Melihat Cinta-Kasih Tuhan di Ende


"If i know only my God, my religion, my culture, my self, then my knowledge is inadequate" atau "Jika saya hanya mengetahui tentang Allahku, agamaku, kebudayaan dan diriku, maka sesungguhnya pengetahuanku itu tidak cukup."


——Raymond Panikkar



Dalam keberagamaan kita, ada satu pertanyaan penting yang menuntut sebuah jawaban. "Apakah agama-agama wahyu bisa menerima kultur yang merupakan hasil cipta, karsa dan rasa manusia?." Namun, sebelum menjawab pertanyaan ini, Anda terlebih dahulu membaca Sebuah Rumah Tanpa Pintu, karena artikel ini kelanjutan dari sebelumnya.

Setiap dari kita memiliki pengetahuan (knowledge), namun kemurnian pengetahuan erat kaitannya dengan subyek yang memiliki pengetahuan (the knower) bahkan proses sampai pada pengetahuan sejati itu (the proses of coming to know). Asal konflik itu terjadi, pertama: ketika pengetahuan itu mulai di adaptasikan kepada manusia. Kedua, ketakutan (eksistensi) yang menyebabkan munculnya kemarahan. Ketakutan adalah dasar dari kemarahan dan kemarahan adalah respon dari perasaan takut, sebagai usaha psikologis untuk mengimbanginya.

Kedua asumsi itu saya temukan, tatkala mengalami dan menghayati bahasa Sang Pencipta (Al-Qur'an)—sebagai kitab toleransi, cinta dan kasih Tuhan di Ende, NTT selama satu tahun lamanya. Embrio intoleransi terjadi—pada umumnya di Indonesia—berawal dari salah membawa pengetahuan, menyimpulkan dan mengaktualisasikannya. Kemudian takut kehilangan eksistensinya, mencoba menggangu eksistensi orang lain. Mengapa? karena semua konflik—khususnya konfilik antar pribadi—berkenaan dengan penghormatan dan kendali.

Untuk keluar dari suasana intoleransi, maka memahami bahasa Sang Pencipta (Al-Qur'an) sangat penting.
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Tuhan adalah orang yang paling bertakwa" (Qs. Al-Hujurat [49]: 13).

Pertama, saling kenal di antara persamaan dan perbedaan. Persamaan Islam, Yahudi dan Kristen sebagai saudara namun beda ibu, karena ketiga agama itu bermuara pada sikap kepasrahan dan ketundukan kepada Tuhan. Islam dan Kristen masih satu trah dengan Nabi Ibrahim.Kristen lahir dari Nabi Isa dan Islam lahir dari Nabi Muhammad Saw. Keduanya bertemu pada Nabi Ibrahim. Nabi Isa berasal dari keturunan Ishak (putra Nabi Ibrahim) yang kemudian menurunkan Bani Israil. Sementara Nabi Muhammad SAW keturunan Nabi Ismail, saudara se-ayah dengan Nabi Ishak, yang juga menurunkan bangsa Arab.

Perbedaannya, ketiganya memiliki ajaran yang berbeda, keyakinannya dan kepercayaannya pada pembawa ajaran masing-masing. Maka setiap penganut agama, tidak saja harus mengerti, memahami dan menghormati perbedaan, tapi "menerima perbedaan" itu. Umat Muslim di NTT—mayoritas yang saya temukan—sudah sampai tahap menerima. Di dalam konsep menerima, memiliki muatan "lebih mengutamakan kasing sayang" daripada menyoal hal-hal yang bersifat khilafiyah.

Kedua, takwa. Takwa dalam pengertian yang ideal adalah orang yang beragama dan ber-Tuhan tapi sampai pada "kebaikan tertinggi". Kebaikan tertinggi memuat ajaran cinta dan peduli pada aspek sosial. Artinya, ketika sudah menerima perbedaan, maka menciptakan suasana perdamaian itu lebih dipentingkan daripada terus menerus mencari kesalahan orang lain. Biarkan yang sama tetap sama, dan biarkan yang berbeda itu beda. Jangan menyamakan yang berbeda dan membedakan yang sama.

Dengan demikian, maka memahami agama dan keyakinan orang lain sangatlah penting. "They who know only one (his/her own religion or culture, etc) know none" atau "Mereka yang hanya mengetahui agama atau kebudayaannya saja, sebetulnya tak mengetahui apa-apa." Dalam memahami pernyataan Max Muller itu, ada dua asumsi yang bisa dikemukakan, yaitu: dengan berkelana memahami keyakinan orang lain, kita bisa menemukan dasar-dasar yang sama; dan dengan berkelana kita bisa memahami orang lain dengan sungguh-sungguh.

Muslim dan Budaya

Semoga Anda memahami kerangka berpikir saya di atas. Setelah itu kita jawab soal Muslim dan Budaya serta indahnya hubungan Muslim dan non-Muslim di Ende—tempat saya mengabdi (2015-2016).

Dalam kenyataannya, setiap orang tidak sama. Saya terbantukan oleh pembagian yang dilakukan oleh Oktovianus Naif, dosen Universitas Katolik Widya Mandira Kupang dalam buku Wacana Identitas Muslim Pribumi NTT (2015). Pertama, Allah (dan agama) melawan kultur. Kelompok ini menganggap bahwa kebudayaan adalah kreasi manusia, maka harus melepaskannya.

Kedua, Allah (dan agama) berada di dalam centrum kultur. Di dalam inti kultur ada "ide ketuhanan" (unsur religius). Ketiga, Allah (dan agama) berada di atas dan di luar jangkauan kultur. Keempat, Allah (dan agama) berada di atas kultur, namun Allah memakai kultur sebagai wahana untuk berkomunikasi dengan manusia.

Saya akan menunjukkan satu budaya di NTT—yang saya lihat dan ketahui—yang di dalamnya Muslim tidak ragu untuk berperan aktif di dalamnya, yaitu: Polu Pama Pata Bokul. Istilah Polu Pama Pata Bokul—sepengetahuan saya—adalah jika terjadi sebuah peristiwa kematian, maka pihak keluarga dari Muslim dan non-Muslim terlibat aktif. Namun dalam tata cara pelaksanaan (ritual agama) dikembalikan pada masing-masing agama.

Jika umat Muslim yang meninggal, maka non-Muslim berperan aktif, seperti menyediakan tenda, memberi buah-buahan dan menyediakan bangku dan kursi serta lain-lain. Pertanyaannya, bagaimana pendakwah (Muslim) memasukkan ajaran Islam ke dalam sebuah adat itu. Adat yang dikenal di Waingapu itu mewajibkan untuk membawa sarung (jika yang meninggal wanita) dan membawa kain (jika yang meninggal laki-laki). Namun di samping itu, mereka harus membawa kuda, kambing atau babi.

Dalam hukum Islam, mutlak umat Muslim tidak boleh makan daging babi, jika dalam kondisi dan keadaan normal. Bagaimana mengkondisionalkan dengan adat yang salah satunya mengharuskan membawa babi. Memang, para pendakwah tidak bisa merubah sekaligus, ada proses yang berkepanjangan. Yang pada akhirnya dapat disimpulkan begini, "babi bisa diganti dengan hewan lain seperti kuda dan kambing, tapi nilai adatnya tetap disebut babi." Ini luar biasa.

Namun, ada di dalam catatan buku Pater Philipus Tuler, SVD yang berjudul Longing for the house of God, Dwelling in the House of the Ancestors: Local Belief, Christianity and Islam Among the Keo of Central Flores (Mendambakan Rumah Tuhan, Berdiam di Rumah Leluhur: Kepercayaan Asli, Kristen dan Islam di Keo, Flores Tengah) bahwa di Keo terjadi sedikit perbedaan tentang model penyerahan kepala babi kepada mosa daki (pemuka adat).

Di dalam percampuran antara Muslim dan non-Muslim itu, bahwa Muslim sangat lentur dengan adat tanpa harus meninggalkan hukum Islam. Upaya membangun ikatan emosional ini sangat baik, untuk terus merajut nilai-nilai toleransi beragama. Secara ilmiah, para pakar menyikapi fenomena tersebut dengan dua hal. Pertama, relasi distinktif. Mereka tidak bisa menyangkal adanya relasi agama dan budaya, mereka harus terjun di dalamnya. Namun, tetap pada kepercayaan awal, bahwa agama dan budaya berbeda.

Kedua, relasi adaptif dan inkulturatif. Sebagaimana ajaran Walisanga, Muslim pribumi terus menggali dan menghormati local wisdom. Jika ada budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai ke-Islaman, maka ditarik secara perlahan-lahan, tidak hitam-putih. Hukum Islam tidak kaku terus menerus, ia bisa lentur namun tidak kehilangan substansi ajarannya. Dan terkadang juga, akhlak lebih diutamakan daripada hukum fikih.

Begitu sejuk hati saya ikut terlibat dan mengalami serta menghayati Cinta-Kasih Tuhan di Ende, NTT. Ketika kematian Pater Yan Bele, SVD, pada hari Minggu, 01 November 2015, saya memperhatikan suasana penguburannya di perkuburan Syuradikara (Sekolah Katolik). Di mana tampak pula umat Muslimah berjilbab ikut ke penguburan.
Namun, "saya tetap berpegang pada kaidah toleransi, bahwa toleransi bukan justifikasi (tolerance is not justification)." Saat mereka bernyanyi lagu Katolik, saya dalam hati berdoa menggunakan "doa wafat" ala Islam.

Saya akan menutup tulisan ini dengan syair persaudaraan yang sering dilontarkan oleh orang Alor.
"Tarabuku taraloma. Tarakadang tarakemang. Taramiti tominuku. Tatang puna rumai tatang puna" atau "Berbeda pantai dan gunung. Berbeda tempat tinggal. Tetapi satu hati. Bergandeng erat."

Syair persaudaraan itu memiliki maksud, walaupun berbeda-beda, walaupun masing-masing orang itu duduk dan tinggal berjauh-jauh, lain di gunung lain di lembah, mereka datang dan duduk bersama.

Bersatu hati, mesbah untuk tetap bergandengan tangan. Toleransi bisa kita rajut kembali dengan memulainya dari cara pandang kita terhadap agama kita dan agama orang lain. Hidup tidak selamanya hitam-putih layaknya dunia para ilmuwan Fikih. Tapi terkadang hidup itu layaknya hidup para mursyid. Mengubah yang haram perlahan-lahan menjadi halal, dan yang halal ditingkatkan kualitasnya (statusnya).
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *