Melepas Prasangka Buruk


"Eksklusivisme atas nama agama merupakan pemicu yang menghambat kemajuan"


Ibu Panti, PonPes Walisanga Ende



Manusia tidak saja harus jalan-jalan untuk kesehatan tubuh, jiwa dan raganya. Tapi, diwajibkan untuk rekreasi ke form agama lain. Ia harus mempelajari warna-warni yang indah nan bagus dari Tuhan. Semua manusia, masing-masing form agama meyakini bahwa form agama ini lebih hebat daripada form yang lain. Ini wajar, sah dan normal. Namun, jika penganut agama tertentu tidak mampu membawanya dengan baik, konflik dan pikiran negatif pun akan muncul, yang bisa berujung pada perkelahian antar penganut agama.

Namun, saya juga tidak sepakat dengan gagasan Frithjof Schuon—di dalam ajaran Pluralisme di Barat, kajian "titik temu agama-agama" merujuk ke Schuon, biasanya ia menyebut dengan "religio perennis"—yang menafikan adanya truth claim.

Ketika kita melacak pemikiran "eksoteris"-nya, maka akan dapat menghasilkan kesimpulan: di dalam sesuatu agama tidak boleh ada truth claim, karena banyak jalan menuju keselamatan. Gagasan ini di kalangan intelektual Muslim, khususnya pada konsep "esoteris" masih bermasalah. Bahkan, klaim gagasan KTAA (Kesatuan Transenden Agama-Agama) dicetuskan oleh Schuon pun bermasalah, karena sebelum dia menulis buku The Transcendet Unity of Religions (1975), ada sosok seperti Rene Guenon, Coomaraswamy dan lain sebagainya.

Dalam dialog-dialog agama yang diadakan, saya selalu menyampaikan apa adanya. Saya memahami ajaran yang ada di Piagam Madinah adalah mengajarkan "pluralisme sosial" bukan "pluralisme teologis". Jadi, basis pemikiran "pluralisme teologis" yang ada saat ini, sangat rapuh. Lebih-lebih, jika gagasan "pluralisme teologis" disandarkan pada Ibnu Arabi, sangat fatal. Justru, Ibnu Arabi dalam Al-Futuhat Al-Makkiyyah (1972) dan Fusus Al-Hikam (1980) tegas menyatakan bahwa "Islam agama yang sempurna dan agama lain tidak.

Karena itulah, dalam setiap dialog saya tetap memiliki keyakinan penuh, bahwa "Islam yang paling benar". Tapi, sebagai Muslim yang harus bersikap inklusif, hal itu tidak usah dijadikan bumerang dan alat untuk meremehkan kepercayaan orang lain. Pola peremehan akan menjerumuskan kita pada kelompok orang-orang yang beragama tapi dusta. Ia beribadah baik kepada Allah, tapi buruk pola interaksinya antar sesama manusia.

Untuk membuat dialog yang harmonis, maka kita 'meminggirkan' "prasangka buruk". Hal ini agar kita menemukan solusi bersama yang objektif, bukan pseudo conclusion. Saya selama di Ende, NTT selalu membebaskan diri dari prasangka buruk terhadap umat Katolik dan Kristen Protestan. Namun, bukan berarti menghilangkan kewaspadaan.

Umumnya, umat eksternal memiliki kecenderungan untuk menyerang, sedangkan pihak internal memiliki kecenderungan untuk bertikai. Maka, Nabi Muhammad SAW mengajarkan, dalam setiap dialog dan kerjasama lintas agama, kewaspadaan tidak boleh hilang.

Memang kita punya pengalaman pahit bersama umat Kristiani, Nasrani dan Yahudi. Misalnya, Langit Makin Mendung (1968) karya Kipanjikusmin; The Satanic Versen (1989) karya Salman Rusdhi. Buku ini mendapatkan tanggapan serius, Prof. Quraish Shihab menulis tanggapannya, yang tertuang dalam Ayat-Ayat Fitna; Tulisan Wartawati yang berjudul The Prophet Muhammed and Miss World Contestants (2002); Film Submission, film kontroversial karya Theo van Gogh (2004).

Hal-hal ini saja sungguh sangat sulit untuk melupakannya, apalagi peristiwa perang salib dan lain sebagainya. Namun, hal-hal itu bukan berarti memutuskan kerjasama lintas agama, dialog untuk mewujudkan kedamaian, ketenangan dan kesejahteraan. Saya tetap terbuka pada agama lain, tapi tetap memiliki prinsip bahwa "toleransi bukanlah justifikasi".

Maka konsep "melepas prasangka buruk" sangat efektif dalam membangun kerjasama lintas agama. Dan alhamdulillah, selama setahun tidak ada gesekan dengan umat Kristiani sekalipun saya menyampaikan gagasan saya di koran Flores Pos, dan jadi narasumber di mana-mana. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *