Mahasiswa, HP & Jum'atan

Jum'atan oleh sebagian orang, tidak lagi merupakan ibadah wajib. Tidak lagi sebagai shalatnya orang-orang "tidak mampu", pengganti ibadah haji, dimana pahalanya sama. “Shalat Jum’at adalah hajinya orang-orang miskin”. Namun, shalat jum'at dijadikan sebagai komoditas biasa dan sekedar menunaikan formalitas sebagai seorang Muslim. Shalat yang ditunaikan seminggu sekali itu, layaknya shalat dzuhuran yang disela-selanya bisa beraktivitas selain mendengarkan khotib memberikan wejangan ruhaniyah.

Memang, sebagaimana yang saya tulis dalam buku "Rasulullah, Way of Life", di tengah zaman yang penuh huru-hara ini, disadari atau tidak bahwa sekarang ini dunia mengalami kegalauan yang masuk taraf memprihatinkan, baik krisis spiritual maupun "existential illness" (penyakit eksistensial).

Penyakit ini tidak saja berupa "keterasingan akal", sebab mahasiswa umumnya dinobatkan sebagai manusia cerdas yang saban hari terus melahap buku-buku untuk mengisi otaknya, tetapi penyakit eksistensial meliputi "keterasingan hati". Bahkan, penyakit yang tidak segera diobati itu akan merambat kepada "keterasingan dengan Yang Maha Kuasa". Sampai pada tahap ini, banyak manusia kita jumpai, ibadahnya rajin dan zakatnya dilakukan setiap bulan dan tahun, tapi tidak ada perubahan signfikan dalam dirinya. Mengapa? sebab "spiritual space" sudah ditelantarkan. Sebab ini pula, kebenaran dari-Nya sulit diterima. Menuntut setiap objek harus dirasionalisasikan. Sesuatu yang tidak rasional maka bukan kebenaran, termasuk agama.

Izz al-Din bin Abd al-Salam, yang dikenal bergelar "Sultan Para Ulama" pernah memberikan wejangan:

????????????? ???????? ????????? ???? ????????? ?????????? ??? ??????????? ????????????? ?????????? ??????? ???? ????????? ???????? ? ????? ?????????? ??????? ?????????????? ????? ????????? ?????????? ???????????

"Semua tugas yang diberikan Tuhan adalah untuk kepentingan manusia di dunia dan akhirat. Tuhan tidak membutuhkannya. Ketaatan mereka tidak memberi-Nya manfaat apa-apa dan kedurhakaan mereka tidak mengakibatkan kerugian bagi-Nya"

Sindiran ini cukup bagus sebagai bahan muhasabah dan koreksi atas apa yang setiap kita lakukan hanya sekedar menunaikan formalitas belaka. Sudah dan seharusnya, semua manusia menjalankan tugas-tugas dari-Nya dalam rangka meningkatkan kualitas kemanusiaan dan diri pribadi. Di setiap perintahnya menyimpan benih cinta, keindahan dan jalan menuju cahaya-Nya.

Dalam keadaan "tidak bersungguh-sungguh", yang ditandai, misalnya: saat khotib sedang berkhutbah, kita sibuk memainkan HP bermain game dan WA-an, kemudian saat selesai shalat kita menuntut Tuhan dengan perbagai permintaan. Dalam bahasa sederhana, kita menuntut Tuhan memperlakukan baik kepada kita tetapi kita tidak pernah mempraktikkan adab-adab saat menghadap kepada-Nya. Padahal, sebelum khotib naik ke atas mimbar, seseorang (biasa disebut bilal) telah memperingatkan dan menghimbau dengan tegas: ????? ?????? ??????????? ?????? ???????????: (????????) ???????????? ???????? ?????? ???????? (Jika kamu berkata kepada temanmu, “Diamlah” sementara imam sedang berkhutbah di hari jumat, sungguh ia telah berbuat sia-sia). Ditambah lagi dengan, ??? ??? ??? ???? ?? (barangsiapa berbuat sia-sia, maka tidak ada pahala shalat jumat untuknya).

Terlepas dari dosa atau hilangnya dua siklus saat tidak memperhatikan khotib, saya mengambil pelajaran besar dari mendengarkan khotib, yakni: ada pesan berharga berupa menghargai seseorang saat berbicara; mendengarkan petuah-petuah ruhaniyah; mendengarkannya bagian dari adab shalat Jum'at. Sebab, Qur'an memerintahkan untuk menyuruh meninggalkan segala aktivitas saat seruan telah dikumandangkan. Tinggalkan dan sesegara mungkin "mengingat"-Nya. Kata "ila dzikrillah" dalam surah al-Jum'at bisa bermakna dua: mengingat Allah baik dalam setelah bekerja maupun sebelum dan mendengarkan khotib memberikan siraman ruhani.

Dengan demikian, kita menunaikan shalat Jum'at dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Kebahagiaan kita dapatkan dari-Nya dan keburukan kita dapatkan disebabkan terlenanya kita mengambil peran amanah dari-Nya sebaik mungkin. Yuk, lepaskan HP dan segala pernak-pernik yang kita miliki saat sudah berada di masjid. Mendekatkan diri kepada-Nya dengan tulus dan ikhlas. Yakinilah bahwa rejeki tidak akan hilang sebab sudah diatur oleh-Nya, sekalipun kita tidak membalas COD-an saat shalat Jum'at. []

Depok, 15 September 2017
Masjid Al-Hikam Depok, Jawa Barat
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *