Mengucapkan Kafir, Why Not?

Nahdlatul Ulama kembali mendapat sorotan dan ‘gempuran’ pasca Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2019 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat. Dari tiga tema, yang paling mendapat sorotan tajam yakni Komisi Bahstul Masail Maudluiyyah yang membahas masalah-masalah tematik, dibandingkan Komisi Bahstul Masail Waqiiyyah dan Qanuniyah. Dibidang maudhluiyyah (tematik), perihal “negara, kewarganegaraan dan hukum negara” ini mampu menimbun gempuran ke NU tentang Islam Nusantara. Tentunya dipicu oleh ungkapan Dr. Abdul Moqsith Ghozali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU (28/2) bahwa “kata kafir menyakiti sebagian kelompok non-Muslim”. Disamping itu pula, para pembahas menyepakati tidak menggunakan kata kafir dan menggantinya dengan istilah muwathin (warga negara). Dan kesepakatan itu diperkut dengan tulisan Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI NU Australia-New Zealand yang berjudul “Kenapa Gagal Paham Munas NU?” di Jawa Pos (4/3/19).

Penulis tidak dalam posisi mengkritisi para pembahas yang sudah dianggap oleh kawan-kawan NU: “tak diragukan kredibilitasnya”. Maksudnya, mereka-mereka para kiai yang ahli dan pakar untuk membahas tema itu. Penulis ingin keluar dari jeratan itu dan menjelaskan apa adanya, dari segi perspektif Qur’an.

Al-Qur’an, di antara sebutan untukknya, dikenal sebagai hudan. Merujuk kepada, Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa(Qs. Al-Baqarah [2]: 2 dan 185). Spirit ini penting untuk dikemukakan agar setiap pembahasan terkait dengan Qur’an yang diperuntukkan kepada masyarakat awam (sebab ada juga masyarakat ijabah) tidak membuatnya bingung.

***


Kafir, sebuah kata yang secara literal oleh Al-Raghib al-Asfahani diartikan sebagai “menutupi”. Untuk membedah term ini dalam Qur’an akan dijumpai sebanyak 525 kali. Ayat populer yang sering didengungkan mubaligh dan pen-khutbah terkait makna di atas adalah “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Qs. Ibrahim [14]: 7). Di situ yang dimaksud “mengingkari” adalah menutup-nutupi nikmat dari-Nya. Ayat ini menyasar ke siapa saja tanpa terkecuali, khususnya Muslim. Sesiapa saja yang tidak bersyukur, maka azab-Nya telah menanti kelak hari.

Jika diperluas lagi, ada beberapa jenis penyematan yang cukup penting disajikan disini terkait istilah tersebut.

Pertama, umat terdahulu yang ingkar terhadap ajaran nabi dan rasul. Misalnya yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh, Nabi Hud dan Nabi Shalih, “Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ´Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah. Telah datang rasul-rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian), dan berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya" (Qs. Ibrahim [14]: 9).

Maksudnya, orang-orang yang menentang ajaran dari-Nya atau menolak kerasulan Nabi Muhammad, maka mereka disebut sebagai “orang kafir” dalam pengertian “pengingkaran dalam bentuk penerimaan”.

Kedua, sebutan untuk orang-orang Yahudi yang sadis. Di mana dahulu, mereka ada yang membunuh nabi-nabi utusan Allah. Misalnya, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih” (Qs. Ali Imran [3]: 21). Disini Allah tegas menyebut mereka, sebab perlakuan mereka yang diluar batas kewajaran.

Ketiga, mereka tidak saja membunuh (poin 2), tetapi mereka melanggar janji-Nya. Ingkar janji, begitu istilah kesehari-harian kita. “Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: "Hati kami tertutup". Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka” (Qs. Al-Nisa [4]: 155).

Keempat, mereka yang menolak tawaran risalah Nabi Muhamamd. “Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu” (Qs. Al-Baqarah [2]: 89).

Dari keempat itu, maka kita sedikit bisa menarik kesimpulan untuk melahirkan ciri-ciri orang yang bisa disematkan istilah kafir, sebagaimana yang ada dalam Qur’an dengan pelbagai konteksnya. Yaitu, ingkar terhadap ajaran-Nya (Qs. Al-Baqarah [2]: 34); mengejek utusan-utusan-Nya (Qs. Yunus [10]: 2); menghalangi orang menuju jalan kepada-Nya (Qs. Al-A’raf [7]: 45); membuat kebohongan (Qs. Al-Ankabut [29]: 68); memandang baik apa yang sebenarnya jahat (Qs. Al-An’am [6]: 122).

Jika kita membaca dengan hati dan pikiran yang tenang. Sesuatu yang kaitannya dengan kajian Qur'an, istilah kafir itu sebagai pengukuhan sebab perbedaan pilihan agama dan ketidakmengakuan Rasulillah sebagai nabi, juga ciri-ciri orang kafir yang mungkin juga ciri-ciri itu ada di dalam diri kita(?). Sedangkan dalam konteks negara-bangsa tidak ada perbedaan perlakuan untuk mereka. Bukankah juga, Nabi mengancam kaum Muslim yang membunuh dan menggangu orang di luar Islam?.

Dalam konteks negara, kita kenal pula dalam Piagam Madinah atau Konsensus Penduduk Negeri Madinah, pada pasal 13 sebuah ungkapan, “seorang mukmin tidak boleh membunuh mukmin lain untuk kepentingan orang kafir dan tidak boleh membantu orang kafir untuk melawan orang mukmin”.

Adapun apa-apa yang dinukil dari ragam referensi selain Qur’an, sebagai legitimasi yang diperdebatkan di media sosial adalah kaitannya dalam bab “caci maki” dan konteks “mengolok-ngolok” atau “merendahkan”. Maka walau sekalipun Anda berkata: “Hai non-Muslim” dalam niat merendahkan, maka itu tidak boleh. Di kitab kan banyak, menyebut kata Yahudi, Majusi dll dengan niat dan irama merendahkan maka itu tidak boleh. Dalam istilah ibarahnya, "bila orang itu (yang dipanggil) tidak nyaman”.

Yang diperlukan penjelasan kepada masyarakat adalah bahwa istilah kafir dalam Qur'an itu bukan dalam konteks merendahkan, melainkan pembeda yang diberikan-Nya dengan Muslim. Artinya, kita boleh menyebut kafir dan musyrik, tapi tidak boleh menjadikan istilah itu sebagai bahan ledekan untuk mereka.

Di sisi lain, mengganti istilah itu dengan “non-Muslim” atau “muwathin”, boleh-boleh juga dalam konteks adab dan menampilkan keindahan panggilan seorang Muslim dengan orang yang berbeda agama dengan selainnya. Tapi, penjabaran utuh dan konteks yang mengitari ragam referensi yang menjadi legitimasi kita itu hilang ke publik. Efek negatifnya? Alergi dan phobia terhadap istilah kafir. Sebab, kita bicara bukan dengan orang akademik dan “ngelotok” kitabnya saja, tapi kepada orang awam yang tidak mau membuka rujukan yang kita gunakan. Ini problemnya! Dibutuhkan penyampaian yang baik tanpa menghardik mereka.

Tapi tak bisa kita pungkiri, memang ada sebagian Muslim yang membenci non-Muslim dengan memanggil ragam sebutan. Ini tentunya tidak dibolehkan. Sebab, Qur’an telah memberikan pedoman dalam konteks keduniaan. “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (Qs. Al-Mumtahanh [60]: 8). Ditambah dalam konteks Negara Indonesia, dari dulu sampai sekarang, tidak ada sebutan dan pembedaan antara wilayah Muslim dan wilayah kafir.

Dengan demikian, tidak perlu untuk baper. Dan yang membuat “ruwet” pembahasan ini adalah mereka-mereka yang tidak bisa membedakan kajian konteks ayat Qur’an itu diturunkan, sistem kerja Fikih Siyasah (politik) dan Fikih Dakwah.
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *