Melintas Batas Menerobos Cakrawala

Islam dan Muslim, dua kata yang berbeda. Islam adalah agama, sedangkan Muslim adalah seseorang yang memilih untuk menganut ajaran Islam. Semua agama samawi—setelah terjadi kontekstualisasi dan disesuaikan dengan situasi dan tempat—memiliki titik kesamaan, yakni perdamaian. Perdamaian tidak akan wujud, ketika ajaran “welas asih” atau “kasih sayang” belum menjadi prioritas pembawa agama dalam membawa dan menyebarkan agamanya.

Konsep itu juga, tidak akan bersemanyam dalam sanubari seseorang, sebelum mampu menikmati dan menyerap konsep “rahmat” Tuhan dalam Al-Qur’an (untuk orang Islam), Injil (untuk orang Kristen dan Katolik). Konsep “kasih sayang” dan aktualisasi nilai-nilai “rahmat” adalah salah satu bentuk universalitas ajaran Islam. Hanya dengan itulah, kita mampu mewujudkan konsep tertinggi dalam beragama, yakni kelemah-lembutan. Mengapa? karena jantung Al-Qur’an adalah kelemah-lembutan (Qs. Al-Kahfi [18]: 19).

Gagasan-gagasan itulah yang menginspirasi saya berdakwah pada umat Kristiani dan Katolik di Ende, Nusa Tenggara Timur. Pada tanggal 25 Mei 2015, saya ditugaskan oleh kampus Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al-Hikam Depok, Jawa Barat dan Kementerian Agama Republik Republik Indonesia, mengabdikan diri pada masyarakat Ende, sampai 25 Mei 2016. Alhamdulillah, tidak ada gesekan apa pun, selama menyebarkan ajaran Islam. Dan, nilai-nilai toleransi saya temukan di Pondok Pesantren Walisanga Ende, NTT.

Satu-satunya Pondok Pesantren yang bekerjasama dengan non-Muslim, tidak saja dalam hal wacana dan gagasan, tetapi aktivitas-aktivitas lainnya, seperti mengajar, membimbing adik-adik berinovasi dan berkreasi mengembangkan potensi diri, dan membentuk karakter diri yang siap dan tangguh menyongsong kehidupan mereka suatu saat nanti. Para rektor (ketua komunitas), Pater, Frater (seorang mahasiswa calon imam, rama, pastor, atau pater) berkecimpung membangun pesantren. Dalam keyakinan, tentunya berbeda, tetapi memiliki visi-misi mencerdaskan manusia, memanusiakan manusia dan merawat rajutan toleransi.

Saya beberapa kali terlibat dalam diskusi bersama petinggi Katolik, dan bahkan saya mengisi materi tentang Al-Qur’an dan Islam di gedung megah mereka (bukan Capella atau Gereja). Dalam foto (terlampir) itu saya, pimpinan Pondok Pesantren Walisanga, suster dan biarawati serta guru yang mengajar di Ponpes Walisanga usai bermusyawarah tentang rancangan pesantren kedepannya bersama Wakil Ketua SSpS Roma. Apa bayangan Anda melihat fenomena ini?, semoga Anda tidak menggunakan pikiran negatif dalam melihatnya. Baiklah!.

 Pondok Pesantren Walisanga

Pondok Pesantren Walisanga Ende didirikan oleh Yayasan Walisanga Ende pada tanggal 12 Juli 1989. Pondok Pesantren Walisanga Ende terletak di jalan Ikan Duyung Kelurahan Rukun Lima Kecamatan Ende Selatan Kabupaten Ende Propinsi Nusa Tenggara Timur, sekitar 2 km dari pusat kota Ende ke arah selatan, dengan menempati lahan seluas 7 Ha.

[caption id="attachment_732" align="aligncenter" width="300"] Lokasi Ponpes Walisanga dari atas gunung[/caption]

Pondok Pesantren Walisanga Ende didirikan di atas lahan milik Yayasan Walisanga Flores Ende, dengan sertifikat dari Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Ende Nomor: 00014. Luas bangunan dan sarana pendukung Pondok Pesantren Walisanga Ende yang telah digunakan sekitar 900 M2  terdiri dari Kantor yayasan, ruang kelas, gedung perpustakaan, gedung perkantoran, kesiswaan, koperasi, masjid dan sarana/fasilitas umum.

Bapak Mahmud EK, dilahirkan di Lamakera, Solor, Kabupaten Flores Timur,19 April 1939. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya, Mahmud yang masih muda belia itu mulai mempertajam cita rasa kemanusiaannya sebagai pengajar bidang studi Agama Islam. Kerja keras, rendah hati, dan disiplin adalah tiga kekuatan yang dimiliki oleh Guru Mahmud. Istri pertamanya bernama Siti Fatimah Nganda, yang mempunyai 7 orang anak. Sedangkan istri keduanya bernama Khadijah Abubakar, yang memiliki 3 orang anak.

[caption id="attachment_733" align="aligncenter" width="300"] (Alm) KH. Eka, Pendiri Ponpes Walisanga Ende[/caption]

‘Melintas batas menerobos prasangka’ adalah ungkapan yang tepat dalam membahasakan idealisme awal para pendiri PonPes Walisanga Ende. Bagi almarhum Mahmud Eka, “agama bukanlah pedang dan tembok pemisah, sebagaimana dikira banyak orang. Semua agama mengajar  para pemeluknya untuk menghormati kebenaran, keadilan, damai, dan lain-lain, yang ujung-ujungnya tertuju kepada ‘kemanusiaan’. ”Menarik bukan?.

Saya, awalnya heran? tetapi rasa heran itu lambat-laun sirna, beriringan dengan akivitas saya, baik sebagai pengajar 5 mata pelajaran (Bahasa Arab, Akidah Akhlak, Fikih, Al-Qur’an-Hadis dan SKI) di sekolah MTs Walisanga, maupun pengurus (pendamping, pembantu) yang selalu terlibat dalam segala kegiatan yang diselenggarakan oleh Ponpes.

Akhirnya, saya hanya merasakan, bahwa Al-Qur’an adalah kitab toleransi. Al-Qur’an bisa menjadi kitab toleransi, tergantung siapa yang membawa Al-Qur’an itu. Keterlibatan dan seringnya berdiskusi dengan komunitas Serikat Sabda Allah (SVD) Ende, membuat saya mempelajari konsep kemanusian yang mereka jalankan kepada siapapun. Hal ini bertautan dengan pernyataan Allah dalam Al-Qur’an.

Islam sebagai agama dan Nabi Muhammad sebagai pembawa agama, sama-sama hadir untuk membawa kedamaian, kelembutan dan kebaikan tertinggi. Manusia yang beragama, tetapi tidak sampai pada tingkat kemanusia tertinggi, maka dia adalah pendusta agama (Qs. Al-Ma’un [107]: 1-3). Kebaikan tertinggi itu adalah polarisasi kebergamaan yang seimbang, antara vertikal dan horizontal.Karenanya, masuklah ke dalam Islam secara totalitas (Qs. Al-Baqarah [2]: 208). Tetapi, yang dimaksud dengan kata “kaffah” adalah kesempurnaan syariat Islam dan ajaran Nabi Muhammad SAW, bukan sebagai dalil justifikasi mendirikan “Negara Islam”.

Islam adalah agama kasih sayang dan penuh kemulian (Qs. Al-Taubah [9]: 128; Qs. Al-Hujurat [49]: 10), maka kewajiban umat Muslim untuk mengedapankan kasih sayang dalam beragama. Islam juga agama moral dan hukum (Qs. Al-Nisa’ [4]: 36 dan 105), maka kewajiban Muslim harus memiliki akhlak dan menjadi bijaksana dalam beragama.

Kedewasaan beragama seseorang belum teruji, jika belum berkecimpung dan bergelut serta merasakan berdakwah di jantung non-Muslim. Tantangan yang didapatkan, melebihi tantangan, seperti konflik internal umat Islam yang terjadi saat ini. Semuanya, tergantung pada faktor kedewasaan dalam membawa agama, menyakini dan mengaktualisasikan ajaran agama, mengimplementasikannya secara komprehensif, holistik dan totalitas. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *