengasyikkan. Membingungkan, ya membingungkan buat orang pemula, pemula dalam menggerakkan sebuah potensi tangan yang diberikan Tuhan. Bukankah setiap seseorang yang ingin menyelami dunia tulis menulis, akan disuguhkan kalimat “Menulis Itu Mudah”, sudah rahasia umum atas jawaban dari seorang senior kepada penulis pemula. Tetapi sebuah keasyikan kepada penulis handal yang lihai menggerakkan pena, memainkan kata-kata, menganalogikakan sebuah kejadian ke dalam bentuk frasa yang halus, kritik yang membangun dan lain sebagainya.

Kalimat “Menulis Itu Mudah” merupakan doktrin untuk pemula agar ia mencintai dunia literasi. Karena cinta akan melahirkan jiwa yang tenang, tanpa ketenangan seorang penulis akan mengalami kebuntuan di saat ingin menerjemahkan dan mengekspolitasi gagasan dan ide-ide terbaiknya.

Refleksi Sejarah Klasik

Puncak peradaban termegah dan karya-karya paling terbanyak yang kita kenal dalam sejarah Islam yakni di Baghdad. Bagaimana Baghdad menjadi rekaman sejarah Islam, para ulama-ulama berlomba-lomba dalam menulis, membuat karya yang tidak saja dinikmati oleh orang yang se-zaman mereka, tetapi generasi kita masih bisa menikmati sebahagian karya-karya ulama klasik.

Pada suatu hari, ketika pasukan Tartar yang dipimpin Hulagu Khan menaklukkan kota Baghdad, pasukannya membuang buku-buku dan kitab-kitab yang berada di perpustakaan Bagdhad ke sungai Tigris. Buku yang berjumlah banyak tersebut,  dijadikan jembatan untuk penyeberangan mereka dari arah Barat ke Timur.

Jembatan? Ya. Buku-buku tersebut ditumpuk dan mereka berjalan diatasnya. Itu sejarah kelam yang menyakitkan buat umat Islam. Tetapi, bukan itu yang menjadi fokus saya. Fokusnya, membanyangkan banyaknya karya-karya lahir dari tangan para pemikir abad klasik.

Pada bulan November 2014, aku membaca sebuah judul kitab Qîmatu al-Zaman ‘Inda al-‘Ulamâ`. Subhanallah, begitu lancar dan bersahabatnya Ibnu Jarir al-Thabari dengan pulpen. Diceritakan oleh seorang muridnya Abdullah ibn Ahmad al-Farghani dalam kitabnya "al-Shilat" bahwa Ibnu Jarir lahir pada tahun 224 H dan meninggal 310 H, berarti umurnya 86 tahun. Jika masa akil-balighnya tidak dihitung, karena produktifitas menulis pada seumuran tersebut tidak memungkinkan, maka umurnya menjadi 72 tahun. Dalam sehari beliau menulis sebanyak 14 lembar. Jika 72 dikalikan dengan 14 maka hasil tulisan yang beliau torehkan diatas kertas sebanyak 358.000 lembar.

Bahkan dalam keheningan malam, diiringi lantunan ayat-ayat suci al-Qur`ân, aku membaca kitab berjudul Qîmatu al-Zamân ‘Inda al-‘Ulamâ karya Abd al-Fattâh Abu Ghuddah, ia merekam bagaimana sosok al-Baqillani tidak akan atau tidak tidur sehingga dia menulis 35 lembar/halaman yang ada di otaknya.

Kisah diatas menggambarkan betapa produktifnya para ulama, bahtera pena ulama tak tertandingi, untaian kata-katanya dapat menyilaukan pemikir-pemikir Barat. Mereka menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, berkarya dan mengajar. Tiada hari tanpa menulis ide-ide mereka. Layaknya, kisah pakar hadis ternama yaitu Imam Bukhari, dimana suatu hari ia terbangun dari tidurnya, segera mengambil kertas dan menulis gagasannya, kemudian tidur kembali, bangun lagi dan menulis hingga pagi hari.

Kehilangan ide dan gagasan bagi para ulama merupakan sebuah musibah, mereka-mereka berusaha menuliskan apa yang mereka miliki, di manapun mereka berada,  seperti Imam Ghazali tatkala menulis kitab Ihya ‘Ulumuddîn.

Dua kisah diatas selalu terngiang-ngiang dalam telingaku, kita boleh berkata, dalam pencapaian mereka, ada ‘tangan’ Tuhan menyertainya. Tetapi sebagai manusia, mereka manusia yang makan dan minum seperti kita, kemampuan dan perangkat yang diberikan Tuhan sama dengan kita, bahkan bukankah di zaman mereka, media dan sarana prasarana tidak secanggih saat ini. Ternyata, yang membedakan mereka dengan kita adalah semangat dan cara memanfaatkan serta menularkan gagasan.

Tujuh Pola Cara Berkarya

Para ulama-ulama klasik dalam membuat sebuah karya. Hampir  Setidaknya, terdapat enam pola yang kita temui. Pertama, membuat karya yang sama sekali belum pernah digagas oleh orang lain. Kedua, mengarang sebuah kitab untuk menyempurnakan gagasan para pendahulu. Ketiga, sebuah karya yang difungsikan untuk mengoreksi kesalahan yang ada pada karya tulis seseorang. Keempat, menjelaskan sebuah karangan pendahulu yang dirasa terlalu kompleks dan sulit.

Kelima, berbentuk ringkasan atas karya pendahulu yang dinilai terlalu panjang lebar dengan tujuan agar dapat memberikan kemudahan bagi khalayak. Keenam, penulis tersebut mengumpulkan buah pemikiran seorang ulama/pemikir/tokoh yang berserakan di berbagai tempat (media) dan kemudian menyatukannya. Dan ketujuh, mengsistematisasikan tulisan pendahulu yang tidak sistematis, dalam hal ini seseorang yang melakukan tanpa mengambil alih, bahwa karya tersebut miliknya, melainkan tetap mencantumkan nama pengarang asli.

Dengan tujuh pola demikian, bukankah menulis itu mudah? Kita sebagai pemula tidak dituntut untuk meraih poin pertama, poin keenam juga bisa kita lakukan, sebagai langkah termudah dalam dunia literasi. Tidak ada kata sulit, ketika berani mencoba dan mencintai dunia literasi, maka akan terasa bahwasanya doktrin menulis itu mudah memang benar-benar adanya.

Di dalam enam pola diatas, ada tiga hal yang harus dibangun terlebih dahulu dalam diri kita yaitu pertama: selalu ikhlas atau di dasari pada keikhlasan dalam berkarya, keikhlasan harus lebih diutamakan dibandingkan sikap komersialisasi. Kedua: manajemen waktu. Mengatur waktu yang baik dan benar.

Saya biasa belajar menulis sebelum tidur, berusaha menulis apa saja yang ada di pikiran, minimal dua jam. Setelah itu baru membaca buku-buku. Dan ketiga, bertemanlah dengan para penulis, karena dengan demikian, optimisme dan semangat akan terus terbangun, akan mengalahkan pesimisme dan rasa minder dalam menelorkan sebuah karya. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *