Menjadi Manusia Baru Pasca Ramadan

Umat Muslim telah usai menunaikan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh, diakhiri dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Rangkaian puasa di siang hari, tarawih dan witir, shalat tahajjud, mengkhatamkan al-Qur’an, i’tikaf dan sahur bersama di masjid menjadi rutinitas harian saat Ramadan. Namun, Idul Fitri bukan sekedar tiket kelulusan sebuah pendidikan, tapi secara psikologis-teologis, ia merupakan momentum mengingat asal kejadian manusia yang taat beribadah dan beragama. Dilanjutkan proses menjadi pribadi yang memanusiakan manusia, yakni saling berbagi kepemilikan duniawi. Manifestasi itu berupa pemberian zakat fitrah kepada fakir miskin.

Nasaruddin Umar menekankan bahwa pembicaraan seputar puasa masih bersifat fisik. Padahal puasa yang efektif adalah yang memuasakan seluruh dimensi, baik lahir maupun batin kepada Allah SWT (MI, 29/6/17). Disini puasa diibaratkan pendidikan tertinggi yang dapat menghilangkan daki-daki dosa dan menghantarkan manusia berhati bestari. Itulah tujuan puasa, “menjadi manusia bertakwa”. Takwa dalam pengertian, penggabungan antara kesalihan spiritual dengan kesalihan sosial.


Secara spiritual, Idul Fitri diartikan sebagai pucuk kemenangan umat Islam. Ia berhasil mengendalikan seluruh aspek lahir-batin dan memerdekakan jiwanya dalam keterkungungan nafsu. Imam Ghazali menyebutnya sebagai sebuah proses tranformasi dari manusia yang diperbudak nafsu menjadi manusia hakiki. Semangat kebertauhidan dan keberimanan yang terjelmakan menjadi manusia baru yang berwajah tampan, berhati lemah lembut, berucap penuh tata krama, bertindak penuh kebijaksanaan, bermuamalah penuh perdamaian dan bermedia sosial penuh moral.

Lahirnya manusia baru itu hanya bisa melalui sebuah pendidikan puasa Ramadan. Pendidikan itu seperti potongan surga yang dihidangkan kepada manusia. Di dalamnya ada kolam yang berair jernih lagi tenang. Saat manusia menjeburkan badannya, tampak jelas siapa dirinya yang sejati. Disediakan pula oleh-Nya batu gosok untuk membersihkan lahir-batin. Betapa sayang dan kasihnya Tuhan kepada hambanya. Meski segudang dosa dan noda kita lakukan, meski seperangkat pengkhianatan kita lakukan. Baik khianat kepada-Nya, kepada manusia lainnya maupun kepada negara. Janji kita sebelum diturunkan ke muka bumi, kita khianati. Tuhan tak bosan-bosan memberikan kasih sayang-Nya kepada hamba-hambanya.

Kepergian Ramadan yang kita tangiskan dan kita lalui semoga membuat kita menggapai ibadah yang mabrur. Mungkin keindahan-keindahan bercengkrama dengan-Nya tidak kita jumpai di bulan-bulan lainnya. Frekuensi bercengkrama yang dipenuhi limpahan rahmat dan ampunan itu akan menjadi kenangan belaka. Dan kita akan kembali melewati gegunungan berbatu cadas nan tandus. Jalan mulus dan suasana asri nan indah semakin sulit ditemukan para salik. Hanya berbekal konsistensi dijalan-Nya, kita akan menjadi manusia bijak bestari.

Banyak manusia yang menginginkan kehidupannya penuh kebahagiaan, tetapi rintangannya enggan dinikmatinya. Sungguh, saat kepayahan terlewati, kebahagiaan akan mengabadi. Sebaliknya, saat kebahagiaan terlewati, penyesalan akan mengabadi. Konsistensi ketaatan saat kepayahan menimpa, terkadang lebih berat dilaksanakan, ketimbang konsistensi di saat kemewahan dan kelayakan hidup menimpa seseorang.

Klik: Surat “Cinta” Untuk Wali Kota Gorontalo


Jalan terjal itu, mau tidak mau, harus kita lalui sebagai abdi Tuhan. Tidak kurang seorang Abu Bakar al-Shidiq mengingatkan pada Umar bin Khattab bahwa jalan kebenaran itu berat namun berakhir nikmat, sedangkan kebatilan itu mudah namun sesungguhnya wabah. Kenangan puasa Ramadan dan bekal setumpuk berupa piranti spiritual (istiqamah) untuk menapaki jalan yang lurus. Jangan sampai kembali menjadi manusia baru tapi berpenampilan buruk penuh angkara murka.

Suatu hari, al-Syilbi ditanya gurunya, Ali Zainal Abidin, “Apakah engkau sempat berjabat tangan dengan Hajar Aswad dan shalat di makam Ibrahim?”. Al-Syilbi menjawab, “Sempat, guru...”. Ali berujar lagi, “Siapa yang telah menyentuh Hajar Aswad dengan tangannya, seolah-olah ia telah berjabat tangan dengan Allah. Maka, ingatlah! Jangan sekali-kali engkau menghancurkan kemuliaan yang telah kau raih itu dan membatalkan kehormatan tersebut dengan rupa-rupa dosa lagi.”

Dengan analogi itu, maka siapa yang telah bergumul dengan puasa Ramadan dan melaksanakan Hari Raya Idul Fitri, maka jangan kau hancurkan dengan rupa-rupa dosa lagi. Para pejalan menuju-Nya mengerti akan hakikat penempuh jalan spiritual untuk selalu dalam kehati-hatian dan penuh kewaspadaan. Ujian selepas Ramadan lebih berat daripada Ramadan itu sendiri. Terbuka lebarnya pintu dan jendela ruang-ruang duaniwi membuat nafsu berhasrat meraih semuanya. Hanya hamba yang istiqamah dijalan-Nya akan memegang prinsip beragama.

Keteguhan-keteguhan memegang piranti spiritual yang didapatkan saat berpuasa, seyogyanya membuat umat Muslim pun bijaksana dalam bernegara. Rancangan Allah agar puasa tidak sekedar bersifat pribadional namun berdimensi sosial, membuat manusia yang keluar dari rahim Ramadan menjadi warga yang selalu berpikir holistik. Jiwa-jiwa yang telah terkoyak menjadikan serimonial maaf memaafkan bukanlah formalitas semata tetapi sebagai wujud merajut kembali cinta, asa dan rasa kebersamaan.

Klik: Penulis Hebat Dari Lemito, ‘Mewarisi’ Pemikiran Para Cendekiawan Muslim


Perjalanan menuju ketakwaan pun akan tergapaikan. Lahir seorang pribadi yang melihat, mendengar, menyimak, menatap dan merekam kebisingan politik yang penuh intrik dan tipu daya, mengarunginya dengan lensa kebatinan agar mampu menahkodai kehidupan pengembaraan penuh pedoman perdamaian dan persahabatan.

Lensa yang jernih setelah dicuci selama puasa Ramadan itu akan dipakai dalam menjadi abdi Tuhan di muka bumi. Keadaban di wilayah publik dan media sosial pun akan wujud. Tampil pula manusia yang “khairu ummah”, yang membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia penuh pandangan visioner dan progresif. Kesatupaduan antara ucapan dan tindakan akan kita lihat di layar-layar kaca televisi. “Mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak katakan” (Qs. Al-Shâf [61]: 2). Tentunya, itu modal penting juga dalam jagat perpolitikan kedepan.

Pasca Ramadan kita berharap semua menjadi manusia baru. Jangan sampai ada lubang yang kembali menganga teramat dalam dengan bara yang menjilat-jilat dada. Jangan sampai nurani memberontak kembali karena kesepian asupan. Susah-susah penyakit eksistensial (existensial illnes) kita obati, tapi karena tak dirawat, akhirnya kembali menjadi manusia yang ‘asing’ dan parahnya menjadi kehilangan “sense of community” dalam bermasyarakat. Perawatan harus bersifat istiqamah, agar “spiritual space” terisi penuh terus.

Mentauladani Rasulullah di hari raya Idul Fitri ini dengan menjadi duta-duta rahmat semesta. Kala itu, Rasulullah mampu mewujudkan “humanisasi spiritualitas” untuk masyarakat berkeadaban. Menjadikan moral-etik sebagai kunci untuk mengikis masalah bipolaritas spiritual-material. Itu menjadi kunci kita di Indonesia untuk mewujudkan masyarakat berkeadilan, kesederajatan terterapkan dan beragama yang inklusif-progresif.

***


Melengkapi tulisan di atas, beberapa tulisan terkait selama bulan Puasa Ramadan di Website Read.ID dan Habari.ID, di antaranya yaitu:

  1. Sepotong Taman Surga

  2. Ramadan dan Tradisi Koko'o

  3. Puasa dan Kegorontaloan Kita

  4. Puasa Kaum Milenial

  5. Ramadan: Antara Tumbilotohe dan Lailatul Qadar

  6. Mewujudkan Peradaban Profetik

  7. Ulang Tahun dan Hakikat Hidup

  8. Ramadan untuk Perdamaian

  9. Bulan Kasih Sayang

  10. Agama Itu Pisau Tajam

  11. Lidah, Tajamnya Melebihi Pisau

  12. Ramadan: Bulan Merengkuh al-Qur’an

  13. Ramadan: Bulan Revitalisasi Moralitas

  14. Puasa dan Spirit (Ber-)Pancasila

  15. Puasa di Era Post Truth

  16. Merayakan Firman Pertama-Nya

  17. Lailatul Qadar: Bukan Tujuan Utama

  18. Literasi Qur’aniyah di Serambi Madinah

  19. Jalan Terjal Puasa Ramadan

  20. Semangat Berpacu Menuju-Nya

  21. Pulanglah, Jika Engkau Mampu!

  22. Duta Rahmat Semesta

  23. Perjalanan Menuju Hulu


Semoga bermanfaat untuk pembaca setia Makmun Rasyid. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *