Mazhab Menulis Untuk Pemula (1)

Para pakar penulis selalu menjadikan konsep BELAJAR BERBICARA dan BERJALAN menjadi konsep BELAJAR MENULIS. Belajar berbicara lewat hasil tiruan vokal dari sang pelatih, seorang ayah melatih anaknya berbicara dengan beberapa kata-kata pendek dan mudah. Belajar berjalan dengan hasil bantuan sang pelatih, secara perlahan-lahan dilepas, dan anak tersebut pun sesekali tersandung, jatuh dan menangis.

Menulis pun demikian, teori ini mungkin tidak berlaku buat senior-senior yang sudah ahli memainkan pena di atas kertas, dan menggerakkan jari jemari di keyboard laptop, namun mazhab menulis seperti ini menjadi penting untuk penulis pemula.

Dengan mencontoh, dengan meniru, melihat dan memperhatikan apa yang dilakukan orang lain, menjadi senjata memunculkan potensi yang terdapat dalam diri kita.
“Apa yang ada dihadapan kita dan apa yang dibelakang kita, hanyalah hal-hal kecil bila dibandingkan dengan apa yang ada di dalam diri kita,” ujar Oliver Wendell Holmes.

Mengeluarkan apa yang ada dalam diri kita, membutuhkan satu alat bantu, yaitu menulis dengan meniru orang lain.

MENIRU terkesan konyol, bahkan terancam plagiat. Ya, jika tulisan itu untuk orang lain. Pemula, awal-awalnya latihan MENULIS UNTUK DIRI SENDIRI. Hernowo dalam buku Quantum Wiritng [Kaifa Learning, 2015] menuntut kita dengan mengatakan:
“Demikianlah halnya dengan potensi menulis, kita juga—pertama-tama—harus meniru bagaimana orang lain yang sudah lancar menulis melakukan kegiatan menulis. Kita perlu meniru kata-kata yang mereka tulis. Sekali lagi, apabila konsep kita menulis pada saat awal adalah “menulis bagi diri sendiri”, tentulah meniru bukan berarti kita melakukan PLAGIAT. Kita hanya mengeluarkan potensi menulis kita lewat bantuan orang lain, sebagaimana dahulu kita meniru berbicara dan berjalan.”

Kata PLAGIAT memang menakutkan bagi penulis pemula, buanglah keragu-raguan dan ketakutan yang bersemanyam dalam jiwa raga Anda. Musuh terbesar MANUSIA adalah KERAGUAN dan KETAKUTAN yang bersemanyam di dalam dirinya, ungkap William Wrigley, Jr. Ketakutan itulah penghalang utama dalam mengeluarkan dan potensi terbesar dalam diri Anda.

Menulis bagi diri sendiri adalah upaya membangkitkan emosi menulis, mengeluarkan segala kekuatan yang selama ini terpendam. Mazhab ini mengeluarkan kita ke sebuah alam yang kosong, tidak ada satu pun manusia yang memantau alur gerakan tangan. Mazhab ini juga—menurut pakar menulis—membuat seluruh unek-unek yang terpendam bisa keluar dengan sempurna.

Membiarkan potensi diri sendiri tanpa ada upaya mengeluarkannnya adalah pembiaran nikmat Tuhan. Nikmat mana lagi yang Anda dusatakan, ketika nikmat berupa pelbagai potensi diri tidak kita berdayakan kepada hal-hal positif. Dengan menulis, maka potensi yang diberikan Tuhan digunakan dengan baik. Inilah ungkapan syukur Anda, sebagai manusia yang diberikan nikmat Tuhan, berupa tangan, akal, hati dan otak.

Belajar menulislah, dengan menulis. Belajar menulis bukanlah dengan membaca. Menjadi pembaca yang baik, belum menjadi jaminan Anda bisa menulis. Karena BELAJAR MENULIS DENGAN MENULIS, bukan DENGAN MEMBACA. Membaca adalah upaya memperluas wawasan dan menambah data-data, agar isi tulisan Anda menjadi berbobot dan terlihat sempurna. Karena asupan dari buku-buku berbobot, membuat tulisan Anda menjadi berbobot pula.

Langkah-Langkah menulis untuk pemula ala Hernowo, guru senior kami di Sahabat Pena Nusantara adalah: setel alarm 10 menit. Begitu mulai, gerakkan tangan Anda!. Jangan berpikir, mengetik sajalah. Abaikan tata bahasa, ejaan dan tanda baca. Bebaskan diri Anda dari segara peraturan (jurnaslistik, pen). Tidak usah menengok yang sudah ditulis. Teruslah mengetik hingga alarm berbunti. Abaikan hasilnya, rasakan prosesnya.

Kesulitan dan hal-hal salah yang sering dilakukan penulis pemula adalah ketakutan, suka mengedit tulisan yang belum selesai, terlalu memikirkan tata bahasa. Menulis bagi sendiri adalah wadah latihan untuk menjadi penulis high level. Lepaskan semuanya, ambil puplen dan kertas kosong, mulailah menulis tanpa tekanan. Kendala psikologis yang sering muncul dalam diri adalah belum menulis sudah takut, takut dibaca orang lain---baik teman ataupun penulis handal, malu kalau ada teman-teman yang iseng komentar hal-hal “nyeleneh”.

Biarkan semua komentar di sekitar Anda, tetaplah pada pendirian Anda, dan menulislah dengan jiwa raga dan penuh kedamaian. Ketakutan yang bersemanyam mampu menghilangkan kedamaian dalam menulis. Selamat Belajar Menulis Dengan Menulis!
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *