Menafsir Teks; Renungan Atas Puisi Sukmawati


"Suatu saat nanti akan muncul sekelompok kecil dari umatku yang membaca al-Qur'an, namun tidak mendapatkan makna sejatinya. Mereka itu sejelek-jeleknya mahluk"
--HR. Muslim



Beberapa hari kemarin, nitizen dihebohkan Sukmawati, seorang ibu pelantun puisi berjudul "Ibu Indonesia". Peristiwa itu dapat disimpulkan bahwa satu kata mampu melahirkan ribuan wacana baru. Syarat sebuah susunan kalimat dianggap puisi atau syair manakala mengandung unsur al-Jalîl (luhur). Saya tidak akan mengomentari secara panjang lebar, sebab unsur utama disebut syair dan puisi tidak ada. Dalam kajian keislaman, saya bisa mengatakan puisi itu tak bernilai luhur, sebab ditinjau dari asâlîb al-Badî' (sebuah bagian dari ilmu Balâghah yang membahas uslub, terutama atas dasar pertentangan/al-Tadhâd dan pertautan serta keserasian/al-Tawâfuq). Bagian itu melahirkan dua sub-kajian: al-Muhassinâh al-Lafziyyah (keindahan dalam bunyi leksikal) dan al-Muhassinâh al-Ma'nawiyyah (keindahan dalam makna). Tak ada satupun unsur yang melekat dalam puisi itu. Di sinilah, yang membedakan antara puisi dengan teks al-Qur'an.

Dalam Bahasa Arab, sebuah kalimat diciptakan harus mengikuti kaidah Nahwiyyah dan Sharfiyyah. Sekalipun dianggap keluar dari kebiasaan umum, ia tetap terikat dengan kaidah keduanya. Namun al-Qur'an bukan sembarang teks biasa. Sama-sama teks berbahasa Arab, namun kalimat selain al-Qur'an tidak bisa menggunakan kaidah al-Udûl (penyimpangan; penyimpangan dari kaidah umum bahasa atau penggunaan bahasa yang berlaku umum). Al-Qur'an banyak memberikan contoh ragam penyimpangan. Sebab itulah, kaidah Bahasa Arab harus tunduk pada balâghah al-Qur'an. Saya hanya ingin mengatakan, dalam menciptakan sebuah kalimat, tidak sembarang kalimat.

Penciptaan akan sebuah kalimat, harus terukur dan melihat realitas yang berkembang. Itu sebabnya, tak ada yang memprotes sajak-sajak Qur'an sejak Qur'an diturunkan secara bertahap-tahap. Kesalahan dalam membuat kalimat akan melahirkan tafsiran yang salah terhadap teks. Akhirnya, yang timbul adalah ekses negatif. Sesuatu yang tidak bisa dihindari dari pencipta sajak adalah "lebensaeusserung" (ekspresi kehidupan), yang di dalamnya termuat tiga hal: konsep yang mapan, tindakan (yang terjadi setelah teks tercipta) dan "erlebnis" (penghayatan) manusia. Mengapa tidak bisa dihindari? Karena ilmu (yang membicarakan) tentang kemanusiaan lebih menggunakan metode "verstehen" (memahami). Maksudnya, "verstehen" tidak berbicara tentang hubungan kausalitas, melainkan membicarakan makna-makna yang terdapat dalam (sebuah) pengalaman dan struktur simbolis, yang itu diciptakan oleh manusia (termasuk pembuat puisi dan syair).

Dalam kajian Hermeneutika (baca: Evolusi Penafsiran al-Qur'an), teks memiliki dua komponen: struktur gagasan pengarang & aktualisasi gagasan ke dalam struktur bahasa (bahkan pemilihan diksi yang digunakan pengarang). Pemusatan kepada keduanya disebabkan seorang penafsir teks akan melihat kepada pengaruh lingkungan di mana bahasa itu diciptakan, lingkungan sosial historis, sampai apakah teks itu tercipta karena sebagai jawaban atau komentar atas persoalan yang muncul di masyarakat.

Farid Esack dalam Qur'an Hermeneutics, misalnya, mengatakan: the emergence of the Qur'anic text itself as well as the systematic development of Qur'anic doctrine were intrinsically linked to them prevalent sosio-political realities (kemunculan teks Qur'an sendiri, sebagaimana perkembangan sistemik doktrin Qur'an, secara intrinsik berhubungan dengan realitas sosial politik yang lazim). Begitu pula dalam penciptaan selain teks Qur'an. Ia tidak bisa dilepaskan dari konteks sosio-historis yang mengitarinya. Dalam teori Ushul Fiqh-nya (baca: Ushûl Fiqh wa Alâqatuhu bi al-Falsafah al-Islâmiyah) perspektif Ali Jum'ah, ada dikenal dengan nazhariyyah al-Qath'i wa al-Zanni (teori kepastian dan kemungkinan).

Teori ini bisa digunakan dalam mencerna sajak-sajak puisi Sukmawati. Kemungkinan yang bisa muncul adalah menutup masalah yang berkembang dan cukup penting untuk dipadamkan, tetapi ada satu kemungkinan yang tidak diperhitungkan adalah terjadinya ragam wacana yang bermuatan ekses negatif. Ekses negatif semakin berkemungkinan tercipta, sebab adanya ketidakseimbangan dalam murâ'âh al-Nazhîr (memperhatikan pasangan antara dua hal). Qur'an mencontohkan secara indah kaidah ini, misalnya: "????? ?????? ?????? ?????? ?????? ??????" (Matahari dan Bulan beredar menurut perhitungan; dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan. Kedua-dua tunduk kepada-Nya). Contoh ini sangat serasi dan seimbang. Qur'an tidak menggunakan kata "al-Nabât" melainkan kata "al-Najm", yang di dalam kamus Bahasa Arab mempunyai makna "tumbuh-tumbuhan menjala". Pemilihan kata dan diksi, tentunya akan dapat menghiasi kalam dari segi maknanya secara ciamik dan segi bunyinya pun terdengar indah.

Sebagai penulis, sisi positif yang bisa saya dapatkan atas fenomena tersebut adalah banyak belajar dalam menggunakan diksi yang baik; perbandingan yang seimbang; memastikan kata yang diciptakan tidak bertentangan dengan nurani. Kemungkinan dan kepastian pun harus diukur secara baik, agar tidak terjerambab ke dalam lubang kenistaan. Hidup hanya sekali, maka berbuatlah yang baik sebisa dan semampu mungkin. Ditambah kita berada di era di mana masyarakat sedang malas membaca dan budaya sedang tenggelam. Pesan terakhir, jangan robek jala jika tak mampu merajutnya.

Setelah Anda selesai membaca, kembalilah kepada sebuah pesan Nabi paling atas. Bahwa Qur'an saja kelak akan dibaca tapi pembaca tidak mendapatkan makna sejatinya. Padahal Qur'an jelas hakikat dan manfaat diturunkannya, tidak saja petunjuk biasa, melainkan kompas kehidupan. Bagaimana jika kita membaca teks yang sedari awal sudah mengandung ragam kemungkinan salah. Berbahagialah yang mampu menciptakan teks dan diserap pembaca secara positif, ditafsirkan teksnya secara positif pula. Wallâhu a'lam bi al-Shawâb []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *