Membela Tempat Sajadah Beribadah

Orientalis dan sejarawan Barat, Will Durant dalam Qishshatu Al-Hadhârah (Vol. 13/2013) menyatakan, “…Adab Islami merupakan gabungan antara taklif syariat dan kebahagiaan. Umat Islam adalah sebuah contoh dari lemah lembut, humanis dan toleran…” Pernyataan ini mengafirmasi tulisan Khaerudin––yang berjudul “Islam, Kebangsaan dan Indonesia Masa Depan” (20/12/2016)––terkesan “Negara malah abai terhadap terhadap kiai-kiai yang selama ini mempromosikan Islam yang ramai, toleran dan menghargai keberagaman. Mereka selama ini tak pernah dipanggungkan oleh negara.” Naifnya pemerintah dalam hal ini bisa mengancam masa depan NKRI. Embrionya sudah muncul dengan lahirnya fenomena global fundamentalisme religius. Maka penghargaan terhadap eksistensi kiai-santri dan ulama adalah keniscayaan negara.

Kegelisahan ini pun menerpa anggota Dewan Pertimbangan Presiden, KH. Hasyim Muzadi. Langkah kongkrit yang diambilnya adalah membuat acara “Halaqah Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan Dakwah Aswaja Bela Negara” yang berlangsung dua kali (28-29 September dan 19-20 Oktober 2016) di Pesantren Al-Hikam Depok. Tujuannya untuk menyambungkan wijhah (pandangan keagamaan) dengan ahammiyah wathaniyah (kepentingan negara). Karena dalam rekaman sejarah, hanya ahli al-Sunnah wa al-Jamâ’ah yang terjamin akan menegakkan NKRI. Di satu sisi, negara tidak bisa mengandalkan kepada aliran-aliran transnasional dan kelompok Islamisme yang ada saat ini.

Islam dan Islamisme adalah dua konsep dan gerakan yang berbeda. Basaam Tibi dalam Islamism and Islam (2012) membedakan keduanya. Islamisme itu berkaitan dengan politik, bukan iman. Islamisme bukan semata-mata politik namun politik yang diagamaisasikan. Bukan menjadi solusi dan pelindung negara, melainkan menghadapkan agama kepada negara. Seharusnya, agama (bisa) menjadi kekuatan negara bukan masalah negara. Namun, tugas negara adalah melindungi agama dan jangan menelantarkan agama beserta perangkatnya, termasuk kiai-santi dan ulama.

 

Bela Negara dan Hari NKRI

Kekuatan ikrar––Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928––menjadi embrio berdirinya NKRI, yang kemudian merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Lahirnya NKRI melalui caranya sendiri dengan proses yang panjang, bukan mendadak. Untuk itulah warga negara melalui pasal 27 ayat 3 UUD 1945 mengajak semua warga Indonesia untuk membela negara. Kondisi Indonesia yang sedang ‘tidak stabil’ disebabkan konstelasi geografis Indonesia yang berada di persilangan dua benua dan dua samudera. Bentuk ancaman yang datang pun multidimensional, baik ancaman militer, ancaman non-militer dan ancaman hibrida.

Maka konsep Bela Negara sejatinya selaras dengan konsep Islam moderat. Ketidakmengertian tentang Bela Negara disebabkan upaya sistematisasi penenggelaman bukti sejarah peran kiai-santri dan ulama dalam bacaan generasi muda saat ini, seolah-olah dahulu tidak ada peran pesantren, kiai-santri dan ulama dalam mewujudkan eksistensi NKRI. NKRI merdeka karena darah para ulama dan ulama-ulama pesantren.

Membela dan menjaga NKRI hukumnya wajib. Muslim yang baik adalah Muslim yang taat pada aturan negara, dan negara yang baik adalah negara yang menghargai darahnya para suhada, ulama dan kiai-santri. Mengapa Muslim wajib membela negara? Meminjam istilah KH. Raden Azaim Ibrahim bin KH. As’ad Syamsul Arifin bahwa membela tanah air layaknya membela sajadah tempat beribadah. Bagaimana mungkin beribadah akan tenang jika tanah airnya tidak aman dan seterusnya. Sebab inilah kemudian KH. As’ad Syamsul Arifin mengeluarkan pernyataan, “Ketika berperang, jangan hanya berniat untuk membela negara. Tetapi bagaimana, bisa menegakkan agama, seandainya mati maka tertulis sebagai mati syahid.”

Tidak ada cara lain selain negara ini kembali ke khittah Indonesia 1945. Di tengah sibuknya para ulama moderat menahan ancaman yang datang––setelah pintu-pintu Indonesia dibuka dan masuknya orang-orang yang berkepentingan––negara “tampak” naif terhadap peran kiai-santri dan ulama. Namun, dalam kondisi seperti ini, umat Muslim tidak boleh puas terhadap apa yang sudah dicapainya. Sebagai generasi muda yang tumbuh di kalangan Nahdliyyin, maka pernyataan KH. Zaini Mun’im pun menjadi doktrin abadi. “Haram hukumnya jika umat Islam di Indonesia merasa sudah final dan cukup dengan keadaan saat ini, karena perjuangan belum selesai, praktek menjalankan syariat belum usai, perjuangan harus terus dilakukan.”

Syariat Islam yang dimaksud bukanlah Negara Islam, sebagaimana yang diimpi-impikan oleh kelompok transnasional. Oleh karena itu, perayaan Hari NKRI 27 Desember tidak sekedar perayaan semu, melainkan sebagai renungan mendalam akan arti perjuangan dalam menjaga NKRI dari “cengkaraman harimau”. Setidaknya ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh pemerintah maupun warga Negara Indonesia.

Pertama, mendukung negara dan negara melindungi umat beragama. Kedua, NU dan Muhammadiyah––sebagai ormas yang lahir dari rahim pertiwi––harus hadir ketika Indonesia sedang mengalami “bencana” dan sedang dikoyak-koyak pihak asing. Ketiga, menertibkan ormas-ormas atau kelompok-kelompok yang bertentangan dengan ruh Pancasila dan UUD 1945. Keempat, dalam mem-booming-kan konsep Bela Negara yang sedang dilakukan oleh Kementerian Pertahanan harus melibatkan pesantren-pesantren. Dan kelima, pesantren-pesantren yang moderat harus didukung dan diajak terlibat mengurusi kemerosotan moral generasi muda dan sedikit demi sedikit mampu menenggelamkan kelompok-kelompok anti-Pancasila.

Ernest Renan pernah mengatakan “suatu bangsa adalah keinginan untuk hidup bersama dan kesepakatan untuk berkorban.” Maka jangan sampai, kemerdekaan yang sudah kita gapai adalah kemerdekaan semu, yang diharapkan adalah “kemerdekaan emas yang diseberangnya akan diwujudkan masyarakat adil dan makmur,” ujar Bung Karno. Cintailah Indonesia sebagaimana Anda mencintai dirimu sendiri dan agamamu. Negara dan agama sama-sama harus kita jaga dan bela. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *