Menjadi Pengayom di Zaman Kacau

Masyarakat Indonesia mendapat tantangan besar hari ini, berupa mendialogkan agama yang dianutnya dalam konteks kekinian. Misalnya Islam, yang dibawa Nabi Muhammad pada abad ke VI membawa konsep perubahan, keselamatan, kelemahlembutan dan ajaran welas asih dalam menyebarkan ajaran agamanya. Realitas sosial yang penuh amoral, disegarkan kembali oleh Nabi Muhammad. Sejak itulah, adagium bahwa Islam kompatibel di semua zaman dan tempat, dijadikan patokan para pembaharu dalam meramu gagasan-gagasan agar tetap segar. Alasan sederhananya, Muslim tidak saja cukup menerapkan ajarannya di lingkungannya (internalisasi), tapi harus mampu menkontekstualisasikan Islam.

Spirit beragama-bernegara yang berangkat dari Qur’an dan Sunnah, tidak sekedar menjawab Islam yang mampu keluar dari alienasi zaman dan gelombang yang terjadi di internal agama, tapi menjawab cara beragama-bernegara masyarakat bak anak kecil yang baru lahir. Di mana cara beragama-bernegara yang “tidak dewasa”. Fenomena ini pun tidak saja terjangkit kepada para penganut agama, tetapi para intelektual dan negarawan kita. Sebuah gerakan “penafsiran tunggal” mulai tercium baunya di segala perspektif dan gagasan yang berhamburan di sana-sini.

Gerakan pemulihan martabat bangsa agama dan bangsa menjadi keniscayaan setiap insan. Dalam agama, tafsir tak pernah kenal selesai, tetapi Qur’annya selesai. Begitu pula pada Pancasila, tafsirnya tak akan pernah selesai, tapi Pancasilanya sudah final. Maka pemahaman tentang Qur’an dan Pancasila, tidak memerlukan institusi yang berperan sebagai pemegang otoritas penafsiran. Mengapa? Penafsiran Qur’an akan berkembang sepanjang zaman, sebab para pentafsir saat memulainya bak mengambil air di lautan. Jikalau pun air di lautan dijadikan tinta, maka makna Qur’an tak pernah selesai ditulis. Pancasila pun demikian, penguasa dan pemerintah tak berhak menentukan penafsirannya yang tunggal. Tapi masyarakat wajib menyakini bahwa Qur’an sudah tuntas dan Pancasila final sebagai ideologi Negara Indonesia.

Kondisi ideal seorang ulama, cendekiawan dan negarawan dalam kitab suci masih sulit—menghindari upaya penyebutan “tidak ada”—dicari di zaman berkelimpahan ini, justru yang tampak adalah agamawan, negarawan dan cendekiawan yang ‘galau’, yang disebabkan kecamuk politik yang berkepanjangan. Sosok manusia yang tampil sebagai pengayom, masih dinantikan masyarakat Indonesia. Sosok yang memadukan kehebatan akal (yang dalam Bahasa Arab disebut ra’yu) dengan akal budi. Sosok agamawan yang terbebas dari sekedar memikirkan kepentingan pribadi dan kelompoknya, juga negarawan yang terbebas dari sekedar menumpuk harta dan popularitas semata. Mengapa ditunggu-tunggu? Sebab malapetaka dan permasalahan yang berkepanjangan ini, tidak saja disebabkan oleh masyarakat yang kian jauh dari dunia ilmu pengetahuan, tapi para agamawan dan negarawan yang menggadaikan rasionalitas objektifnya.

Kasus mutakhir, misalnya, dibubarkannya kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), masyarakat secara jernih melihat, mereka-mereka hanya tampil sebagai sosok yang terlibat dari pro-kontra semata. Namun, sosok yang hadir mendamaikan keduanya, masih dinantikan bak seorang dewa yang akan turun ke muka bumi. Kelompok yang pro, berpikiran hanya menghabiskan dan mematikan langkah lawannya. Yang kontra, sekedar memikirkan bagaimana strategi melawan narasi-narasi besar (grand narratives) dan segudang argumentasi. Namun yang muncul di sana-sini, hanyalah intelektual-intelektual ‘genit’, yang tidak memikili konsep besar mendamaikan keduanya. Sebab, konsep itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak mengejar popularitas dan bersih dari keduniaan (berupa pencarian jabatan).

Di tengah-tengah penantian dewa yang akan menjadi pengayom, Indonesia dilanda gejala kuat berupa information spill over (peleburan informasi), yang menjadi bagian dari sistem demokrasi dan globaliasi. Gejala ini memiliki sisi negatifnya, yang menjadi tugas besar seorang agamawan dan negarawan. Harus muncul sebuah narasi tingkat tinggi yang menawarkan solusi perdamaian di wilayah internal dan eksternal. Pemikiran-pemikiran sempit, tidak saja menjangkiti para kaum tekstualis, melainkan orang-orang yang menganggap kelompoknyalah yang paling benar. Ditopang oleh sekumpulan adagium moderat dan narasi bijak yang ditebar di media sosial, tapi sulit menjadi pengayom. Sejatinya, seorang pengayom hanya bisa tumbuh dalam diri seorang yang bersih dari segala kepentingan.

Zaman berkelimpahan ini pun tertimbun dengan era kegalauan. Masyarakat dihadapkan pada dua aliran, yang sama-sama buruknya. Pertama, aliran “tatharruf”. Aliran ini dalam agama kerap melahirkan ‘bencana’ di sana-sini. Adanya penyalahgunaan Islam saat berdakwah. Lahirlah dominasi Islam dalam dirinya dan kelompoknya. Dalam bernegara pun demikian, pengaruh alam pikiran dan penghayatan terhadap agama, membawa dirinya dan kelompok menjadi penentang negara. Hampir semua yang terjadi di negara, sebab tidak merujuk kepada Qur’an dan Sunnah. Maka kewajiban mengembalikan kepada keduanya, sebuah keniscayaan. Tanpa kompromi dan sikap dialogis intra-intelektual dan intra-agama.

Kedua, aliran “tasyahhuli”. Aliran ini dalam beragama, memudahkan segala sesuatu, seandainya ada pertentangan antara syariat dan teori kebebasan, maka kebebasan akan dimenangkan. Kerap, apa-apa yang sakral dalam agama menjadi luber, sekalipun disampuli oleh ragam teori ilmiah, yang kerap menyilaukan mata para penapak jalan. Sedangkan dalam bernegara, di satu sisi menjadi penentang utama aliran pertama, juga membebakan dan menghalalkan segala cara, yang berpayung di bawah demokrasi dan HAM. Sampai-sampai tak jelas, HAM itu berstempel Pancasila ataukah “HAM-burger”.

Kedua aliran di atas, harus muncul seorang pengayom. Menantikan kehadiran sosok KH. Hasyim Muzadi kedua. Yang seimbang dalam memainkan perannya, dalam konteks agama dan negara. Seorang agamawan sekaligus negarawan ini berkesimpulan, begitu banyak manusia-manusia tumbuh di era modern saat ini yang saling berebut jabatan fungsional dan struktural, tetapi setelah mendapatkanya, justru menjadi urusan umat dan negara di mana-mana. Masalahnya hanya satu, meraih kebesaran tanpa diiringi tanggung jawab, maka kebesaran itu akan memangsanya dan memutar kaset rekaman sebelumnya.

Seyogyanya, sifat lemah lembut, kasih sayang dan pengayom menjadi inspirasi utama setiap insan di muka bumi. Spirit Qur’an dan Sunnah yang menjadikan pengayom dan mampu beradaptasi di segala lini, harus bersemai di jiwa-jiwa manusia. Mencari seorang pengayom di zaman penuh kecamuk dan kegalauan ini bak mencari jarum di dalam lumpur dan pekatnya awan. Seorang sosok yang ditungu-tunggu siapapun demi melerai pertikaian yang ada. Lagi-lagi hanya bisa diperankan oleh orang yang matang dalam beragama dan bernegara. Jika hanya mengandalkan kepintaran, maka hanya akan lahir “preman-preman” yang bernaung di balik jubah agama dan negara.

Semoga bermanfaat!
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *