Memindahkan Maqam Tanpa Izin-Nya

 

“Lebih baik duduk di belakang lalu disuruh ke depan daripada duduk di depan lalu disuruh ke belakang”


—Elnino Mohi


Dunia ini diisi ragam sifat dan dihadirkan pula ragam kejadian, kisah dan fenomena. Entah, berwujud baik atau buruk. Keburukan tidak mungkin dimusnahkan, sebab tanpanya tak akan ada kebaikan. Tuhan memerintahkan kepada manusia untuk memilih dengan kebijaksanaan yang dimilikinya. “Siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka” (Qs. Al-Kahfi [18]: 29).

Ayat ini dihadirkan dengan spirit universal. Maknanya diperuntukkan untuk seluruh kalangan. Orang yang beriman adalah orang yang tidak memindahkan dan menempatkan sesuatu di tempat yang bukan haknya. Dan siapa yang melakukan kesalahan penempatan, maka ia telah berbuat zalim. Dan orang zalim, umumnya diawali oleh kehadiran “kafir” dalam hati dan dirinya. Disinilah memahami sesuatu itu menjadi penting, termasuk memahami kondisi dan ‘maqam’ (posisi) masing-masing.

Begitu banyak kita melihat di media sosial dan dunia di sekeliling kita. Berlomba-lomba memindahkan dan memantaskan diri, yang terkadang itu hanyalah perintah “nafsu” semata. Sebab, kepantasan hanya diperoleh setelah wilayah ikhtiar dilewati dan telah lolos ujian. Tapi, banyak yang ingin instan dan tidak mau ikut ujian, utamanya ujian dari Tuhan di muka bumi ini. Kondisi ini pernah disindir oleh Abah Hasyim Muzadi, “jangan meminta kemudahan tanpa mau menjalani kesulitan yang Tuhan berikan kepada kita. Namun mintalah ketabahan agar mampu menjalankan segala kesulitan yang ada.”

Qoute Elnino ini memiliki makna esoterik. Ia dihadirkan dalam suanana dan keadaan yang tidak stabil, di tengah kondisi masyarakat yang ‘sedang sakit’, dan di tengah kondisi keberagamaan yang ‘tidak asyik’.

Kesadaran akan maqam pada sebab-akibat akan mampu membuat kita proporsional dalam menempatkan tawakal. Disini akan menyadarkan kita sampai pada aspek keduniaan. Dengan mengetahui posisi diri, maka akan menyadarkan kita pada posisi min haitsu yahtasib dan tidak selalu mengejar min haitsu la yahtasib, sebagai pemberian yang sering diberikan kepada orang yang berada pada posisi maqam tajrid dan sesekali kepada orang yang maqam asbab (kausalitas), yang hal itu dikategorikan sebagai bonus dari Tuhan.

Dalam aspek agama pun demikian. Kondisi mutakhir menampilkan sosok-sosok yang bergaya kiai dan professor, padahal dirinya masih santri dan murid. Media sosial diberitakan hal-hal aneh, khususnya di Youtube. Berbekal sedikit, seakan-akan telah menyelami lautan keilmuwan seperti para pembelajar dan penikmat ilmu pengetahuan, yang bertahun-tahun hanya menekuni satu objek. ‘Anak-anak kecil’ yang baru paham satu, dua atau tiga ayat, seperti orang yang telah menghafal Qur’an 30 juz dan kutubus-sittah. Dan ini sebenarnya juga, bukan kesalahan mereka secara mutlak, mereka hadir disebabkan orang-orang yang ahli dibidangnya hanya memuaskan dirinya sendiri dan abai terhadap kondisi sosial-budaya yang berkembang.

“Your desire for isolation, even though God has put you in the world to gain a living, is a hidden passion. And your desire to gain a living in the world, even though God has put you in isolation is a comedown from lofty aspiration”


—Ibnu Athaillah—


Dalam titian para kaum bijak bestari, orang-orang yang menghendaki berpindah tanpa izin-Nya, merupakan orang bodoh. Perpindahan dari semula yang di belakang menjadi ke depan atau sebaliknya, haruslah menggunakan kepekaan diri. Secara adab dan lakon orang-orang luhur, seseorang tidak akan keluar dari ruangannya yang telah semula ditetapkan oleh-Nya bahkan berkeinginan agar Tuhan memerintahkannya.

Lebih dahsyat dari sebuah kedudukan dan perpindahan “dari” dan “ke” yakni tentang ucapan. Tuhan mewajibkan setiap hamba, “mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar” (Qs. al-Nabâ’ [78]: 38). Dalam Tafsir al-Muyassar, ayat ini tidak saja berkenaan dengan “hak memberi syafaat”, tapi “mereka tidak berbicara kecuali bagi orang yang telah diizinkan Allah”. Ayat ini pula, yang hingga wafatnya KH. Hasyim Muzadi dijadikan wiridan dan pembuka dalam setiap pengajiannya, ceramahnya dan kuliah umumnya.

Kepantasan diri memang persoalan serius di negara kita. Dan ini hanya bisa diselesaikan dengan konsep “muhasabah”. Sebuah konsep yang memiliki kekuatan melawan ambisi hawa nafsu. Oleh sebab ini pula, demi mempermudah seorang salik, ia harus membutuhkan seorang mursyid. Mursyid berfungsi sebagai penterjemah pribadinya dan kepantasannya. Seorang mursyid akan mengerti gejolak batin sang salik yang sedang dalam fase muhasabah.

Budaya sadar diri dan sadar kualitas harus digelorakan dan ditradisikan sejak usia belia. Jika kepantasan masih duduk di belakang, maka jangan duduk di depan. Tapi, jika kepantasannya berada di depan, jangan pula kembali ke belakang, kecuali kepentingan yang urgen. Sebab, Tuhan telah menempatkan setiap orang pada posisinya masing-masing, sesuai kualitas dirinya dan penglihatan-Nya. Siapa yang memaksakan, maka Tuhan akan memberikan sementara waktu (tanpa disertai rihdanya), kemudian dia akan mendapatkan hasil yang tidak memuaskan. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *