Manusia Mahluk Membaca


“Kebersihan hati, pikiran dan akal dapat menjadikan manusia mampu membaca segala inti fenomena kehidupan dan alam semesta”


——KH Hasyim Muzadi



Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Saw adalah iqra`. Sedemikian pentingnya perintah membaca, sampai terulang dua kali dalam rentetan wahyu pertama (Qs. Al-Alaq [96]: 1 & 3). Perintah membaca disampaikan kepada manusia yang tidak pandai membaca dan menulis sampai akhir hayatnya. Namun, penasaran kita akan sirna, tatkala kata iqra` tidak saja diperuntukkan kepada Nabi Muhammad, melainkan kepada seluruh manusia.

Tidak ada teks kitab suci yang tidak ada diperintahkan untuk membaca, dan tidak ada kitab suci yang tidak ditulis. Urgensitas membaca dan menulis ibarat dua sisi keping mata uang logam, yang tidak bisa dipisahkan.

Dalam kamus Bahasa Arab, kata iqra` memuat beragam arti, meliputi menghimpun, menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri-ciri suatu objek dan lain sebagainya. Luasnya makna perintah membaca dalam Al-Qur`?n menunjukkan keumuman, membaca segala sesuatu yang tertangkap oleh inderawi (iqra’ kulla sy?i’i). Jangkauan kata “baca” sejauh jangkauan mata memandang. Dalam pembacaan tersebut harus dikaitkan dengan “nama Tuhanmu” (wa rabbuka Al-Akram).

Di sini ada asumsi liar, bahwasanya Rasulullah Saw seorang yang buta huruf, tetapi mengapa kita harus melakukan “pemberantasan buta huruf” digalakkan melalui media membaca, khususnya buku. Dalam hal ini, tidak bisanya Rasulullah membaca, memiliki hikmah dan urusan besar di kemudian hari.

Artinya, semua ajaran Rasulullah bukan bacaan hasil pikiran seseorang melainkan apa yang diucapkannya berasal dari Allah Swt. Kita sebagai manusia yang berbeda kapasitasnya dengan Rasulullah, harus membaca apa yang tersurat dan tersirat.

Dengan mengaitkan kepada “nama Tuhanmu”, pembaca akan dimurahkan mendapat tambahan ilmu pengetahuan yang disertai dengan keberkahan. Ilmu yang didapatkan namun tidak ada kandungan berkahnya, ia hanyalah sebatas informasi yang mengendap di kepala, dan belum jatuh ke lubuk hati.

M. Quraish Shihab mengatakan dalam bukunya Lentera Hati bahwa budaya membaca adalah syarat utama guna membangun peradaban. Semakin mantap bacaan semakin tinggi pula peradaban, demikian sebaliknya. Tidak mustahil pada suatu ketika manusia akan didefinisikan sebagai makhluk membaca.

Namun, dunia membaca di era digital kian redup, digitalisasi yang mampu meraup masa membuat idealisme generasi muda sirna. Masyarakat tiap hari mengakses informasi serba instan. Instanisasi kian hari membuat budaya membaca buku versi cetak kian sedikit. Walaupun di satu sisi anggapan ini salah, membaca tidak saja harus bersumber dari buku, artikel, majalah, jurnal, koran versi cetak.

Akan tetapi, kemukjizatan teks tentunya berbeda. Keindahan membaca versi cetak tak akan dikalahkan oleh pelbagai informasi versi online. Era digitalisasi diciptakan untuk mempermuda generasi muda dalam mengakses informasi, namun tidak melupakan esensi dari budaya membaca yang sudah dilakukan para intelektual terdahulu.

“Membaca merupakan tindakan yang lebih intelek daripada menulis”



Kalimat lugas Jorge Luis Borges “membaca merupakan tindakan yang lebih intelek daripada menulis” ini membuat gempar dunia para penulis, mengapa tidak? Faktanya menulis lebih susah dibandingkan membaca. Membaca hanyalah elemen kecil dari dunia kepenulisan. Di satu sisi, ungkapan Borges diatas ada benarnya. Dari membacalah penulis berkembang dan berkembang pesat. Dari membaca kemudian menulis dan kembali membaca. Penulis yang terdikte oleh buku bacaannya, akan mengalami stagnanisasi pemikiran. Pembaca yang ideal adalah yang mampu keluar dari zona bacaannya, ia tidak berpihak kepada siapapun. Keberpihakan penulis pada hasil bacaannya membuat ia terjebak pada konstruksi berpikir penulis.

Sajak-sajak mub?laghah (hiperbola) mampu menghipnotis pembaca yang kehilangan idealisme dirinya. Misalnya, ketika seseorang membaca buku-buku Fazlur Rahman seperti Major Themes of The Qur`?n dan Islam & Modernity – Transformation of An Intellectual Tradition atau buku Philip K. Hitti yang berjudul The History of The Arabs. Pembaca yang terbius oleh pemikiran Philip K. Hitti ini dengan mudah terpesona, ia akan melupakan buku yang lebih penting daripada gagasan-gagasan yang ada di dalamnya, yakni buku Islam and the West: An Historical, Cultural Survey. Bahkan fenomena ini terdapat pada mahasiswa-mahasiwi kampus yang kehilangan idealisme dirinya, misalnya ketika membaca buku KH. Said Aqil Siradj yang berjudul Shilatullah bi Al-Kauni fî Al-Tasawufi Al-Falsafî.

Borges sangat tepat dan bijaksana saat mengungkapkan hal tersebut. Pembaca tidak saja sekedar membaca atau membaca sebagai tuntutan diri untuk yang berprofesi menulis. Tepat sekali ungkapan Franz Magnis Suseno dalam bukunya Dari Mao ke Marcuse – Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin bahwa menyikapi sebuah pemikiran (bahkan bacaan apapun, red) merupakan tuntutan kejujuran maka saya tidak menyembunyikan sikap saya.

Ungkapan ini berasal dari kegelisahannya, tatkala pemuja Marxis terjebak dalam konstruksi berpikir Karl Marx. Seharusnya dalam membaca buku tidak boleh dibaca secara netral, baik dari posisi pengamat tak terlibat. Melainkan harus kritis dan mengambil sikap diri.

Kerja membaca lebih luas dan susah daripada melihat. Imam Suprayogo pernah mengatakan bahwa aktivitas melihat mampu menjadikan seseorang mengetahui sebuah objek, tetapi belum menjami ia mengerti, memahami dan menguasai. Karena di dalam aktivitas membaca ada upaya keingintahuan, mengerti serta memahami secara holistik.
Membaca merupakan alat mendasar, keputusan akan ditentukan baik dan buruknya, oleh kemampuan membaca. Orang yang cerdas akan menuai kesuksesan. Sebaliknya, orang yang tak pandai membaca akan merasakan kegagalan. Keduanya berawal dari melihat dan membaca.

Penulis yang sukses dan tulisannya berbobot ditentukan oleh kualitas bacaannya. Setiap hamparan yang ada di dunia ini adalah kisah dan cerita yang harus dibaca dan ditulis oleh manusia. Tapi kenyataannya, tidak semua orang bisa melakukannya. Membaca diri sendiri saja banyak yang gagal dan ia kehilangan idealismenya serta tidak mengerti siapa dirinya.

Akibat fatal dalam membaca dirinya, ia tidak bisa mengembangkan dirinya. Kebodohan dan ketertinggalan sebuah bangsa dikarenakan oleh lemahnya kemampuan membaca, dan kurangnya budaya membaca di negeri ini. Melihat, membaca dan menulis adalah terkait kebiasaan. Tepat kiranya, bahwa manusia bukanlah produk nenek moyang, tetapi produk kebiasaan sosial dan individu.

Faktor kebiasaan sangatlah berpengaruh pada kualitas dan kuantitas diri seseorang. Bukankah al-Qur’an telah menegur keras manusia yang tidak menggunakan hati, mata dan telinga, mereka lebih sesat daripada hewan (Qs. Al-A’r?f [7]: 179). Karenanya, kemauan membaca dan melatihnya untuk menuliskan dalam sebuah catatan merupakan bagian dari sikap bersyukur hamba kepada Allah Swt. []

*Tulisan ini dimuat dalam buku Quantum Belajar: Membangun Gelora untuk Hidup Bahagia (Malang: Genius Media, 2016), hal 38-41.

[caption id="attachment_746" align="aligncenter" width="263"] Buku ini diresensi oleh Syaiful Rahman[/caption]
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *