Memaknai Kembali Semangat Jihad Kita


“Jihad hanya ada di jalan Allah, sehingga bagaimana mungkin orang dapat berjihad di jalan Allah jika dia belum mengenal Allah. Tidak hanya itu, jihad di jalan Allah itu harus dengan harta dan jiwa”


––Syaikh Syarif M. Tasdiq



 

 Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin (BEMFU), Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta mengadakan Seminar Umum dengan tema: Jihad Perspektif Mufassir Indonesia. Menghadirkan pembicara, Prof. Dr. Nasaruddin Umar dengan kerangka teologis sufistik, Prof. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin dengan kerangka Hermeneutika dan Dr. Islah Gusmian dengan Tafsir Raya Nusantara-nya. Jika menggunakan collective approach maka disimpulkan: tidak ada dasar yang kuat bagi seseorang untuk berlaku tak arif di muka bumi ini, termasuk jihad yang mengakibatkan kerusakan materi dan fisik lainnya.

Jihad adalah salah satu konsep dalam Islam yang masih eksis hingga saat ini, meskipun telah mengalami pelbagai macam pemaknaan dan reduksi dari subtansi moral ayat jihad dalam Al-Qur’an. Setiap kali Al-Qur’an berbicara tentang jihad, ia tidak lepas dari konteks yang menyertainya, khususnya pesan-pesan ke-Ilahi-an yang tersirat di dalamnya. Jihad pun semakin menguat dalam jiwa-jiwa pribadi Muslim, manakala jihad “dibumbui” oleh penghargaan dari Tuhan berupa bidadari-bidadari yang cantik nan molek, kebahagiaan abadi dan doktrin “mati syahid”. Lebih jauh lagi, jihad––menurut John L. Esposito dalam Unholy Wars: Terror in the Name of Islam (2002)––“telah membentuk sistem politik Islam”.

Berkali-kali tindakan ammoral yang diwakili oleh kelompok fundamentalis-radikal sebagai bukti kongkrit dari sekian banyak makna jihad yang ada dalam Islam, yang memiliki kesan tendensius-ideologis. Kecenderungan memahami makna teks secara rigid dan tekstual, mengakibatkan kesimpulan yang tidak komprehensif dan holistik. Beragam ayat Jihad sebagai legitimasi gerakannya dan pembenar atas perbuatannya. Bukankah Tuhan, manusia dan alam semesta, sejatinya saling menyapa dalam setiap saat sebagai peneguhan eksistensi ketiganya?. Konsepsi ini menegasikan bahwa tidak ada tempat untuk mengembangkan “teologi kebencian” pada diri setiap manusia. Namun apakah ada orang Islam yang mem-booming-kan “teologi kebencian” tersebut? Ada. Kitab Ma’alim fi Al-Thariq (1964)––dalam edisi Bahasa Indonesia berjudul Petunjuk-Petunjuk dalam Perjalanan––menjadi bukti bahwa Sayyid Qutb memberikan persepsi “yang salah” atas makna jihad itu sendiri. Teologi Kebencian yang diwacanakannya cenderung teosentris dan melepaskan konteks kemanusiaan. Akibatnya, umat Islam lebih introvert dan sering tidak proporsional menempatkan truth claim. Dalam bahasa Prof. Nasaruddin Umar, pemaknaan rigid seperti ini baru berada di level pertama dari rangkaian makna iqra’––berada di level zahir sebuah ayat––dalam Al-Qur’an.

Sahiron Syamsudin mencoba menengahkan konsepsi jihad dalam perspektif Al-Qur’an. Ia mengajukan satu persepsi baru melalui ayat, Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (Qs. Al-Hajj [22]: 39-40. Tidak disebutkan fail dalam redaksi udzina lilladzi yuqatalun––atau di-majhul-kannya fail––mengindikasikan bahwa Tuhan tidak menyukai perang yang berakhir pada kerusakan dimana-mana.

Dari 35 tempat ayat-ayat yang sering dijadikan legitimasi jihad, memberi isyarat kuat bahwa Tuhan memberikan keistimewaan, layaknya ibadah-ibadah lainnya, sampai pada kajiaj Fikih, jihad diberikan bab khusus oleh penulis-penulis kitab. Semuanya pun turun dalam beragam konteks, ia menghampiri manusia sebagai landasan etik dan moral dalam segala aspek kehidupannya, jauh dari kekerasan. Visinya adalah Al-Salam (damai) dan lathaif (kelembutan). Semuanya mempunyai maqsadhu ayat yaitu: jihad yang benar adalah jihad yang mendekatkan Anda pada Tuhan.

Menyetir argumentasi Syaikh Syarif Hidayat Muhammad Tasdiq dalam Sidang Tafsir Qur’an bahwa: “Jihad hanya ada di jalan Tuhan, sehingga bagaimana mungkin orang dapat berjihad di jalan Tuhan jika dia belum mengenal Tuhan. Tidak hanya itu, jihad di jalan Tuhan itu harus dengan harta dan jiwa. Harta didahulukan daripada jiwa, sebagai tengara bahwa harta itu merupakan ikatan yang paling kuat, sehingga jika ikatan yang kuat itu dapat dilepaskan maka jiwa akan menyertainya berjihad. Dengan kata lain, jiwa jiwa masih terikat harta maka tidak mungkin jiwa punya keberanian berjihad.” Oleh sebab itulah, semua ayat dalam Al-Qur’an yang berbicara jihad, terlebih dahulu didahului oleh hijrah. Hijrah memiliki pesan moral yakni: terlepas dari kungkungan kegelapan menuju pembebasan, menaikan derajat spiritualitas pribadi kepada Tuhan, penghayatan yang mendalam terhadap “kalam Ilahi” dan lebih tinggi lagi, segala yang ada di bumi ini adalah menyenangkan. “Sampai-sampai Iblis yang banyak dibenci manusia, dilihat oleh dirinya seperti bukti Maha Kuasa Tuhan,” ujar Nasaruddin Umar.

Kesimpulannya, mengenal Tuhan sebagai pecinta alam semesta, manusia dan penebar kedamaian harus tergambarkan dalam jati diri setiap manusia. Citra Tuhan harus selalu kita sertai ke mana saja kita berada. Pasalnya, tanpa citra Tuhan, manusia kerap melakukan hal-hal negative. Pendekatan berbasis imaniyah seharusnya tidak mendominasi pikiran seseorang, sehingga abai terhadap nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Sulit diterima, jika jihad selalu diasumsikan perang dan tidakan teror yang berlebihan. Jihad ada dalam Al-Qur’an hadir dalam ruang yang nyata dengan tujuan meneguhkan spirit kemanusiaan dan meneguhkan kedamaian, bukan menghantarkan kerusakan bagi alam semesta. Artinya, Tuhan, manusia dan alam semesta adalah energi kabaikan yang saling menguatkan dan saling sapa, dan pada puncak tertingginya dari energi itu adalah Tuhan. Tuhan sebagai sumber kedamaian dan kebahagiaan menjadi spirit dari jihad itu sendiri. Wallahu a’alm bi Al-Shawab []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *