Mendaki Batu Cadas

Kondisi zaman yang semakin kompleks, ibarat penyakit komplikasi. Lama sembuhnya, tapi bisa. Begitu pula manusia. Manusia lemah di tengah himpitan kehidupan yang pelik. Perintah agama banyak ternodai oleh hamba yang hatinya mati. Kesempatan semakin sempit, tapi tetap terbuka bagi jiwa-jiwa yang bersih. Jatah usia semakin menipis, tapi Tuhan mampu menggandakan pahala kebajikan seseorang.


Kematian semakin mendekat, tapi ruang beribadah semakin sedikit. Dalih para kritikus kian membabi buta, tak kenal agama dan tak mengerti dosa. Jalan mulus semakin sedikit ditemukan. Pendakian menuju-Nya terjadi kemacetan di mana-mana. Sulit mendapatkan jalan lancar, kecuali di hari sebelum lebaran.

Diri ditempuh dalam jalan yang luas tapi terasa sempit. Kesempitan itu hanyalah perasaan manusia yang penuh kealpaan. Tak ada jalan mulus, selain kemulusan itu diciptakan terlebih dahulu.

"Ingatlah! Untuk sampai ke surga harus melalui gunung-gunung batu cadas nan tandus. Banyak menemui kesulitan, sedangkan untuk sampai ke neraka mudah dan tidak berbelit-belit," ujar Nabi Muhammad Saw. Batas cadas dan duri-duri di mana-mana, itu ujian. Menuju surga-Nya penuh dengan hiasan yang tidak menyenangkan.

Begitu banyak permata telah banyak disembunyikan. Itu semua di simpan oleh-Nya, agar orang bodoh tak melihatnya lalu menyebarkan fitnah keji di mana-mana. Tidak ditampakkan saja, ia sudah memfitnah. Apalagi ditampakkan sebuah rahasia. Tuhan hanya menitipkan permata bagi seseorang yang telah lulus sensor di bulan suci Ramadhan. Hati dan pikirannya bersih seperti cermin.

Mari, kita tinggalkan rumah yang menipu dan kembali ke rumah yang kekal. Mari pergi ke masjid, rayakan kemenangan dan kebahagian. Bagikan sedikit kebahagiaan yang kita miliki kepada orang-orang yang luput dari merasakannya.

"Ilmu adalah pemimpin amal, sedangkan amal adalah pengikutnya," tegas Nabi. Ilmu sebagai pondasi dasar yang diharuskan terlebih dahulu dicari sebelum beribadah. Jangan sampai, kita khusyu' kepada-Nya, luput pada sekitarnya. Bukankah itu perintah-Nya juga?

Batu cadas itu, salah satunya adalah memaafkan sekalipun sulit melupakannya. Seperti seorang mantan yang sulit dilupakan seorang pujangga cinta. Terkadang, pengganti baru dibayangkan pendamping lama.

Maafkan sanak saudara kita sesama iman dan lintas keimanan. Tuhan Maha Pemaaf, tak mungkin hamba-Nya melebihi kesombongan yang hak paten Tuhan. []

Masjid Al-Hikam Depok
25 Juni 2017

Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *