Merefresh Kembali Cara Beragama Kita

Ajaran para nabi-nabi hanyalah alegori-alegori dan simbol-simbol semata, maka penganutnya harus menyingkap dan menyeberang sungai-sungai, baik yang indah dan nikmat maupun jalanan yang penuh duri dengan penafsiran metaforis. Agama wahyu semuanya selaras dengan fitrah manusia, semuanya berani menjamin kebahagiaan ukhrawi dan duniawi. Tapi, mampukah manusia meraup itu semua? Tidak. Gentanyangan jiwa-jiwa gersang layaknya pepohonan tanpa ranting di tanah tandus, “keterasingan akal” dan “keterasingan hati” menjadi fenomena mutakhir. Meminjam ungkapan Erich Fromm, psikolog berkebangsaan Jerman, “Manusia hari ini tidak merasakan ketenangan dan lebih banyak mengalami kebingungan. Bekerja dan berusaha, tetapi merasa sia-sia dengan pelbagai aktivitasnya.”

Ketidaktenangan dalam kehidupan itu ditandai dengan eskapis: mengkonsumsi narkotika, terbuai segumpal kertas merah namun menjual harga diri, menerima suapan demi memberikan kebutuhan semu, lebih-lebih dalam beragama yang menerima janji berupa bidadari-bidadari yang molek nan anggun dan tawaran kesejahteraan anak keturunan tapi mengorbankan darah sesama anak bangsa. Pada tahap ini, kita bisa membedakan antara ajaran agama yang luhur dengan prilaku penganut agama. “Alam Ilahi merupakan alam kebaikan, keadilan, kesatuan dan keselarasan. ... setiap eksistensi dalam setiap tingkatan, sesuai dengan keluasan wujudnya, bersentuhan dengan suatu jenis hidayah—dan dengan perumpaan Al-Qur’an lainnya yaitu “wahyu”—... sesuai dengan pandangan dunia ini, kehendak Tuhan serta qadha dan qadar Ilahi, menciptakan alam dalam bentuk sebuah sistem dengan serangkaian hukum-hukum dan aturan-aturan,” ungkap Murtadha Muthahhari.

Ketika cita-cita agama tidak selaras dengan harapan penganutnya, maka manakah yang pantas disalahkan, apakah agamanya yang salah ataukah penganutnya yang tidak bisa menyingkap kebenaran sejati dibalik simbol-simbol yang ditebarkan para nabi-nabi-Nya? Jawabannya: penganutnya. Kerangka berpikir kaum tekstualis dan rigidisme, seakan-akan agama itu batas dan pembatas itu sendiri. Seakan-akan agama hanya berbicara pelarangan, pengaturan semu, penghambat eksploralitas, pendisiplinan yang tak kenal inovasi, pengharaman yang tak kenal akhlak dan pengkafiran yang lepas dari gantungan etika.

Agama Tuhan sesungguhnya memberikan ruang yang indah bagi penganutnya untuk mengembangkan kebebasan, imajinasi dan fantasi yang terbungkus dalam konsensus moral dan bukan berada dalam kotak yang sempit. Tidak ada agama yang tak membutuhkan imajinasi karena imajinasi itu perangkat untuk membaca tanda ketuhanan. Imajinasi itulah yang membayangkan realitas yang ditandai. Doktrin Islam mengajarkan: seseorang dalam ibadahnya “membayangkan” kehadiran Tuhan, sekalipun tak sampai pada tahap pemanifestasian ke dalam wujud yang kongkrit. Semua agama memainkan imajinasi secara sempurna.

Ajaran Kristen memandang ciptaan Tuhan itu bersifat Ilahiyah, disebabkan manusia ada karena ada image Dei (citra Tuhan). Begitu pun Islam, kajian imajinasi selalu dikaitkan dengan prophetic cosciousness. Nabi Isa atau pun Nabi Muhammad kerap menggunakan bahasa imajinasi dalam menyampaikan ajaran agamanya. Kekuatan kreativitas—sebagaimana harapan Muhammad Iqbal—berfungsi sebagai cara untuk “mengubah dunia manusia”. Untuk “mengubah dunia manusia” ke arah yang positif dibutuhkan komunikasi lintas budaya, percampuran budaya mayoritas dan minoritas yang bertujuan untuk membuat sebuah imajinasi bersama dan common culture.

Mendapatkan sebuah imajinasi beragama secara bersama-sama bukan dalam pengertian imajinasi nihilistik dan devaluasi segala nilai. Di satu sisi, tidak semua ruang imajinasi transenden mampu disingkap oleh nalar dan akal pikiran, misalnya adanya larangan dalam Islam akan penggambaran fisik—manifestasi imajinasi—Tuhan dan Nabi Muhammad SAW di manapun tempatnya. Namun kedalaman dalam beragama dapat diraih melalui penalaran yang komprehensif, penggunaan atribut diri secara maksimal dan peleburan secara totalitas.

Tiada cara lain selain merefresh kembali cara bergama kita, mengapa ini penting, dikarenakan munculnya fenomena ketidawarasan dalam beragama akhir-akhir ini. Anak kecil menghujat orang tua, santri kalongan menghujat ulama, akademisi abal-abal menghujat akademisi betulan, fatwa-fatwa ambigu berseliwiran di mana-mana, yang semuanya menggambarkan ketiadaan citra Ilahi dan cahaya hati. Penganut yang beragama dengan baik ia akan memancarkan cahaya dari dirinya. Cahaya itu berasal dari hati. Cahaya di hati itu bagaikan bintang yang berkelap-kelip, menunjukkan sinarnya yang sempurna dan menyoroti kegelapan ruang-ruang di setiap sudur alam semesta. Bayangannya kerap memantulkan sampai dasar sumur. Sinar itu selalu memantik objek sekitarnya untuk meraihnya, lebih kecil lagi ingin selalu dekat dengannya.

Al-Qur’an tegas menyatakan, “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Qs. Al-Hadîd [47]: 4). Sikap kita selalu dalam pengawasannya, “Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (Qs. Al-Nisâ’ [4]: 1). Laku tindak dan gerak-gerik manusia di dunia selalu dicatat oleh “juru tulis”-Nya. Maka tidak ada cara, selain menebarkan kebajikan dan berbicara dengan penuh kesopanan dan diri yang dihiasi oleh kesantunan. Kesantunan beragama bisa dilihat dari cara menghargai agama liyan. Mengakui liyan semata tidak cukup, harus menerima unifikasi yang ada. Oleh karena itu, dalam Islam tidak ada pemisahan antara shalât Al-Syarî’ah dengan shalât Al-Tharîqah.

Abdul Qadir bin Musa bin Abdullah Al-Jailani—yang populer disebut Abdul Qadir Jailani—saat membahas ayat, “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu” (Qs. Al-Baqarah [2]: 238) menginginkan adanya dampak positif dalam kehidupan sehari-hari usai mengerjakan rukun Islam tersebut. Apa yang dimaksud dengan shalât Al-Tharîqah adalah ibadah hati yang termanifestasikan ke dalam seluruh tindakan hidup. Muslim tidak saja dituntut untuk menggerakkan instrumentalnya semata, tetapi pemaknaan akan gerak dalam sembahyang itu.

Saat ini, Indonesia tidak sepi dari keberadaan oknum-oknum yang berjubah buruk. Melanggar beragam hukum konvensional, praktek-praktek kebobrokan pun melanda di tengah masyarakat seiring dengan melemahnya penegakan hukum. Akhirnya, kecemasan dan ketakutan menghantui masyarakat. Mengapa semua ini terjadi? Karena aturan-aturan etis yang bersandarkan pada keimanan tidak memiliki peran yang signifikan. Ditambah dengan hilangnya ‘iffah dalam diri pejabat negara dan penganut agama.

Bukti kita harus merefresh kembali beragama disebabkan upaya distorsi secara sistematis akan eksistensi pluralisme. Pluralisme—belakangan ini—hanya dimakna sebagai pengakuan akan relativisme agama dan semua agama sama, padahal pluralisme sudah menjadi bagian dari konsep fundamental bangsa-negara ini. Pemahaman ini diwarnai oleh pada aspek sameness (kesamaan). Sejatinya, pluralisme yang dibangun oleh Negara Indonesia diatas dasar difference (perbedaan) dan otherness (kebedaan). Konsep ini jauh melampaui postmodern pluralis.

Ketika kita—khususnya umat Islam—tidak bisa keluar dari “citra” dan “identitas” negatif itu membuktikan lagi bahwa kita belum beragama dengan dewasa dan belum merefresh laku tindak pada tahun-tahun sebelumnya. Citra negatif berupa ekstremisme, fundamentalisme dan terorisme yang melekat pada Islam, sungguh mereduksi jati diri Islam itu sendiri. Namun itu tak terelakkan manakala perbuatan itu dilakukan oleh Muslim sendiri. Al-Qur’an tegas memberitakan akan penafian sikap kekerasan karena bertentangan dengan norma-norma Ilahi dan ajaran-ajaran Islam.

Di awal tahun ini, marilah beragama dengan cerdas, bernalar yang baik, berbudi pekerti yang apik, berbudaya yang santun dan berpolitik-bernegara yang dewasa. Tanpanya, kita tidak akan memanen hasil tanaman yang sudah dipupuk bertahun-tahun lamanya. Siangilah padi secara wajar, jangan sampai dalam menyiangi padi, padinya pun ikut tercabut. Dalam diri kita ada citra Tuhan dan imajinasi positif, maka peliharalah sebelum citra positif itu lari. Dan harapannya, jangan sampai Tuhan “membuang muka” pada kita semua diakibatkan ulah tak bermoral dari kita sendiri. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *