Memburu Buku di Tengah Ekonomi Pas-Pasan

Tahun 2014, tepat pada semester 5-an, saya sedang menggebu-gebu memburu buku-buku apa saja. Dari pelbagai aspek dan kategorisasi keilmuwan dibeli. Setidaknya, pada saat itu, dalam benakku, bahwa manusia dan utamanya akademisi, harus mampu dan mengerti dasar-dasar keilmuwan yang berkembang. Latar belakang kita, jangan sampai menjadi pembatas atas apa yang sedang bergejolak di sekitar kita. Justru, dikarenakan itulah, motivasiku membara untuk memburu-buru buku-buku yang bagus dan terupdate.

Buku Filsafat, tepatnya Dunia Sophie menjadi santapan utama di antara pelbagai judul buku-buku filsafat yang melekat dalam ingatanku. Dalam pemburuan ku, buku-buku Filsafat sebagai penggugah dan membuat syaraf-syaraf bekerja keras dalam berpikir. Dalam filsafat, kerja radikal menjadi syarat utama dalam menelaah setiap informasi diterima. Kebobrokan literasi, menurut penulis, disebabkan minimnya cara kerja "radikal" (dalam pengertian filsafat) dalam membaca dan menulis. Sebab itu pulalah, banyak buku-buku "lebay" dan sekedar "guyon-guyonan" tak bermutu dijumpai di Gramedia dan toko-toko buku terdekat kita.

Dalam pembukaan kajian filsafat itulah, saya diajarkan metode "common link". Sebuah cara menelusuri referensi hingga ke yang utama dan inti. Dalam penelusuran, seseorang yang tidak matang dasar keilmuannya akan sangat mudah mengambil cara "menjiplak" semata. Ia menemukan referensi yang dijadikan landasan buku pertama yang didapatkannya tanpa membaca secara utuh. Sebab itulah, dalam mengajarkan kepada siapa saja, saya melihat landasan ilmu pengetahuan seseorang, yang fungsinya menjaga "menjiplak" semata. Adapun yang sudah matang dasarnya, metode ini membuat penulis dan pembaca semakin matang cara berpikirnya dan kerangka berpikirnya.

Metode inilah yang membuat saya semakin "menggila" membaca dan membeli buku. Setiap rekreasi ke Gramedia, ada saja buku yang ku beli demi memenuhi birahi membacaku. Sehari, maksimum membaca 300-an halaman, jika tak ada kerjaan yang menguras waktu dan tenaga. Model "menggila" seperti ini, pernah terjadi pada saat menghafal al-Qur'an pada umur 9 tahun. Begitu hasrat memuncak, surah al-Baqarah (surah kedua setelah al-Fatihah) dalam al-Qur'an, saya khatamkan hanya dua kali.

Begitu membara jiwaku dalam memburu buku, menghantarkan diriku menjadi penulis sejak tahun 2014. Dimulai dari buku "Politisasi Agama", "Kemukjizatan Menghafal Al-Qur'an", "HTI: Gagal Paham Khilafah"---sebuah buku yang cukup serius saya tulis dan menggunakan referensi dan literatur utama, "Rasulullah Way Of Life" dan terakhir "The Five Principles of Life". Saat ini sedang menyelesaikan 25 volume buku yang ditulis dari kacamata Qur'ani.

Memburu buku, membaca dan menuliskannya adalah kesatuan yang tak terpisahkan. Penulis, sudah tentu pembaca, sedangkan pembaca belum tentu penulis. Tak ada penulis yang tak pembaca dan tak semua pembaca seorang penulis. Fakta di lapangan mengungkapkan, banyak akademisi yang hanya terlena membaca, sampai-sampai luput menuliskan dan memberikan catatan atas apa yang dipikirkannya. Padahal, tak bisa dipungkiri bahwa catatan atas apa yang kita pikirkan menambah wawasan orang lain jika dipublikasikan ke khalayak luas.

Sahabat Pena Nusantara (SPN) hadir sebagai wadah yang tidak saja mendidik masyarakat Indonesia untuk gemar membaca, tapi juga buruan buku-buku di rumah harus dituliskan sebaik mungkin. Komitmen itu, kemudian dibukukan setiap bulan, misalnya di penerbit Genius Media.

Memburu buku-buku tidak saja menunggu harta finansial yang mapan, dalam keadaan "sekarat" pun seseorang bisa mem-foto copy buku-buku, sebagai cara meminimalisir biaya. Tak ada alasan tak memiliki duit, untuk mendapatkan sebuah buku yang kita senangi. Semoga kita semua menjadi penulis sejati yang terhindar dari plagiasi dan menuliskan sesuatu yang membawa kepada perubahan dunia, membuat orang lain termotivasi dan bangkit dari keterpurukannya. Wallahu a'lam bi al-Shawab []

Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *