Menjaga Diri Dari Asupan Subhat

Penghafal Al-Qur'an merupakan penyambung lidah Rasulillah Muhammad SAW. Salah satu elemen yang menjaga Al-Qur'an setelah Nabi dan para sahabatnya wafat, baik yang wafat di medan perang maupun wafat secara alamiah. Mereka-mereka gugur dan tercatat matinya sebagai mati syahid. Kulit-kulit mereka tidak akan tersentuh oleh api neraka. Laju jalannya saat meniti jembatan kelak hari sangat laju. Apa-apa yang mereka hafalkan menjadi pembantu dikala mulut terkunci.

Pada pembahasan sebelumnya, yang berjudul Sudahkan Izin Sama (yang) Punya Al-Qur'an?, betapa KH. Hasyim Muzadi sangat tersentuh oleh pelbagai pertanyaan yang tertuju padanya, bahkan abah hanya mampu memohon kepada Pencipta Alam Semesta. Obrolan itu membawa kepada sebuah suasana, di mana seorang penghafal Al-Qur'an harus bersih dan suci. Utamanya bersih dari makan dan minum hal-hal yang masih samar.

Menjaga asupan yang masuk ke dalam diri akan melahirkan jiwa-jiwa yang membawa kemaslahatan, jika ia berkiprah di masyarakat. Tindakannya sesuai perintah Allah bukan disebabkan oleh pemilik modal. Lakunya dilandaskan oleh apa-apa yang ia pelajari dalam Al-Qur'an. Lisannya selalu dibasahi oleh ucapan dan ungkapan positif. Makanan dan minumannya selalu jelas, dari siapa asalnya.

Makanan dan minuman bahkan nikmat Allah yang ada di muka bumi ini, awalnya adalah suci. Namun kerap kesuciannya ditempeli oleh kotoran-kotoran yang mengaburkan kesucian itu. Lebih dari itu, kesucian itu diambil dengan cara-cara yang tidak suci.

Sejatinya, segala yang masuk akan menggumpal dalam diri dan akan mengalir sesuai peredaran darah. Makanan yang subhat akan membentuk diri dan suasana yang negatif. Kemudian akan melahirkan sesuatu yang negatif pula. Di perparah oleh kerasukan dan ketamakan yang terdapat dalam diri, ilmu yang dimilikinya pun akhirnya menjadi pelayan nafsu birahi.

Agar apa-apa yang keluar dari dalam diri sesuatu yang positif, maka KH. Hasyim Muzadi menyatakan:
"Kebersihan (harta) melahirkan kebesaran. Tapi penggunaan kebesaran yang tidak bertanggung jawab dia akan memukul dirinya sendiri. Ini yang dimaksud istidraj"

KH. Hasyim Muzadi membagi nikmat menjadi dua. Pertama, nikmat yang memberi manfaat untuk yang memilikinya, manfaat jika disalurkan kepada orang lain dan nikmat itu tidak akan melilit dirinya. Semakin banyak yang didapatkan semakin terasa manfaatnya.

Kedua, nikmat yang sifatnya "istidraj". Nikmat ini kerap memukul pemilik harta. Hartanya banyak namun kebahagiaan tak menyertainya. Semakin banyak yang dimiliki semakin gelisah menyelimuti dirinya. Semakin banyak didapatkan semakin menambah masalah.

Masalah-masalah itu bersumber dari cara dan pemanfaatan nikmat, yang dalam hal ini berupa harta. Caranya yang tidak sesuai syariat dan petunjuk Al-Qur'an-hadis membuat masalah melilitnya. Oleh sebab itu, KH. Hasyim Muzadi berkata:
Harga seseorang dilihat dari seberapa besar kemaslahatan yang dilahirkannya (atau ditorehkannya), dan kebermanfaatan dirinya

Sebagai santri penghafal Al-Qur'an, abah sedari awal mengingatkan agar menjaga betul-betul diri dari memakan dan meminum, bahkan sangat teliti terhadap pemasukan yang ia dapatkan dan berikan kepada seluruh santri-santrinya di Depok. Dalam sesi "tanbihul 'am" hal ini diulang-ulang, agar kami selalu waspada. Tidak sembarangan makan dan minum.

Begitu cintanya ia pada Al-Qur'an dan para penghafal Al-Qur'an, abah memberikan beasiswa selama "nyantren" di Al-Hikam. Bahkan tidak memiliki keterkaitan apapun kecuali ikatan moral, layaknya beasiswa pada umumnya. Abah hanya meminta agar ia selalu didoakan dan dikirimi Al-Fatihah agar selalu sehat dan selalu membawa kemaslahatan ke mana saja.

Sampai akhir hayatnya, abah ingin dekat dengan para penghafal Al-Qur'an, bahkan meminta dikuburkan di Al-Hikam Depok, tidak saja menyaksikan proses perjuangan Al-Hikam ini, melainkan agar selalu mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Alhamdulillah, atas instruksi KH. Hilmi Al-Shidqi Al-Araqi, para santri mengkhatamkan Al-Qur'an setiap harinya selama 40 hari.

Semoga amal kebajikan nya selalu mengalir, sekalipun jasadnya sudah berpindah dari alam nyata ke dimensi yang berbeda. Al-Fatihah! []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *