Membangun Spirit Beragama

Muslim dan Islam, dua hal yang berbeda. Islam sebagai way of life memuat ragam peraturan, mengikat penganutnya untuk konsisten melakukan ritual-ritual dengan semurni-murninya dan berusaha memahami ragam teks yang menempel padanya. Muslim (penganut ajaran Islam) dituntut menjalankan pilihan agamanya dengan penuh konsekuensi, meliputi pertanggungjawaban. Tahap ini, Muslim banyak yang gagal. Kegagalan pertama berawal dari pemahaman bahwa simbol Muslim yang menempel padanya hanya terbatas pada penghafalan doktrin-doktrin dan syair-syair klasik namun abai memahami, merenungkan, dan mengontekstualisasikan isi teks yang dihafal.

Dalam khazanah intelektual Muslim, di zaman klasik, terdapat anggapan bahwa orang cerdik adalah mereka yang memiliki banyak hafalan. Sebaliknya, orang yang tidak cerdik adalah mereka yang tak pantas mendapatkan sematan istilah itu. Sampai lahir seorang Muslim dari Spanyol pada tahun 1198, yang bernama Ibn Rusyd dengan tesisnya (dalam kasus ilmu fikih) yang menyatakan bahwa seorang ahli fikih bukanlah orang yang sekadar menghafal teks-teks dan produk-produk fikih, melainkan mereka yang mampu menganalisis secara baik, rasional, dan solutif.

Tesis itu pun dianalogikannya dengan pemilik toko sepatu yang menjual ragam model namun tidak bisa memenuhi request konsumen. Pemilik dan penjual sepatu bukanlah ahli sepatu. Mengapa? Ahli sepatu hanya disematkan kepada mereka yang adaftif dan selalu menawarkan problem solving terhadap konsumen. Jika konsumen meminta A namun tidak ada di toko, ia bisa memenuhinya. Artinya, ia bisa memberi kepuasan kepada pembeli. Begitu pula ahli fikih dan ahli-ahli lainnya, hanya mereka yang mampu menawarkan konsep sebagai hasil penggalian teks dan menawarkan solusi hasil pembacaan mendalam, itulah sejatinya seorang ahli.

Salah seorang cendekiawan Indonesia, HOS Tjokroaminoto, menguatkan tesis di atas, sekaligus mengkritik pergumulan-pergumulan doktrin yang dilempar dari ragam penjuru tanpa hakikat. Dalam kasus “hijrah kebangsaan”, ia mensyaratkan tiga aspek; semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu, dan secerdas-secerdas siasat. Maknanya, perjumpaan seseorang dengan doktrin yang dianutnya, harus berangkat dari tauhid yang lurus, mengolahnya dengan canggih, dan menyajikannya dengan penuh kebijaksanaan.

Kegagalan kedua disebabkan Muslim terlibat dari pendoktrinan kepada masyarakat bahwa segala sesuatu “harus kembali kepada Alquran”—dengan pemaknaan yang berbeda. Doktrin ini menyimpan spirit kegagalan pertama. Tak heran, jika kita mudah menemui seseorang beragama di abad modern yang penuh kompleksitas masalah dengan sekumpulan pernyataan, “kita hanya bisa berjaya... jika kembali kepada Alquran dan Hadis” dan pelengkap slogan lainnya. Pengembalian itu ditambah tuntutan menghafal teks-teks sebagai penguat bahwa dirinya paham Islam dan kehadirannya betul-betul ahli di bidang kajian Islam. Sisa-sisa ruang lainnya, tampil para manusia yang menganggap ahli dalam kajian Islam, namun cara membangun pola beragama yang salah.

Sekumpulan teks yang bersifat terbatas dan peristiwa yang melampaui sekat ruang dan waktu, sudah seharusnya seorang Muslim tidak mengampanyekan slogan “kembali” tetapi “berangkat” dari Alquran dan Hadis. Spirit ini akan membentuk pribadi-pribadi Muslim yang tangguh dan adaftif dalam beragama. Sekumpulan ijtihad dan penganalogian dalam Islam akan selesai pada masing-masing masanya. Akan tetapi, bangunan dasarnya, bisa dijadikan dasar kesimpulan-kesimpulan lainnya.
Spirit “berangkat” akan melahirkan seorang Muslim yang tidak kaku dalam beragama tetapi tidak lentur sesuka hati. Setiap olahannya ia cantolkan dibangun di atas fondasi tauhid yang murni. Ia mampu mencapai setinggi-tinggi ilmu, yaitu dengan membawa Islam penuh kelembutan, kedamaian, dan kerahmatan. Dasar spirit utama dalam doktrin “berangkat dari Alquran dan Hadis” adalah “tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam” (Qs. al-Anbiyâ [21]: 107).

Maksudnya, jika jantung Alquran adalah kelembutan maka spirit membawa agamanya adalah kerahmatan. Hal itu dikarenakan bahwa hanya dengan spirit tersebut, seseorang tidak hanya menumpuk teks-teks klasik dalam kepalanya, tetapi memaknainya dan menghayatinya dengan penuh kebijaksanaan. Sebab syarat spirit itu adalah segala hal yang menjadi doktrin dalam Islam harus tembus kepada bidang-bidang muamalah dan tata sosial lainnya. Akhirnya, internalisasi agama kepada negara pun hadir. Demikianlah yang dimaksud “titik kovergen” dari sila pertama Pancasila; fondasi keberislaman yang emanatif.

Kekakuan bergama pun akan hilang, namun tidak pula memudahkan segala sesuatu, yang terminologi itu disebut “tasyahhuli” (liberal), yang menghalalkan segala cara untuk kepuasaan dirinya dengan menjadikan agama sebagai jubah dirinya. Dengan demikian Islam sebagai agama dan Muslim sebagai pembawanya berjumpa, memiliki watak dan karakter yang sama. Islam menjadikan kelembutan sebagai jantungnya dan Muslim pun lembut menyapa orang-orang yang berbeda dengannya, santun dalam berinteraksi, damai dalam bersosial, dan bijak dalam memutuskan perkara.

Harapan beragama dengan spirit luhur di atas bertolak belakang dengan kondisi beragama belakangan ini. Seperti buku yang cover-nya telah lecek, rusak, dan tak menarik, sekalipun isinya adalah kata-kata mutiara. Memang, seseorang tidak boleh menghakimi cover, tetapi menafikan penampilan cover sama tidak bolehnya. Begitu pula Islam, ia tidak akan lentur kemuliaannya sekalipun tak ada satu pun yang menganutnya. Akan tetapi, seseorang yang salah dan kasar dalam membawa ajaran Islam, maka ia akan kehilangan simpati. Orang tidak tertarik dengan sajiannya. Layaknya penjual obat batuk, namun penjualnya batuk terus-menerus.

Spirit bergama dengan berangkat dari Alquran dan Hadis di atas, setidaknya akan mengubah wajah-wajah buruk dan kasar, yakni wajah yang di situ perbedaan tidak melahirkan kerahmatan, tetapi malah keributan. Dengan kata lain, wajah tersebut adalah wajah yang menampilkan perbedaan yang tidak dikelola dengan spirit beragama yang benar. Siapa yang bukan kelompoknya, berarti salah. Siapa yang bukan pengikut pujaannya, pasti tidak benar, dan lain sebagainya. Ini sikap bergama dan bernegara yang tidak benar.

Sudah seharusnya, seorang Muslim membangun spirit beragama yang benar, yang berangkat dari Alquran dan Hadis yang penuh kesantunan dan kesejukan. Perbedaan ada di mana-mana yang hal itu merupakan keniscayaan yang diciptakan-Nya. Pendidikan beragama dengan spirit di atas, akan membuat seseorang tidak menjadikan hafalan-hafalannya sebagai justifikasi gerakannya dan menjadikan itu sebagai pukulan untuk orang yang berbeda. Sederhananya, tidak menjadikan apa-apa yang dihafalkan sebagai alat pukul karena tidak sependapat dengan apa yang dipikirkan dan diyakini. Semoga bermanfaat!

*Telah diterbitkan oleh http://bertukarpikiran.net (13 September, 2018; pukul 07:23)
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *